Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Cinta. Tampilkan semua postingan

Prince's Spy

Written By Unknown on Sabtu, 09 Maret 2013 | 22.38

Oleh Rosalina (Komunitas Penggores)
Sampoerna Academy Bogor Campus

“Now... Welcome... Dolphin House,”  ucap Mr. Yassa serayak dengan sambutan tepuk tangan meriah oleh seluruh penonton. Kali ini adalah penampilan kedua, akan dibawakan oleh Dolphin House yang sebelumnya adalah Rhino House dengan drama singkat Cinderlelet modernnya. Kalau cerita dongeng yang sering kita dengar adalah Cinderella, putri yang ditinggal mati oleh ayah dan ibunya sehingga harus hidup bersama ibu dan kakak-kakak tirinya yang jahat, Rhino punya Cinderlelet yang cantik jelita tapi kerjanya kaya keong banget. Menyapu lantai 1x1 meter saja memakan waktu satu jam. Gubrakk! Oleh karena itu yang selalu mengerjakan pekerjaan rumah adalah ibu dan kakak-kakak tirinya. Wahh revolusi besar, benar-benar berbanding terbalik 1800 dengan cerita Cinderella zaman dulu. (Kalau gitu kenapa dulu Cinderella gak pura-pura jadi Cinderlelet aja yaaak? Biar gak dijadiin budak terus. Dasar Cinderella gak kreatif)
            Eh, balik lagi ke penampilannya Dolphin. Gue udah dag dig dug aja setelah gue depresi lihat Rhino tampil tadi yang bisa dibilang cukup keren. Iyalah, gimana gak depresi, secara house gue ga ada persiapan apa-apa, cuma rencana mentah dan sekali latihan yang ancur-ancuran. Dan gue, bakal lebih depresi lagi kalau ternyata penampilannya Dolphin juga bakal keren atau bahkan lebih keren. (Pingsan dan gak mau bangun lagi)
            Anyway, mugkin kalian masih terbingung-bingung dengan apa sih maksudnya house-house yang dari tadi gue bilang. Okeh, well kalau kalian pernah tahu cerita Harry Potter, mungkin kalian juga pernah tahu Griffindor, Slytherin, Huflepuff dan Ravenclaw. Itu adalah nama house-house yang ada di asrama Harry Potter. Begitu juga halnya yang ada disekolah gue, bedanya kalo Hogwarts punya empat house, sekolah gue punya 9 house, yaitu Shark, Manta Ray, Dolphin, Rhino, Lion, Komodo, Dove, Eagle dan Hornbill. Dan gue, ternyata adalah seorang eagle yang harus selalu bisa mendapatkan semua yang ia targetkan dan ga ada satu pun yang bisa menghalanginya. Hahaha...
            Dan kali ini kita lagi ada acara Leadership Camp. Ini adalah malam pertama kita ditempat kemahnya, mungkin lebih tepatnya adalah malam pertama dan terakhir karena kemahnya juga cuma dua hari satu malam. Acara malam ini adalah penampilan dari tiap-tiap house dan api unggun.
            Ternyata Dolphin menampilkan drama singkat juga, tapi kali ini bukan Cinderlelet, tapi drama yang bernuansa penduduk Jepang dengan judul Legenda Batu Tapak. Drama ini mengisahkan tentang perguruan bela diri bernama Jempol Suci yang setelah para pendekarnya sakti, salah satu diantaranya meninggalkan perguruan dan mendirikan perguruan baru bernama Jidat Suci.
            Mungkin karena terlalu banyak improvisasi dan respon yang besar dari para penonton, Dolphin tidak dapat melanjutkan dramanya karena kehabisan waktu alias time’s up. Padahal dramanya mereka lucu banget, mungkin karena bawaan sifat sebab anak-anak Dolphin didominasi anak-anak tukang ngelawak.
            Dan penampilan dilanjutkan oleh house-house selanjutnya. Akhirnya sampailah pada giliran house gue. Bagaimana penampilannya? Jangan ditanya. Kalian bisa menyimpulkan sendiri penampilan anak-anak individualis yang gak pernah menang kalau bekerja dalam satu tim. Ya itulah eagle. Mana ada eagle yang terbang bersama-sama, mereka memang individualis. Karena mereka bisa menbuat kenyamanan dengan dirinya sendiri, tanpa orang lain.
            “El, satu nih...” terdengar kata Emil yang membawakan jagung bakar dan langsung membuyarkan lamunan gue yang sedang memikirkan betapa hancurnya penampilan gue tadi.
            “Ohh iya, makasih yah...” gue mengambil jagung itu dengan perasaan tidak bersemangat.
            “El, kita ke tempat api unggun sekarang yuk” Ajak Tiara tiba-tiba. Tiara adalah sahabat gue yang sangat mirip dengan gue. Mungkin dia lebih tepat dibilang kembaran, kenapa? Karena segala sesuatu yang ada di dia pasti ada juga di gue. Pokoknya semuanya sama, contohnya aja, dia baru aja ngajakin gue ke tempat api unggun sekarang karena dia ga terlalu suka keramaian, sama seperti gue. Itu satu contohnya, sisanya banyak banget.
            “Emm, boleh...” tanpa ragu gue pun pergi ke tempat api unggun sama Tiara.
            Sesampainya disana jelas saja tidak ada satu orang pun. Gue dan Tiara duduk berdekatan dan hanya memandang api unggun yang belum menyala.
            “Ra, kayanya feeling gue bener deh...” ucap gue memecahkan keheningan.
