Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Cinta. Tampilkan semua postingan
22.38
Prince's Spy
Written By Unknown on Sabtu, 09 Maret 2013 | 22.38
Oleh Rosalina (Komunitas Penggores)
Sampoerna Academy Bogor Campus
“Now... Welcome... Dolphin House,” ucap Mr. Yassa serayak dengan sambutan tepuk
tangan meriah oleh seluruh penonton. Kali ini adalah penampilan kedua, akan
dibawakan oleh Dolphin House yang
sebelumnya adalah Rhino House dengan
drama singkat Cinderlelet modernnya. Kalau cerita dongeng yang sering kita
dengar adalah Cinderella, putri yang ditinggal mati oleh ayah dan ibunya sehingga
harus hidup bersama ibu dan kakak-kakak tirinya yang jahat, Rhino punya Cinderlelet yang cantik
jelita tapi kerjanya kaya keong banget. Menyapu lantai 1x1 meter saja memakan
waktu satu jam. Gubrakk! Oleh karena itu yang selalu mengerjakan pekerjaan
rumah adalah ibu dan kakak-kakak tirinya. Wahh revolusi besar, benar-benar
berbanding terbalik 1800
dengan cerita
Cinderella zaman dulu. (Kalau
gitu kenapa dulu Cinderella gak
pura-pura jadi Cinderlelet aja yaaak? Biar gak dijadiin budak terus. Dasar
Cinderella gak
kreatif)
Eh, balik lagi ke penampilannya Dolphin. Gue udah dag dig dug aja
setelah gue depresi lihat
Rhino tampil tadi yang bisa dibilang
cukup keren. Iyalah, gimana gak
depresi, secara house gue ga ada
persiapan apa-apa, cuma rencana mentah dan sekali latihan yang ancur-ancuran.
Dan gue, bakal lebih depresi lagi kalau ternyata penampilannya Dolphin juga bakal keren atau bahkan
lebih keren. (Pingsan dan gak
mau bangun lagi)
Anyway,
mugkin kalian masih terbingung-bingung dengan apa sih maksudnya house-house yang dari tadi gue bilang.
Okeh, well kalau kalian pernah tahu cerita Harry Potter, mungkin
kalian juga pernah tahu
Griffindor, Slytherin, Huflepuff dan Ravenclaw. Itu adalah nama house-house yang ada di asrama Harry Potter. Begitu juga
halnya yang ada disekolah gue, bedanya kalo Hogwarts punya empat house, sekolah gue punya 9 house, yaitu Shark, Manta Ray, Dolphin, Rhino, Lion, Komodo, Dove, Eagle dan Hornbill. Dan gue, ternyata adalah
seorang eagle yang harus selalu bisa
mendapatkan semua yang ia targetkan dan ga ada satu pun yang bisa
menghalanginya. Hahaha...
Dan kali ini kita lagi ada acara Leadership Camp. Ini adalah malam
pertama kita ditempat kemahnya, mungkin lebih tepatnya adalah malam pertama dan
terakhir karena kemahnya juga cuma dua hari satu malam. Acara malam ini adalah
penampilan dari tiap-tiap house dan
api unggun.
Ternyata Dolphin menampilkan drama singkat juga, tapi kali ini bukan
Cinderlelet, tapi drama yang bernuansa penduduk Jepang dengan judul Legenda
Batu Tapak. Drama ini mengisahkan tentang perguruan bela diri bernama Jempol
Suci yang setelah para pendekarnya sakti, salah satu diantaranya meninggalkan
perguruan dan mendirikan perguruan baru bernama Jidat Suci.
Mungkin karena terlalu banyak
improvisasi dan respon yang besar dari para penonton, Dolphin tidak dapat melanjutkan dramanya karena kehabisan waktu
alias time’s up. Padahal dramanya
mereka lucu banget, mungkin karena bawaan sifat sebab anak-anak Dolphin didominasi anak-anak tukang
ngelawak.
Dan penampilan dilanjutkan oleh house-house selanjutnya. Akhirnya
sampailah pada giliran house gue.