            “Feeling yang mana?” jawab Tiara datar.
            “yang tadi gue ceritain di bus”
            “Yang menurut loe nanti diacara api unggun dia bakal duduk disamping loe?”
            “Yoi.”
            “oww, let’s see then”
            Kami pun kembali menatap api yang masih terdiam sambil berusaha menghabiskan jagung kami masing-masing. Gue lihat jagungnya Tiara, sudah tinggal dua baris lagi, pasti dalam waktu dua menit aja dia sudah bisa menghabiskannya, sedangkan gue, masih banyak banget, entah berapa baris lagi. Dan, perut gue sudah bener-bener ga bisa nampung lagi jagungnya, jadi gue hanya memegangnya dan kembali menatap tumpukan-tumpukan kayu yang dalam waktu beberapa menit lagi akan berubah warnanya menjadi hitam legam.
            10 menit kemudian, Mr. Yassa dengan guru-guru dan teman-teman gue mulai berdatangan ketempat api unggun. Termasuk dia, yaa dia. Dia berjalan menuju arah tempat gue duduk dengan gitar kesayangannya. Gitar yang selalu menemaninya dikala dia sedang galau atau kesepian. Gitar yang menghantarkannya ke posisi juara satu lomba gitar akustik klasik. Dan perkenalkan namanya adalah Kenzie.
            Sebagai gadis bermata minus 1.5, gue selalu menyiapkan kacamata kemana pun gue pergi. Gue ga pernah pakai kacamata itu seharian, males banget, kacamata berbingkai warna biru, ukkh norak, udah kaya Betty Lavea aja. Jadi, gue hanya menyimpannya di saku dan gue pakai apabila sewaktu-waktu ada hal yang penting dan harus gue lihat dengan jelas.
            Dan contohnya adalah kali ini, di kejauhan sekitar jarak 5 meter, gue lihat Kenzie berjalan kearah gue. Gue langsung memakai kacamata Betty Lavea gue, dan benar saja dia jalan kearah gue dan sekarang tinggal 2 meter lagi dan yaaa saudara-saudara akhirnya dia pun duduk disamping gue tanpa gue undang. (Gue udah kaya operator pertandingan sepak bola aja saat meneriakkan bola gol, bedanya kali ini dalam hati. Gaje? memang)
            “Elmaaaa, dia duduk disebelah loe” bisik Tiara di sebelah  gue dengan nada yang mengagetkan.
            “Iya Ra, gue tau, biasa aja dong jangan bikin gue skakmat.” Jawab gue khawatir.
            “Hai Ken...” Tiara menyapa Kenzie yang sedang duduk disebelah gue dan sedang membetulkan sesuatu di gitarnya.
            “Ehh, hai Tiara, dari tadi disini?” Jawab Kenzie dengan suara seksinya yang serak-serak gimana gitu.
            “Emm iya, ini dari 30 menit lalu, diajakin Elma.” Tiara membalikkan fakta, jelas-jelas kan dia yang ngajakin gue tadi. Gue langsung membantah.
            “Heh, gue? Enak aja, bukan, Tiara yang ngajakin.” Bantah gue tetapi ternyata suara gue yang keluar sama sekali ga kaya nada membantah. Hah gagal, malu deh.
            Sekejap, ga ada suara lagi, dari gue, Tiara ataupun Kenzie. Dan acara pun dimulai. Beberapa guru seperti Mr.Ben, Mr. Arief, dan Mr. Farrel sudah menyalakan api unggun yang sedari tadi terdiam sunyi.
            “Well, guys, you can enjoy this beautiful night with the bon fire. Kalian bisa nyanyi-nyanyi atau apa pun yang ingin kalian lakukan, yang penting jangan pergi jauh-jauh dari tempat ini, okay?” terdengar suara Ms. Marissa mengintruksikan kegiatan untuk malam ini. Serentak kami semua menjawab “Okay Mis.”
            Setelah itu gue liat ada beberapa temen yang pergi dari bon fire dan mencari teman-teman yang lain hanya untuk sekedar mengobrol. Ada juga yang bermain gitar dan bernyanyi-nyanyi bareng. Tapi gue masih dalam PW gue alias posisi wenak, dengan Tiara dan Kenzie disamping gue, kita bertiga.
            “tadi ngapain duluan kesini Elm?” tanya Kenzie sambil mulai memainkan instrument yang dipegangnnya.
            “ohh, ya pengen aja, kebetulan tadi si Tiara ngajak. Disini tempatnya cocok buat ngegalau Ken, wkwkwk...” jawab gue asal. Perasaan gue udah dag dig dug der dor pas Kenzie melontarkan pertanyaan pertamanya. Huaahh, serasa mau pingsan.
            “Eh Ken, El, gue pergi dulu ya,” kata Tiara nyerobot.
            “Mau kemana?” tanya Kenzie.
            “Sasha n’ Rio dkk nyuruh gue ketempatnya.”
            “ohh oke” kata Kenzie lagi.
            “daadah Elma, have a nice night. Temenin Elma ya Ken.”
            “pasti!” jawab Kenzie tegas.
            Gue cuma bisa senyum aja mendengar perkataan Tiara tadi. Dan Tiara pun berlalu. Sisanya tinggal ada gue sama Kenzie, hah nggk gue mimpi. Gue pukul-pukul pipi gue sampe merah kali tapi tetep aja yang disebelah gue Cuma Kenzie, gue tetep berdua sama dia, tidaaakkk ini ga mimpi.
            “Elm, ngapain pukul-pukul pipi begitu?” tanyanya.
            “hah? Nggk, gue ga nyangka aja sekarang lagi duduk berdua sama loe Kenzie. Gue kira gue lagi mimpi, makanya gue mukul-mukul pipi.” Jawab gue polos.