Bagaimana penampilannya? Jangan ditanya. Kalian bisa menyimpulkan sendiri penampilan
anak-anak individualis yang gak
pernah menang kalau bekerja dalam satu tim. Ya itulah eagle. Mana ada eagle
yang terbang bersama-sama, mereka memang individualis. Karena mereka bisa
menbuat kenyamanan dengan dirinya
sendiri, tanpa orang lain.
“El, satu nih...” terdengar kata
Emil yang membawakan jagung bakar dan langsung membuyarkan lamunan gue yang
sedang memikirkan betapa hancurnya penampilan gue tadi.
“Ohh iya, makasih yah...” gue
mengambil jagung itu dengan perasaan tidak bersemangat.
“El, kita ke tempat api unggun
sekarang yuk” Ajak Tiara tiba-tiba. Tiara adalah sahabat gue yang sangat mirip
dengan gue. Mungkin dia lebih tepat dibilang kembaran, kenapa? Karena segala
sesuatu yang ada di dia pasti ada juga di gue. Pokoknya semuanya sama,
contohnya aja, dia baru aja ngajakin gue ke tempat api unggun sekarang karena
dia ga terlalu suka keramaian, sama seperti gue. Itu satu contohnya, sisanya
banyak banget.
“Emm, boleh...” tanpa ragu gue pun
pergi ke tempat api unggun sama Tiara.
Sesampainya disana jelas saja tidak
ada satu orang pun. Gue dan Tiara duduk berdekatan dan hanya memandang api
unggun yang belum menyala.
“Ra, kayanya feeling gue bener deh...” ucap gue memecahkan keheningan.
“Feeling
yang mana?” jawab Tiara datar.
“yang tadi gue ceritain di bus”
“Yang menurut loe nanti diacara api
unggun dia bakal duduk disamping loe?”
“Yoi.”
“oww, let’s see then”
Kami pun kembali menatap api yang
masih terdiam sambil berusaha menghabiskan jagung kami masing-masing. Gue lihat
jagungnya Tiara, sudah tinggal dua baris lagi, pasti dalam waktu dua menit aja
dia sudah bisa menghabiskannya, sedangkan gue, masih banyak banget, entah
berapa baris lagi. Dan, perut gue sudah bener-bener ga bisa nampung lagi
jagungnya, jadi gue hanya memegangnya dan kembali menatap tumpukan-tumpukan
kayu yang dalam waktu beberapa menit lagi akan berubah warnanya menjadi hitam
legam.
10 menit kemudian, Mr. Yassa dengan
guru-guru dan teman-teman gue mulai berdatangan ketempat api unggun. Termasuk
dia, yaa dia. Dia berjalan menuju arah tempat gue duduk dengan gitar
kesayangannya. Gitar yang selalu menemaninya dikala dia sedang galau atau
kesepian. Gitar yang menghantarkannya ke posisi juara satu lomba gitar akustik
klasik. Dan perkenalkan namanya adalah Kenzie.
Sebagai gadis bermata minus 1.5, gue
selalu menyiapkan kacamata kemana pun gue pergi. Gue ga pernah pakai kacamata
itu seharian, males banget, kacamata berbingkai warna biru, ukkh norak, udah
kaya Betty Lavea aja. Jadi, gue hanya menyimpannya di saku dan gue pakai apabila
sewaktu-waktu ada hal yang penting dan harus gue lihat dengan jelas.
Dan contohnya adalah kali ini, di
kejauhan sekitar jarak 5 meter, gue lihat Kenzie berjalan kearah gue. Gue
langsung memakai kacamata Betty Lavea gue, dan benar saja dia jalan kearah gue
dan sekarang tinggal 2 meter lagi dan yaaa saudara-saudara akhirnya dia pun
duduk disamping gue tanpa gue undang. (Gue udah kaya operator pertandingan
sepak bola aja saat meneriakkan bola gol, bedanya kali ini dalam hati. Gaje?
memang)
“Elmaaaa, dia duduk disebelah loe”
bisik Tiara di sebelah gue dengan nada
yang mengagetkan.
“Iya Ra, gue tau, biasa aja dong
jangan bikin gue skakmat.” Jawab gue khawatir.
“Hai Ken...” Tiara menyapa Kenzie
yang sedang duduk disebelah gue dan sedang membetulkan sesuatu di gitarnya.