            “hahaha Elm, ada-ada aja kamu.”
            Yaaa, gue selalu seneng kalo dia lagi ngobrol sama gue, karena dia pasti panggil gue Elm, ga ada satu orang pun yang pernah panggil gue Elm, palingan El, tapi dia? Mungkin itu panggilan sayangnya ke gue. Hahah. Satu lagi dia pasti kalo ngomong sama gue ga pernah pake “gue, loe” pasti “aku, kamu” itulah yang membuat gue suka sama dia, co cweet banget. Padahal sama temen lain dia ngomongnnya “gue, loe” hahah (tawa kemenangan kedua)
            Ditengah pergulatan gue dengan pikiran gue sendiri, gue dengar Kenzie mulai memainkan lagu dengan gitarnya itu.
            “Saat bahagiaku duduk berdua denganmu hanyalah bersamamu. Mungkin aku terlanjur tak sanggup jauh dari dirimu, kuingin engkau selalu tuk jadi milikku...” Kenzie masih tetap menyanyikan lagu yang berjudul Saat Bahagia lagunya Ungu. Selagi dari awal dia nyanyi gue liatin dia dan loe tau? Wajah dia juga menghadap ke gue. Dengan matanya yang mencerminkan kedamaian sejati, gue merasa dia nyanyiin lagu itu buat gue, bener-bener buat gue.
            Ohh god, thanks. What a wonderful night!
            “Ken, suara kamu bagus” ucap gue berusaha melafalkan kata “kamu” dengan baik, supaya terkesan lebih romantis suasannya.
            “iya dong, aku kan mantan boyband sm*sh, hhaaha” katanya
            “jadi sm*sh aja bangga,” ledek gue.
            “biarin dong.”
            “Ken, maksudnya apa tuh lagu tadi?”
            “itu lagu buat kamu Elm”
            “ha? Maksudnya?”
            “itu adalah apa yang aku rasakan sekarang. U know that song right? i guess u know the meaning n’ what i mean”
~~~
            “Raaaaaaaaaaaaaaaa, bener Ra, malah dia tadi nyanyiin Saat Bahagia buat gue” gue teriak kenceng banget saat udah ada ditenda.
            “hahahaa, congratz yahh. Satu langkah lagi menuju pelaminan El. Hahaha”
            “pelaminan dari Hongkong?”
~~~
            Pagi-pagi banget sekitar jam 5 sudah banyak aja anak-anak yang pergi mandi. Ada dua alasan, mungkin mereka menghindari ngantre atau mungkin kemaren sore mereka ga mandi. Huahh. Gue sama Tiara juga udah bangun, bukan buat mandi tapi karena tenda yang pas-pasan sehingga kita harus tidur desek-desekkan. Badan gue pegel-pegel jadinya gue sama Tiara bangun.
            “El, dengar ga? Ada suara prince gue.” Kata Tiara. Prince adalah sebutan buat cowok-cowok yang kita suka.
            “oh ya? Coba. Iya Ra, dimana dia?”
            “kayanya didepan deh.” Tiara langsung membuka sedikit resleting tenda buat ngintipin princenya dia.
            “dia didepan tenda kita El,”
            “Mana mana” gue ikut-ikutan ngintip kaya Tiara, walaupun lubang buat ngintipnya hanya cukup untuk 2 mata gue dan Tiara.
            “cieee, Tiara” gue teriak, sengaja supaya princenya Tiara nengok ke tenda kita. Dan benar saja, seketika itu princenya Tiara nengok ke tenda gue sama Tiara. Dari dalam gue ketawa ngakak dan membuat princenya malah celingak-celinguk nyari sumber keributan yang tak lain adalah tenda kami. Wkwk
            “hahah, kita kaya spy aja ya Ra, mata-matain prince dari celah tenda yang super duper kecil.”
            “hahah iya spy El, asik ya jadi spy, hhahah”
            Gue sama Tiara terus aja memata-matain Princenya Tiara, gak lama dia pun pergi dari depan tenda dan tontonan pun usai. Tiara sedih dia pergi, tapi ga terlalu sih. Karena udah ngintipin dari tadi.
                        Tepat pukul 8, gue sama Tiara lagi ada di tenda buat nyiapin barang-barang buat pergi ke air terjun. Saat kami lagi packing, gue denger ada suara Kenzie. Dan gak lama, “saat bahagiaku duduk berdua denganmu hanyalah bersamamu.” Kenzie nyanyi lagu itu lagi. Dengan cepat gue langsung ngintip dan ternyata dia lagi duduk di atas batu yang gak jauh dari tenda gue dan duduk menghadap tenda gue.
            “denger tuh El, nyanyi lagi, itu bener-bener pesan yang ingin dia sampaikan kali El ke loe”
“iya ya Ra, akkh senangnya,” gue terus ngintipin dia dari dalam tenda. Cukup lama. Gue memandang wajah dia yang bersih karena baru beres mandi. Gue mata-matain dia dengan kacamata Betty Lavea gue. Sesekali gue liat dia melirik kearah tenda gue tapi karena celah yang dibuka cuma kecil bahkan gak keliatan, dia pun hopeless dan terus bernyanyi.
            “terus aja ngintip” komen Tiara.
            “hahaa”
            “loe berbakat jadi spy El.”
            “iya dong, loe juga Ra.”
            “Iyaa kita” ucap gue berbarengan sama Tiara (sehati)
            “yaa, Prince’s Spy hahahah” dan lagi, kita berbarengan tertawa. Hemm memang Tiara adalah kembaran sejati gue.