“Ehh, hai Tiara, dari tadi disini?” Jawab
Kenzie dengan suara seksinya yang serak-serak gimana gitu.
“Emm iya, ini dari 30 menit lalu,
diajakin Elma.” Tiara membalikkan fakta, jelas-jelas kan dia yang ngajakin gue
tadi. Gue langsung membantah.
“Heh, gue? Enak aja, bukan, Tiara yang ngajakin.” Bantah
gue tetapi ternyata suara gue yang keluar sama sekali ga kaya nada membantah.
Hah gagal, malu deh.
Sekejap, ga ada suara lagi, dari
gue, Tiara ataupun Kenzie. Dan acara pun dimulai. Beberapa guru seperti Mr.Ben,
Mr. Arief, dan Mr. Farrel sudah menyalakan api unggun yang sedari tadi terdiam
sunyi.
“Well,
guys, you can enjoy this beautiful night with the bon fire. Kalian bisa
nyanyi-nyanyi atau apa pun yang ingin kalian lakukan, yang penting jangan pergi
jauh-jauh dari tempat ini, okay?” terdengar suara Ms. Marissa mengintruksikan
kegiatan untuk malam ini. Serentak kami semua menjawab “Okay Mis.”
Setelah itu gue liat ada beberapa temen yang pergi dari bon
fire dan mencari teman-teman yang lain hanya untuk sekedar mengobrol. Ada juga
yang bermain gitar dan bernyanyi-nyanyi bareng. Tapi gue masih dalam PW gue
alias posisi wenak, dengan Tiara dan Kenzie disamping gue, kita bertiga.
“tadi ngapain duluan kesini Elm?”
tanya Kenzie sambil mulai memainkan instrument yang dipegangnnya.
“ohh, ya pengen aja, kebetulan tadi
si Tiara ngajak. Disini tempatnya cocok buat ngegalau Ken, wkwkwk...” jawab gue
asal. Perasaan gue udah dag dig dug der dor pas Kenzie melontarkan pertanyaan
pertamanya. Huaahh, serasa mau pingsan.
“Eh Ken, El, gue pergi dulu ya,” kata
Tiara nyerobot.
“Mau kemana?” tanya Kenzie.
“Sasha n’ Rio dkk nyuruh gue
ketempatnya.”
“ohh oke” kata Kenzie lagi.
“daadah Elma, have a nice night.
Temenin Elma ya Ken.”
“pasti!” jawab Kenzie tegas.
Gue cuma bisa senyum aja mendengar
perkataan Tiara tadi. Dan Tiara pun berlalu. Sisanya tinggal ada gue sama
Kenzie, hah nggk gue mimpi. Gue pukul-pukul pipi gue sampe merah kali tapi
tetep aja yang disebelah gue Cuma Kenzie, gue tetep berdua sama dia, tidaaakkk
ini ga mimpi.
“Elm, ngapain pukul-pukul pipi
begitu?” tanyanya.
“hah? Nggk, gue ga nyangka aja
sekarang lagi duduk berdua sama loe Kenzie. Gue kira gue lagi mimpi, makanya
gue mukul-mukul pipi.” Jawab gue polos.
“hahaha Elm, ada-ada aja kamu.”
Yaaa, gue selalu seneng kalo dia
lagi ngobrol sama gue, karena dia pasti panggil gue Elm, ga ada satu orang pun
yang pernah panggil gue Elm, palingan El, tapi dia? Mungkin itu panggilan
sayangnya ke gue. Hahah. Satu lagi dia pasti kalo ngomong sama gue ga pernah
pake “gue, loe” pasti “aku, kamu” itulah yang membuat gue suka sama dia, co
cweet banget. Padahal sama temen lain dia ngomongnnya “gue, loe” hahah (tawa
kemenangan kedua)
Ditengah pergulatan gue dengan
pikiran gue sendiri, gue dengar Kenzie mulai memainkan lagu dengan gitarnya
itu.
“Saat bahagiaku duduk berdua
denganmu hanyalah bersamamu. Mungkin aku terlanjur tak sanggup jauh dari
dirimu, kuingin engkau selalu tuk jadi milikku...” Kenzie masih tetap
menyanyikan lagu yang berjudul Saat Bahagia lagunya Ungu. Selagi dari awal dia
nyanyi gue liatin dia dan loe tau? Wajah dia juga menghadap ke gue. Dengan
matanya yang mencerminkan kedamaian sejati, gue merasa dia nyanyiin lagu itu
buat gue, bener-bener buat gue.
Ohh
god, thanks. What a wonderful night!
“Ken, suara kamu bagus” ucap gue
berusaha melafalkan kata “kamu” dengan baik, supaya terkesan lebih romantis
suasannya.
“iya dong, aku kan mantan boyband
sm*sh, hhaaha” katanya
“jadi sm*sh aja bangga,” ledek gue.
“biarin dong.”
“Ken, maksudnya apa tuh lagu tadi?”
“itu lagu buat kamu Elm”
“ha? Maksudnya?”
“itu adalah apa yang aku rasakan
sekarang. U know that song right? i guess
u know the meaning n’ what i mean”
~~~
“Raaaaaaaaaaaaaaaa, bener Ra, malah
dia tadi nyanyiin Saat Bahagia buat gue” gue teriak kenceng banget saat udah
ada ditenda.
“hahahaa, congratz yahh. Satu langkah lagi menuju pelaminan El. Hahaha”
“pelaminan dari Hongkong?”
~~~
Pagi-pagi banget sekitar jam 5 sudah
banyak aja anak-anak yang pergi mandi. Ada dua alasan, mungkin mereka
menghindari ngantre atau mungkin kemaren sore mereka ga mandi. Huahh. Gue sama
Tiara juga udah bangun, bukan buat mandi tapi karena tenda yang pas-pasan
sehingga kita harus tidur desek-desekkan. Badan gue pegel-pegel jadinya gue
sama Tiara bangun.
“El, dengar ga? Ada suara prince gue.” Kata Tiara. Prince adalah sebutan buat cowok-cowok
yang kita suka.
“oh ya? Coba. Iya Ra, dimana dia?”
“kayanya didepan deh.” Tiara langsung
membuka sedikit resleting tenda buat ngintipin princenya dia.
“dia didepan tenda kita El,”
“Mana mana” gue ikut-ikutan ngintip
kaya Tiara, walaupun lubang buat ngintipnya hanya cukup untuk 2 mata gue dan
Tiara.
“cieee, Tiara” gue teriak, sengaja
supaya princenya Tiara nengok ke
tenda kita. Dan benar saja, seketika itu princenya
Tiara nengok ke tenda gue sama Tiara. Dari dalam gue ketawa ngakak dan membuat princenya malah celingak-celinguk nyari
sumber keributan yang tak lain adalah tenda kami. Wkwk
“hahah, kita kaya spy aja ya Ra, mata-matain prince dari
celah tenda yang super duper kecil.”
“hahah iya spy El, asik ya jadi spy,
hhahah”
Gue sama Tiara terus aja
memata-matain Princenya Tiara, gak
lama dia pun pergi dari depan tenda dan tontonan pun usai. Tiara sedih dia
pergi, tapi ga terlalu sih. Karena udah ngintipin dari tadi.
Tepat pukul 8, gue sama
Tiara lagi ada di tenda buat nyiapin barang-barang buat pergi ke air terjun.
Saat kami lagi packing, gue denger
ada suara Kenzie. Dan gak lama, “saat bahagiaku duduk berdua denganmu hanyalah
bersamamu.” Kenzie nyanyi lagu itu lagi. Dengan cepat gue langsung ngintip dan
ternyata dia lagi duduk di atas batu yang gak jauh dari tenda gue dan duduk
menghadap tenda gue.
“denger tuh El, nyanyi lagi, itu
bener-bener pesan yang ingin dia sampaikan kali El ke loe”
“iya ya
Ra, akkh senangnya,” gue terus ngintipin dia dari dalam tenda. Cukup lama. Gue
memandang wajah dia yang bersih karena baru beres mandi. Gue mata-matain dia
dengan kacamata Betty Lavea gue. Sesekali gue liat dia melirik kearah tenda gue
tapi karena celah yang dibuka cuma kecil bahkan gak keliatan, dia pun hopeless dan terus bernyanyi.
“terus aja ngintip” komen Tiara.