Selesai

Tentang penulis:

Jurnal Harian (Tribute to Isma)

Written By Unknown on Senin, 25 Februari 2013 | 07.46


Oleh Thalia Maudina
Sampoerna Academy Bogor Campus

“Akbar,” aku memanggil Akbar yang sedang duduk di bangkunya. “Namamu benar Akbar, kan?”
            Akbar. Berkacamata dan berbadan kurus. Ia adalah laki-laki yang sangat pendiam dan mungkin pemalu. Entahlah. Hanya orang terdekatnyalah yang tahu. Bayangkan saja, dalam sehari, aku bisa menghitung dengan jari-jari di tangan kananku berapa kali ia berbicara dengan perempuan. Sebenarnya, ia cukup manis. Namun, aku tidak menaruh perhatian lebih sama sekali terhadapnya.
            “Iya, ada apa?” tanyanya.
            “Hmm, tak apa-apa. Hanya memastikan,” jawabanku dengan sedikit tersenyum.
            Akbar menyadari bahwa sapaanku tidak begitu berarti dan akhirnya mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.
            Saat itu adalah waktu istirahat. Riska, Dila dan aku biasa duduk di kursi kantin bersama walau kami beda kelas. Riska bercerita sedikit tentang teman kelasnya, yang tak lain adalah Akbar.
            “Kau mengenalnya?” tanyanya.
            “Aku berbicara padanya pagi tadi,” jawabku.
            “Benarkah?” Riska terlihat tidak percaya. “Kukira ia tak bisa berbicara dengan perempuan.
            “Hmm, sebenarnya ia hanya menyahut sapaanku. Sediam itu, kah? Kak Raka pun tak mengenalnya,” jelasku.
            Dila hanya tertawa. Ia tidak berkomentar. Raka adalah teman satu angkatanku, tapi ia terlampau dekat denganku sehingga aku menganggapnya kakak.
            Begini, sebenarnya aku melihat ada sesuatu yang berbeda dari Akbar. Sesuatu yang spesial kurasa. Mungkin ia jarang berbicara, tapi sepertinya ia memiliki bakat yang berbeda dari yang lain. Aku tidak tahu apa itu, tapi aku dapat merasakannya.
***
Untuk buku harianku,
            Hari ini aku memanggil seorang laki-laki. Ia agak aneh. Bahkan ia jarang berbicara dengan perempuan. Di sekolah aku bertanya-tanya tentangnya ke sahabatku, Riska, yang kebetulan adalah teman sekelasnya. Aku merasa ada yang berbeda dalam dirinya. Entah apa itu. Seiring berjalannya waktu, aku semakin penasaran dengannya. Pokoknya, aku harus mencari tahu infomasi selengkap-lengkapnya tentangnya, Akbar.
19 September 2006
***
Untuk buku harianku,
            Tahu tidak? Hari ini aku bercakap-cakap dengan Kak Gema. Aku merasa senang sekali! Entah, sepertinya ada perasaan lain yang mendatangiku. Setiap ia lewat saja aku menjadi salah tingkah. Kak Gema memberikan senyuman terbaiknya padaku siang ini. Kakak! Tapi mengapa aku merasa seperti ini sekarang? Padahal aku mengenal Kak Gema dari SMP. Bahkan aku pun satu ekstrakurikuler dengannya.
            Oh ya, aku baru sadar, ternyata Akbar memiliki satu ekstrakurikuler yang sama denganku. Mengapa bisa aku baru tahu setelah satu tahun SMA?
26 September 2006
***
Untuk buku harianku,
            Wah, sepertinya aku benar suka dengan Kak Gema. Ternyata jadwal pelajaran olah raga kelasku dan kelas Kak Gema bersamaan, hari Kamis. Keren, ya, ia lumayan jago olah raga. Sepertinya aku sedang kasmaran. Hahaha. Bahkan aku memberitahu teman-temanku bahwa aku menyukai Kak Gema. Gila, bukan? Aku juga memberitahu Kak Raka tentang ini tentunya.
28 September 2006
***
Untuk buku harianku,
            Kakakku ada apa denganmu? Katanya ia sedang gusar. Ia sedang ada masalah dengan pacarnya, Ayu. “Katanya” sih, Ayu dekat dengan teman SMP-nya dulu. Sabar ya, Kak. Kakak, bagaimana sih? Aku sedang kasmaran-kasmarannya tetapi Kakak malah ada masalah dengan pacar. Tidak seru!
            Sore tadi, aku bertemu Kak Gema saat karate. Tuben ia ikut latihan! Ada Akbar juga. Tapi seperti biasa, Akbar hanya diam.
            Riska, Dila dan aku menggila sore ini. Kami membicarakan soal orang yang kami sukai di angkutan kota. Sangat frontal! Lalu Riska dan aku menjahili Dila yang memang tidak mempunyai satu orang pun yang disukai. Dila, Dila, coba lihat wajahmu, hidungmu memerah layak badut.
6 Oktober 2006
***
Untuk buku harianku,
            Ah, hari ini tidak ada suatu yang mengesankan. Aku hanya melakukan keseharianku yang biasa. Datar. Aku berangkat sekolah, upacara, pulang sekolah. Pergi ke les bahasa Inggris. Pulang. Membosankan.
            Maaf, ya, buku harianku, tidak ada yang menarik hari ini. Terlebih lagi aku tidak melihat batang hidung Kak Gema.
9 Oktober 2006
***
Untuk buku harianku,
            Sore ini aku pulang bersama Kak Raka dengan angkutan kota. Kebetulan “ojek kesayangan”-nya sedang tidak datang. Coba tebak! Kakak menceritakan hubungannya dengan Ayu. Ternyata sedang bermasalah. Malang, ya, nasib Kak Raka.
            Aku melihat Akbar sedang bermain bola dengan teman-temannya. Ternyata ia andal! Aku sekilas terpesona denga...
***
Untuk buku harianku,
            Aku hanya ingin mencatat bahwa AKU MENCINTAIMU, AKBAR! Terima kasih untuk hari ini. Aku harap ki…..
25 Februari 2008
***
            Baik, hanya itu yang aku temukan di lacinya sampai saat ini, tempat ia menaruh semua arsipnya, tidak begitu rapi. Banyak yang hilang, robek, bahkan berlubang dengan bekas gigitan tikus.
            Kutipan pertama adalah potongan dari sebuah cerita pendek yang ia buat. Di sana tertulis namaku. Bahkan aku ragu kalau itu adalah cerita pendek. Sepertinya itu hanya oretan di buku saja. Aku menemukannya di bagian belakang buku catatan Biologi kelas 2 SMA miliknya. Halaman ini terlipat, seolah-olah ia tidak mau orang lain tahu tentang ini. Aku mengingat kejadian itu, saat ia memanggilku. Ya, panggilan pertamanya untukku. Aku hanya tersenyum agak tertawa melihat kutipan ini. Rasanya, aku kembali ke masa lalu, masa SMA. Aku membayangkan diriku yang dahulu. Memalukan.
            Kutipan kedua sampai terakhir adalah robekan kertas, mungkin dari buku hariannya. Tapi mengapa hanya halaman-halaman ini saja yang ada? Mengapa hanya halaman-halaman ini yang ia robek? Ke mana buku hariannya, sumber robekannya? Aku belum bisa menemukannya. Mungkin aku sedikit gila karena kukuh dengan pendirianku untuk tetap mencari arsip yang dimulai enam tahun lalu, sekitar 2006. Tapi aku harus! Bukan untuk apa-apa, ini untuk memori.
            Anehnya, aku menemukan catatan harian yang berbeda dari yang lain. Catatan tanggal 25 Februari 2008. Catatan yang aku temukan pada tanggal tersebut jelas membicarakanku setelah sebelumnya ia menulis tentang Kak Gema atau Raka. Jangka waktunya cukup lama dari tahun 2006, dua tahun. Kertasnya pun berbeda. Kemungkinan ia menulisnya di buku yang lain. Sepertinya ia mempunyai lebih dari satu buku harian. Rajinnya kau!
            Kejadian di tanggal 25 Februari 2008 itu terukir di benakku juga. Kejadiannya panjang. Aku bisa menulis satu cerita pendek untuk satu rangkaian kejadian itu. Mungkin nanti, aku bisa menceritakannya. Yang jelas, aku harus menemukan arsip-arsip lain miliknya.
            Jadi, itu adalah kekasihku, Isma. Ia sedang terlentang tanpa daya dengan balutan kain putih yang sangat bersih. Aku sempat tak percaya bahwa itu benar tubuhnya. Aku masih merasakan suaranya yang selalu memanggilku, entah itu secara langsung, ataupun melalui telepon. Bahkan aku bisa mencium aroma tubuhnya yang sangat menenangkan jiwa. Sungguh aku tidak menyangka bahwa ini akan terjadi padanya.
            Tribute to Isma.