“hahaa”
“loe berbakat jadi spy El.”
“iya dong, loe juga Ra.”
“Iyaa kita” ucap gue berbarengan
sama Tiara (sehati)
“yaa, Prince’s Spy hahahah” dan lagi, kita berbarengan tertawa. Hemm
memang Tiara adalah kembaran sejati gue.
Selesai
Tentang penulis:
Labels:
Cerpen,
Cerpen Cinta
07.46
Jurnal Harian (Tribute to Isma)
Written By Unknown on Senin, 25 Februari 2013 | 07.46
Oleh Thalia Maudina
Sampoerna Academy Bogor Campus
“Akbar,” aku memanggil
Akbar yang sedang duduk di bangkunya. “Namamu benar Akbar, kan?”
Akbar.
Berkacamata dan berbadan kurus. Ia adalah laki-laki yang sangat pendiam dan
mungkin pemalu. Entahlah. Hanya orang terdekatnyalah yang tahu. Bayangkan saja,
dalam sehari, aku bisa menghitung dengan jari-jari di tangan kananku berapa
kali ia berbicara dengan perempuan. Sebenarnya, ia cukup manis. Namun, aku
tidak menaruh perhatian lebih sama sekali terhadapnya.
“Iya,
ada apa?” tanyanya.
“Hmm,
tak apa-apa. Hanya memastikan,” jawabanku dengan sedikit tersenyum.
Akbar
menyadari bahwa sapaanku tidak begitu berarti dan akhirnya mengalihkan
pandangan matanya ke arah lain.
Saat
itu adalah waktu istirahat. Riska, Dila dan aku biasa duduk di kursi kantin
bersama walau kami beda kelas. Riska bercerita sedikit tentang teman kelasnya,
yang tak lain adalah Akbar.
“Kau
mengenalnya?” tanyanya.
“Aku
berbicara padanya pagi tadi,” jawabku.
“Benarkah?”
Riska terlihat tidak percaya. “Kukira ia tak bisa berbicara dengan perempuan.
“Hmm,
sebenarnya ia hanya menyahut sapaanku. Sediam itu, kah? Kak Raka pun tak
mengenalnya,” jelasku.
Dila
hanya tertawa. Ia tidak berkomentar. Raka adalah teman satu angkatanku, tapi ia
terlampau dekat denganku sehingga aku menganggapnya kakak.
Begini,
sebenarnya aku melihat ada sesuatu yang berbeda dari Akbar. Sesuatu yang
spesial kurasa. Mungkin ia jarang berbicara, tapi sepertinya ia memiliki bakat
yang berbeda dari yang lain. Aku tidak tahu apa itu, tapi aku dapat
merasakannya.
***
Untuk buku harianku,
Hari
ini aku memanggil seorang laki-laki. Ia agak aneh. Bahkan ia jarang berbicara
dengan perempuan. Di sekolah aku bertanya-tanya tentangnya ke sahabatku, Riska,
yang kebetulan adalah teman sekelasnya. Aku merasa ada yang berbeda dalam
dirinya. Entah apa itu. Seiring berjalannya waktu, aku semakin penasaran
dengannya. Pokoknya, aku harus mencari tahu infomasi selengkap-lengkapnya
tentangnya, Akbar.
19 September 2006
***
Untuk buku harianku,
Tahu
tidak? Hari ini aku bercakap-cakap dengan Kak Gema. Aku merasa senang sekali!
Entah, sepertinya ada perasaan lain yang mendatangiku. Setiap ia lewat saja aku
menjadi salah tingkah. Kak Gema memberikan senyuman terbaiknya padaku siang
ini. Kakak! Tapi mengapa aku merasa seperti ini sekarang? Padahal aku mengenal
Kak Gema dari SMP. Bahkan aku pun satu ekstrakurikuler dengannya.
Oh
ya, aku baru sadar, ternyata Akbar memiliki satu ekstrakurikuler yang sama
denganku. Mengapa bisa aku baru tahu setelah satu tahun SMA?
26 September 2006
***
Untuk buku harianku,
Wah,
sepertinya aku benar suka dengan Kak Gema. Ternyata jadwal pelajaran olah raga
kelasku dan kelas Kak Gema bersamaan, hari Kamis. Keren, ya, ia lumayan jago
olah raga. Sepertinya aku sedang kasmaran. Hahaha. Bahkan aku memberitahu
teman-temanku bahwa aku menyukai Kak Gema. Gila, bukan? Aku juga memberitahu
Kak Raka tentang ini tentunya.
28 September 2006
***
Untuk buku harianku,
Kakakku
ada apa denganmu? Katanya ia sedang gusar. Ia sedang ada masalah dengan
pacarnya, Ayu. “Katanya” sih, Ayu dekat dengan teman SMP-nya dulu. Sabar ya,
Kak. Kakak, bagaimana sih? Aku sedang kasmaran-kasmarannya tetapi Kakak malah
ada masalah dengan pacar. Tidak seru!
Sore
tadi, aku bertemu Kak Gema saat karate. Tuben ia ikut latihan! Ada Akbar juga.
Tapi seperti biasa, Akbar hanya diam.
Riska,
Dila dan aku menggila sore ini. Kami membicarakan soal orang yang kami sukai di
angkutan kota. Sangat frontal! Lalu Riska dan aku menjahili Dila yang memang
tidak mempunyai satu orang pun yang disukai. Dila, Dila, coba lihat wajahmu,
hidungmu memerah layak badut.
6 Oktober 2006
***
Untuk buku harianku,
Ah,
hari ini tidak ada suatu yang mengesankan. Aku hanya melakukan keseharianku
yang biasa. Datar. Aku berangkat sekolah, upacara, pulang sekolah. Pergi ke les
bahasa Inggris. Pulang. Membosankan.
Maaf,
ya, buku harianku, tidak ada yang menarik hari ini. Terlebih lagi aku tidak
melihat batang hidung Kak Gema.
9 Oktober 2006
***
Untuk buku harianku,
Sore
ini aku pulang bersama Kak Raka dengan angkutan kota. Kebetulan “ojek
kesayangan”-nya sedang tidak datang. Coba tebak! Kakak menceritakan hubungannya
dengan Ayu. Ternyata sedang bermasalah. Malang, ya, nasib Kak Raka.
Aku
melihat Akbar sedang bermain bola dengan teman-temannya. Ternyata ia andal! Aku
sekilas terpesona denga...
***
Untuk
buku harianku,
Aku hanya ingin mencatat bahwa AKU
MENCINTAIMU, AKBAR! Terima kasih untuk hari ini. Aku harap ki…..
25
Februari 2008
***
Baik, hanya itu yang aku temukan di lacinya sampai saat
ini, tempat ia menaruh semua arsipnya, tidak begitu rapi. Banyak yang hilang,
robek, bahkan berlubang dengan bekas gigitan tikus.
Kutipan pertama adalah potongan dari
sebuah cerita pendek yang ia buat. Di sana tertulis namaku. Bahkan aku ragu
kalau itu adalah cerita pendek. Sepertinya
itu hanya oretan di buku saja. Aku menemukannya di bagian belakang buku catatan
Biologi kelas 2 SMA miliknya. Halaman ini terlipat, seolah-olah ia tidak mau
orang lain tahu tentang ini. Aku mengingat kejadian itu, saat ia memanggilku.
Ya, panggilan pertamanya untukku. Aku hanya tersenyum agak tertawa melihat
kutipan ini. Rasanya, aku kembali ke masa lalu, masa SMA. Aku membayangkan
diriku yang dahulu. Memalukan.
Kutipan kedua sampai terakhir adalah
robekan kertas, mungkin dari buku hariannya. Tapi mengapa hanya halaman-halaman
ini saja yang ada? Mengapa hanya halaman-halaman ini yang ia robek? Ke mana
buku hariannya, sumber robekannya? Aku belum bisa menemukannya. Mungkin aku
sedikit gila karena kukuh dengan pendirianku untuk tetap mencari arsip yang
dimulai enam tahun lalu, sekitar 2006. Tapi aku harus! Bukan untuk apa-apa, ini
untuk memori.