(Bogor, 29 September 2012)

Tentang Penulis : Thalia Maudina

Tembok Penghalang

Written By Unknown on Senin, 18 Februari 2013 | 07.28



 Oleh Nathaniel Juniar
Sampoerna Academy Bogor Campus


Mungkin orang - orang kenal gue sebagai orang yang ceria,  selalu bahagia, dll. Tapi mungkin itu semua hanya dibelakang, istilahnya muka topeng lah. Ada yang bilang gue manis (so pasti dong) , ada yang bilang gua jijikin daaaaaan ada yg bilang gue PLAYBOY #whaat? yaaaah mungkin juga gue harus sadar dengan semua itu

Gue punya mantan, namanya Nindian dan panggilannya tejo.. #jauh banget? ga ga, panggilannya Ninan. Orang nya item manis bagaikan coklat cadburry kalo lagi dimakan, rambutnya hitam panjang dan haluuuuss lagi (cocok kalo jadi bintabg iklan). Dia juga cewek yang diidolakan disekolah gue. Banyak cowok disekolah gue yang ngelirikin dia dulu. Anak basket, pinter, tajir, kurang apa coba?

Juli 2011
gue mulai masuk SMA dan memulai masa - masa yang katanya adalah masa - masa emas yang berkilau (cari kacamata item). Ada yang bilang juga di SMA ini kita bakal dapet pengalaman yang tak terlupakan. Ada yang bilang juga dimasa masa ini kita masih mencari jati diri yang mengakibatkan terciptanya kata "galau" yang sangat populer dimasa anak muda. Tapi apakah semua itu akan terasa saat kita bersekolah disekolah berasrama nan banyak peraturan? Saat itu gue masih jaim - jaimnya karena belum kenal apa apa,  beda dengan sekarang yang begajulan, make baju kemana mana, tebar pesona dimana mana, namanya juga anak muda. Pada saat itu kami dikumpulkan di satu ruangan tujuannya supaya kita bisa saling kenalan, dan bener. . dari situ gua kenalan dengan banyak orang dan dari situ juga gue dapet sahabat yang klop sama gue, namanya Eli dan Novel. Entah kenapa gue sama mereka selalu nyambung gitu, kaya ingus yang kalo kita pengen buang susah banget buat dilepas. Dan dari situ juga gue mulai jatuh cinta atau Fallin in Love dengan seorang cewe yaitu mantan gue. Gue mulai liatin dia mulu kemanapun dia pergi kecuali ke wc. Pernah waktu gue lagi liatin dia eehhh dia nengok, spontan dengan rasa malu langsung deh gue malingin muka liat liat gajelas ke anak anak yang lain, sumpah malu gue. Dari situ gue mulai berusaha buat deketin dan dapetin dia. Usaha pertama gue adalah gue kenalan dengan dia, saat dia lagi duduk sendiri gue diem diem deketin dia dan dengan tampang gatau malu mulai ngajak kenalan.

"Hai, boleh kenalan ga?" tanya gue kepadanya sambil gemeteran.

"Boleh kok" sahutnya.

Waaah gue seneng banget pada waktu itu, serasa gue pergi kebulan di tempat hampa udara, meledak menjadi berkeping keping. Disaat itu gue minta nomor hp nya dan dia ngasih (suatu muzizat), gue juga ngobrol ngobrol tentang kehidupan SMP nya,  keluarganya, dll. Karena gue dapet nomor hp nya, mulai dari situ gue mulai smsan dengan dia, tiap hari, tiap malem, lagi mandi, lagi boker, pokoknya waktu luang deh. Dan sampai tiba pada saatnya gue memberanikan diri mengungkapkan apa yang ada di dalam hati gue kepada dia.

28 Agustus
Hari yang gue tunggu tunggu, bagi gue mungkin hari ini adalah hari yang bersejarah buat gue (pengalaman yang tak terlupakan). Pada hari ini, dengan hati yang dag dig dug seer dengan memberanikan diri gue berniat untuk nembak cewek yang gue liatin mulu mukanya sampe ga bosen.

"Parfume? gosok gigi? doa restu? ", tanya Rehu.

Rehu juga temen gue di SMA ini. Bisa dibilang dialah penghibur disaat gue dan temen temen gue lagi ngumpul. Kalo lagi nguap, dengan polosnya dia nguap kaya anak panda imut imut yang lagi nguap. Dia punya rekor, pasti dalam sehari dia menjatuhkan barang yang dia pegang, hp lah inilah itulah, dan pernah gue itung dia pernah jatohin barang yang dia pegang 10x! dalam sehari, bisa masuk rekor dunia tuh dia. Saat gue mau nembak si cewek, dia jadi saksi hidup dalam proses gue nembak, dia jugalah yang menjadi penasehat sebelum gue nembak si cewek. Dan ga ketinggalan wejangan wejangan hangat khas Rehu dia berikan ke gue.

"Udah doa blum lo?" , tanya Rehu.

"Ngapain berdoa? kaya udah mau nikahan aja doa segala", sahut gue.

"Jangan galau ya kalo ga ketrima?", sahut Rehu kembali.

"Siap bos!" kata gue meyakinkan Rehu.

Hari semakin menunjukkan keperkasaannya dengan memancarkan cahaya eloknya, awan awan berkumpul membentuk barisan seolah sedang memusyawarahkan sesuatu. Tak luput angin yang kencang meniupkan anak anak daun kian kemari bak suporter bola yang riuh men-suport club idolanya. Gue rasakan tiupan angin melewati seluruh tubuh gue menembus baju yang gue pakai. Saat gue sedang berjalan buat nyari angin sambil nyariin dia, gue liat dia sedang duduk di tempat duduk batu sendirian berteman hijaunya dedaunan.

Kata gue dalem hati, "ngapain dia disana? kira kira pas ga ya kalo gue nembak sekarang?".

Perasaan gue mulai bergejolak memikirkan hal itu,  hati kecil gue berkata, "lo harus nembak sekarang! ga ada kesempatan lagi, ayo buruan!" tapi logika gue juga ngomong, "nanti lo malu kalo ga diterima, mau ditaro dimana muka lo?" apa yang bakal lo lakuin kalo jadi gue coba?”

Gue mulai ambil napas dalem dalem, daleeem banget sampe hampir mau keluar dari belakang. Gue pikirin semua hal hal yang bakal terjadi dan akhiiirrrnyaaaaa #jeeng jeeng gue memutuskan untuk nembak dia dan siap menerima hasilnya. Gue tau karena kalo gue simpen semua rasa ini, gue bakal nyakitin diri gue sendiri. Lebih baik keluarin aja semua biar lega.

Sedikit demi sedikit lama lama menjadi bukit gue mulai berjalan perlahan mendekati dia. Dan sampai pada akhirnya gue duduk disamping dia dan bertanya,

“Lagi ngapain disini? Boleh nemenenin ga ?”

“Boleh kok lagian aku cuma duduk aja. Pemandangan disini bagus ya ? keren.. ga bakal bosen kayaknya kalo sekolah disini.”

Sekolah gue memang sekolah berasrama yang kebetulan asramanya di resort jadi ya pemandangannya masih asri dan banyak orang yang sering berkunjung ke resort ini. Jadi ya otomatis kami disini gabakal bosen karena kalau bosen tinggal keluar aja, jalan – jalan liat pohon.
Disitu gue seneng banget karena dibolehin duduk disebelahnya dan dipanggil “KAMU” lagi, wah bagi gue ibaratkan dikasih uang segepok deh pada saat itu.

Jawab gue kepadanya, “Iya bagus banget. Ga nyesel deh sekolah disini.”

Gue ga kebayang bisa duduk disampingnya dan bisa liat mukanya sedeket ini. Bener – bener manis orangnya, pengen deh gua bawa pulang dan gue makan karena sangking manisnya.

Setengah jam berlalu, gue ngobrol ngalor ngidul dengannya sampai akhirnya gue memutuskan ini adalah saat yang tepat buat gue ngungkapin isi hati gue. Gue mulai bertnaya kepada dia

“Hhhhmmm Nan”.

“iya?” ,sahutnya.

“Boleh nanya ga” , jawab gue dengan nada yang pelan.

“Kamu ngomong apa? Ulang lagi dong.”

“Hhhmmm boleh nanya ga ?” kata gue lagi.

“Apa ? gajelas nih!”.

“Wah budek nih anak” ,kata gue dalem hati.

Dengan dongkolnya gue ngomong lagi ke dia

“ Boleh nanya gaaaaaaaa?!”.

Dan keselnya gue dia baru nngomong,

“Oooohhh boleh kok!”
“Wah bener – bener nih anak, belum jadi pacarnya aja udah diuji kesabaran dulu gue”,kata gue dalem hati.

“Hhhhhmmmm tapi maaf ya sebelumnya” ,kata gue.

“iyaaaa..”

“Bener ya” ,kata gue lagi.

“Iyaaa...”

“bener ya?” ,kata gue memastikan.

“IYAAAAAAAA”. Wah mulai marah nih anak.

“Hhhhmmm sebenernya aku udah lama pengen ngomong hal ini”,kata gue.

“apa tuh?” tanya dia penasaran.

Dengan penuh rasa deg – degan dan setelah mengambil napas dalam – dalam akhirnya gue ngomong,

“Kita kan udah kenal lama nih? Udah deket juga kan? Tapi jangan marah yaa? Gue suka sama lo Nan. Mau ga lo jadi pacar gue, tapi gue harap kalo misalnya kita putus kita jangan musuhan. Mau ga?”

Sehentak situasi disekitar kami menjadi diam, sunyi , dan tertiup hembusan angin yang lumayan kencang untuk menerbangkan rambutnya. Gue deg – degan nunggu jawaban dia dan siap menerima jawaban dia entah baik ataupun buruk. Satu menit, dua menit, tiga menit, empat menit pun telah berlalu. Kata gue dalem hati, kok ini cewek lama banget ya jawabnya. Setelah menit yang kelima akhirnya dia pun jawab,

“Hhhhmmm gmana yaa, maaf aku gabisa.”

Deeegg.. spontan gue tertunduk diam ga ngomong apa – apa, bener apa kata Rehu, ternyata gini rasanya kalo ditolak. Hati gue sakiiiiiiiiiitt banget, serasa hati ini dibuang dari atas gunung Everest kebawah, dibakar dengan api neraka dan dicabik – cabik oleh para setan. Situasi di sekitar kami spontan diam kembali, sama seperti saat gue nyatain cinta tadi. Gue mulai banyak mengambil nafas dalam – dalam, berusaha agar diri gue ga shock dan bisa tenang, gue gamau gue mati sia – sia mati bunuh diri karena ditolak cintanya, masih banyak yang belum gue lakuin didunia ini. Tapi 5 menit kemudian setelah kami hanya diam dan duduk disitu, dia mulai ngomong lagi dan hal ini yang membuat gue kaget.

“Maaf ya aku gabisa kalo nolak kamu.”

spontan yang tadinya gue merasa hidup gue ga ada artinya lagi menjadi terang kembali seperti matahari yang baru terbit dari arah timur. Wah ga kebayang deh betapa senangnya gue saat itu, kalo bisa teriak udah teriak kali gue, tapi harus nanggung malunya.

“Makasih ya”, kata gue kepadanya sambil melontarkan senyuman kecil kepadanya.

“Aku bakal berusaha untuk buat hidup kamu menjadi lebih berwarna”

haha ngegombal gue. Hubungan gue ini adalah hubungan yang terlarang, Karena kami berdua memiliki kepercayaan yang berbeda satu sama lain.

Gue mulai ngejalanin hubungan gue dengan dia, setiap hari ya ketemuan mulu karena gue dengan dia memang satu asrama jadi ya gampang kalo mau ketemuan. Bisa ketemuan pas lagi makan, pas lagi belajar, dan enaknya gaperlu lagi deh yang namanya ngedate. Paling kalo ngedate ya jalan – jalan sambil liat pemandangan disekitar atau belajar bareng. Kalo ada pr yang susah biasanya tanya dia, kalo ada ulangan pasti belajar bareng, dan lain – lain.

Di sms gue sama sama dia selalu memakai nama khusus kaya

“Hai kebo lagi apa?”.

Gua dipanggil kebo gara – gara gue jarang mandi. Kalo gue sms dia pake nama khusus seperti

“Hai Sara.. lagi apa?”

dan begitu seterusnya. Di sms juga gue sering ngegombalin dia kaya

”Eh.. kok diluar bintangnya ga ada.. kemana ya ? tau ga ?“

Dia jawab, “Gatauu.. emang dimana ?”

Gue jawab lagi “Ini lagi smsan sama akuu”

Dia bales, “Ahh kamu maah ngegombal aja kerjaanya”.

Yaaah seperti itulah kira – kira masa – masa indah gue bersamanya setelah kira – kira 3 bulan semua itu berubah menjadi kelabu.

Kira – kira 3 bulan lamanya gue udah ngejalanin kisah asmara gue dengan dia. Senang, sedih, gembira, ketawa bareng, makan bareng, ngerjain pr bareng, seolah semua itu baru gue jalanin kemarin dan tiba pada saatnya dinding tinggi yang tebal pun mulai terbangun dan kokoh berdiri menunjukkan keberadaanya. Saat itu hari masih siang sehabis gue pulang sekolah, tiba – tiba saat gue lagi jalan ke kamar buat istirahat, orang tua arama gue memanggil gue dan berkata,

“sini kamu.”

Spontan gue kaget dan segera menuju ke arahnya. Setelah gue berdiri didepannya beliau berkata

“Nak, kamu jangan pacaran lagi ya, kamu mau dipulangin kerumahmu? Kamu mau orang tuamu sedih karena kamu dipulangin? Disini kamu belajar dan bukan pacaran, jadi tolong kamu pertimbangin apa kata saya ya.”

Sehentak badan gue kaku gabisa gerak seolah olah badan gue berdiri di padang gurun yang sepi dan ga ada siapa – siapa. Bunyi guntur pun terdengar di hati gue,, badai besar melanda hati gue, membasahi hati gue yang tadinya musim semi berubah menjadi badai dahsyat. Disitu gue cuma bisa diem ngeliat orang tua asrama gue, dan dengan sekuat tenaga gue ngomong ke beliau,

“Iya Bu, akan saya pertimbangkan. Terimakasih ya bu”. Ibu itupun pergi.

Dikamar gue mulai galau gajelas, tidur kesana kesini, jalan kesana kesini kaya orang kebelet pipis. Gue mulai mikirin apa yang ibu tadi omongin, yang mana yang harus gue pilih? Ikutin apa kata hati gue atau ikutin apa kata ibu itu? Tembok itu memang bener – bener ada dan gue berpikir apakah gue harus menghancurkan tembok itu atau membiarkannya dan menjauh darinya. Tembok itu memang besar dan susah untuk menghancurkannya, butuh pengorbanan yang besar untuk mengahancurkannya. Gue mulai berkata dalam hati,

 “Tuhan berikan hambamu ini jawaban atas semua yang engkau berikan ini.”

Sejak saat itu gue mulai ngejauh dari dia, menyendiri sejenak, menjauh dari keramaian dari bisingnya suara – suara kerumunan. Gue mulai nanya ke temen – temen gue tentang apa yang harus gue perbuat karena gue bener – bener gatau gue harus apa, ibaratkan anak kecil yang kesesat mencari ibunya itulah kondisi gue sekarang. Entah kenapa sejak saat itu juga banyak guru – guru yang menasehati gue dan berkata agar gue menjauh dari pacar gue karena nilai gue mulai nurun.

2 hari, 3 hari, 4 hari, entah udah berapa hari gue lewatin tanpa dia. Gue mulai ga smsan dengan dia, ga nyapa dia dan tiap malem dia sering sms gue dan bertanya kepada gue

“Kamu kenapa? Kok aneh?”

Semua sms dia gapernah gue bales, gue ga tega buat ngomong ke dia, pasti dia bakal nangis kalo denger semua ini. Gue butuh waktu untuk berpikir, untuk menentukan keputusan apa yang bakal gue buat, belajar atau dia, itu yang selalu ada dipikiran gue terus menerus dimanapun dan kapanpun gue berada (setia banget memang pikiran ini).

Keputusan sudah bulat, gue udah memutuskan tentang apa yang bakal gue perbuat selanjutnya. Daripada gue gantungin dia ? kasian juga dia. Lebih baik untuk memutuskan keputusan dari sekarang daripada terlambat. Hp sudah ditangan, tapi tangan pun tak sekawan, rasanya berat banget buat sms dia untuk ngajak ketemuan. Selama ini gue gapernah ketemuan lagi dengan dia, mungkin dia bakal seneng bisa ketemuan lagi dengan gue tapi mungkin ini pertemuan terakhir gue dengan dia sebagai seorang “PACAR”. Gue mulai ngetik sms ke di

“kamu dimana?”

Sambil nunggu balesan dari dia gue mikir – mikir lagi jadi atau tidaknya keputusan gue ini. Dia bales,

“Lagi di perpus, knpa ? kamu dimana?”

Muka gue mulai cemberut ga ada bentuknya lagi. Gue jawab

“Lagi di tempat duduk meja batu, bisa kesini ga?”

Gue mulai berjalan menuju meja batu tempat gue nembak dia dulu. Gue teringat saat gue nembak dia dulu di tempat itu, indaaaaah banget rasanya, yah mungkin ini semua memang takdir yang diberikan Tuhan. Tanpa sadar gue mulai menitikkan air mata, gue usap semua nya itu dengan tangan gue, gue udah memulai semua ini dan dengan gentle gue juga yang harus mengakhirinya karena gue cowok.

Setelah kira – kira 5 menit gue nunggu, gue melihat dia lagi jalan kearah gue, betapa manisnya dia saat sedang berjalan. Gue nyesel udah nyia – nyiain dia, masih banyak cowok didunia ini yang seiman dengan dia dan lebih daripada gue. Bengong gue menghilang saat dia tiba – tiba dia ngagetin gue,

“Hhayooo ngapain bengong!”

“Eh gapapa kok.. hehe” jawab gue seadanya.

“ Ada perlu apa manggil aku kesini?”

“Gapapa cuma mau liat kamu aja, kangen”

(padahal mah dalem hati udah nangis ga karuan).

“Kamu tau ga kalo aku selama ini udah sering diceramahin sama banyak guru?” kata gue.

“Enggak.. emang siapa aja yang udah nasehatin kamu? Banyak ya?” dengan polosnya dia jawab begitu.

Gue sendiri bingung mau jawab apa, dengan seadanya gue jawab,

“Hehe iyaa..”

Keadaan mendadak menjadi sunyi. Kami berdua tiba – tiba diam sejenak. Dengan basa – basi gue bertanya lagi ke dia

“Gimana belajar kamu? Ga ada masalah kan? Nilai kamu ga turun kan?”

“Enggak kok ga ada yang turun sama sekali” , jawab dia.

Gue mulai berusaha berkata terus terang tentang apa yang ingin gue omongin sebelumnya, semoga ini memang keputusan yang terbaik.

“Hmmm aku mau ngomong serius sama kamu, tapi aku minta maaf sebelumnya, boleh?” , tanya gue kepadanya

“Boleh kok, tanya apa?” , jawab dia.

“Seperti apa yang udah aku sampein ke kamu barusan, akhir – akhir ini aku sering di nasehatin sama guru bahwa nilaiku mulai turun, dan guru – guru juga bilang bahwa mereka ga seneng kalo ngeliat kita terlalu deket. Kita anak asrama, anak beasiswa. Ga sepantasnya kita malah pacaran begini, seharusnya kita belajar serius. Jadi aku minata maaf sebelumnya, kayaknya kita udahan aja sampe sini, aku gatau ini adalah keputusan yang terbaik atau enggak, aku minta maaf banget sama kamu kalo udah nyakitin kamu selama ini, belum bisa mejadi cowok yang terbaik dimata kamu, aku minta maaf banget yaa. Tapi aku mau kita ga musuhan sama seperti yang lainnya. Sekali lagi aku minta maaf.”

Keadaan tiba – tiba menjadi sunyi kembali. Gue bingung mau ngomong apa lagi. Gue hanya bisa tertunduk, diam, dan termenung. Keputusan sudah ditetapkan, semuanya sudah bulat, nasi sudah menjadi bubur, mau apa lagi? Hati gue rasanya hancur berkeping – keping saat itu. Cinta yang selama ini gue jalanin ternyata akan berakhir seperti ini, tidak seperti yang gue harapkan seperti di film – film sinetron.
Tiba – tiba dia berkata dengan nada yang pelan

“Jadi kamu selama ini diem dan menjauh dari aku karena ini? Kalau memang itu keputusan yang terbaik dan kamu inginnya seperti itu aku bisa ngerti. Maaf kalau selama ini aku udah nyakitin kamu, aku bakal tetep inget semua kenangan kita, ga akan aku lupain begitu aja kok.”

Dia tersenyum ke gue, dibalik senyumnya gue lihat dia mulai meneteskan air mata, air mata yang seharusnya gue jaga agar tidak menetes sedikitpun dan merupakan tanggung jawab gue seharusnya.
Dia pergi begitu saja meninggalkan gue setelah berkata seperti itu. Gue hanya bisa duduk diem ga bisa apa – apa. Gue liat dia mulai mempercepat jalannya masuk kedalam kamarnya. Gue gatau apa yang dia lakukan didalam kamarnya. Angin bertiup kencang menerbangkan layang – layang hingga menjulang tinggi, awan – awan berkumpul kembali membuat barisan yang rapi. Situasi ini sama seperti gue dulu nembak dia, sunyi, diam, dihembuskan angin sepoi – sepoi, gue mulai beranjak dari tempat duduk. Tembok besar, inilah yang engkau harapkan slama ini, memang suatu perbedaan tidak akan pernah bisa menyatukan kami. Walaupun hanya sesaat, namun hal itu hanyalah seperti bom waktu yang akan meledak entah kapan waktunya meluluhkan semuanya. Gue pergi dan mencari Rehu, mungkin dia bisa mnghibur gue disaat gue seperti ini.

Sehari setelahnya gue tanya ke temen sekamarnya,

“Ninan gapapa kan?”

“Gapapa kok, Cuma bikin pulau gede di bantalnya. Nangis seharian tuh dia” , kata temennya.

Dari situ gue mulai merasa bersalah banget karena udah bikin dia nangis. Memnag semuanya itu harus ada pengorbanan.

Sebulan telah berlalu semenjak gue putus dengan Ninan. Entah hanya perasaan gue atau bukan tapi kami mulai menjauh satu sama lain, keadaan yang sulit buat gue. Gue berusaha melupakan semua itu tapi sulit, sulit sekali buat ngelupain dia. Teman gue, Novel, Eli, dan Rehu mendatangi gue yang duduk sendirian di tempat duduk meja batu.

“Ngapain lo disini?” , tanya Novel

“Haha gapapa kok cuma duduk – duduk aja” . jawab gue

“Alaaaaah bohong lo, coba lah cerita dulu sama kita, siapa tau semunya bisa biikin lo lega.”

Gue ceritain semuanya, kata demi kata gue keluarin. Semua unek – unek gue selama ini gue keluarin sampe semuanya lega.

Kaata Rehu ke gue, “Nah kan bener kan lo jadi galau gini”

“Tapi kan beda Hu galaunya”, jawab gue

Kata Eli ke gue “Ternyata begini ya kalo lo galau”

“hahahahahahahaha......” seketika kami semua tertawa lepas sambil melihat satu sama lain.

Sahabat sangat berarti di kehidupan kita. Disitu gue melihat bahwa sahabat bisa diandalkan disaat sedih maupun senang, sahabat adalah keluarga. Kadang – kadang gue berpikir bahwa gimana keadaan kami dimasa depan. Seperti saat reunian, semuanya sudah membawa mobil mewah beserta istri dan anak – anaknya, pasti semuanya itu akan menjadi kenangan yang tak terlupakan. Ya, cewek bukan segalanya, walaupun sakit untuk pergi darinya tapi percayalah bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik pada nantinya. Nilai gue mulai naik, guru – guru turut senang atas semuanya itu, gue bisa banggain orang tua gue seperti yang gue harapkan saat masuk sekolah dulu. Tembok besar pun tersenyum kepada gue, tembok itu berubah menjadi tembok indah yang tiada duanya. Tembok itu mengingatkan tujuan gue sebenarnya. Memang benar perbedaan tak kan bisa menyatukan dua pasangan, harus ada salah satu yang mengalah. Gue tetap mengingat cewek itu didalam hati gue, sampai kapanpun gue gabakal bisa lupain dia, karena hanya dialah yang dapat membuat gue menjadi seperti ini.


THE END

Tentang Penulis:
Sampoerna Academy Bogor Campus

Advertisment

alt anda alt anda alt anda alt anda The Billion Rupiah Homepage alt anda

Info Lomba Corner

More on this category »
 
Support : Baktiar Nur Makmura | Hedi M Fauzi | Nahdi Permadi | Aan Anipah | Azka Azizah
Copyright © 2013. Goresan Anak Bangsa - All Rights Reserved
Template Edited by @BMakmura Published by @KangHedi
Proudly powered by Blogger