Anehnya, aku menemukan catatan
harian yang berbeda dari yang lain. Catatan tanggal 25 Februari 2008. Catatan
yang aku temukan pada tanggal tersebut jelas membicarakanku setelah sebelumnya
ia menulis tentang Kak Gema atau Raka. Jangka waktunya cukup lama dari tahun
2006, dua tahun. Kertasnya pun berbeda. Kemungkinan ia menulisnya di buku yang
lain. Sepertinya ia mempunyai lebih dari satu buku harian. Rajinnya kau!
Kejadian di tanggal 25 Februari 2008
itu terukir di benakku juga. Kejadiannya panjang. Aku bisa menulis satu cerita
pendek untuk satu rangkaian kejadian itu. Mungkin nanti, aku bisa
menceritakannya. Yang jelas, aku harus menemukan arsip-arsip lain miliknya.
Jadi, itu adalah kekasihku, Isma. Ia
sedang terlentang tanpa daya dengan balutan kain putih yang sangat bersih. Aku
sempat tak percaya bahwa itu benar tubuhnya. Aku masih merasakan suaranya yang
selalu memanggilku, entah itu secara langsung, ataupun melalui telepon. Bahkan
aku bisa mencium aroma tubuhnya yang sangat menenangkan jiwa. Sungguh aku tidak
menyangka bahwa ini akan terjadi padanya.
Tribute
to Isma.
(Bogor,
29 September 2012)
Tentang Penulis : Thalia Maudina
Labels:
Cerpen,
Cerpen Cinta
07.28
Di sms gue sama sama dia selalu memakai nama khusus kaya
Tembok Penghalang
Written By Unknown on Senin, 18 Februari 2013 | 07.28
Oleh Nathaniel Juniar
Sampoerna Academy Bogor Campus
Mungkin
orang - orang kenal gue sebagai orang yang ceria, selalu bahagia, dll. Tapi mungkin itu semua
hanya dibelakang, istilahnya muka topeng lah. Ada yang bilang gue manis (so
pasti dong) , ada yang bilang gua jijikin daaaaaan ada yg bilang gue PLAYBOY
#whaat? yaaaah mungkin juga gue harus sadar dengan semua itu
Gue
punya mantan, namanya Nindian dan panggilannya tejo.. #jauh banget? ga ga,
panggilannya Ninan. Orang nya item manis bagaikan coklat cadburry kalo lagi dimakan,
rambutnya hitam panjang dan haluuuuss lagi (cocok kalo jadi bintabg iklan). Dia
juga cewek yang diidolakan disekolah gue. Banyak cowok disekolah gue yang
ngelirikin dia dulu. Anak basket, pinter, tajir, kurang apa coba?
Juli
2011
gue
mulai masuk SMA dan memulai masa - masa yang katanya adalah masa - masa emas
yang berkilau (cari kacamata item). Ada yang bilang juga di SMA ini kita bakal
dapet pengalaman yang tak terlupakan. Ada yang bilang juga dimasa masa ini kita
masih mencari jati diri yang mengakibatkan terciptanya kata "galau"
yang sangat populer dimasa anak muda. Tapi apakah semua itu akan terasa saat
kita bersekolah disekolah berasrama nan banyak peraturan? Saat itu gue masih jaim - jaimnya karena belum kenal apa
apa, beda dengan sekarang yang begajulan, make baju kemana mana, tebar
pesona dimana mana, namanya juga anak muda. Pada saat itu kami dikumpulkan di
satu ruangan tujuannya supaya kita bisa saling kenalan, dan bener. . dari situ
gua kenalan dengan banyak orang dan dari situ juga gue dapet sahabat yang klop sama gue, namanya Eli dan Novel.
Entah kenapa gue sama mereka selalu nyambung gitu, kaya ingus yang kalo kita
pengen buang susah banget buat dilepas. Dan dari situ juga gue mulai jatuh
cinta atau Fallin in Love dengan
seorang cewe yaitu mantan gue. Gue mulai liatin dia mulu kemanapun dia pergi
kecuali ke wc. Pernah waktu gue lagi liatin dia eehhh dia nengok, spontan
dengan rasa malu langsung deh gue malingin muka liat liat gajelas ke anak anak
yang lain, sumpah malu gue. Dari situ gue mulai berusaha buat deketin dan
dapetin dia. Usaha pertama gue adalah gue kenalan dengan dia, saat dia lagi
duduk sendiri gue diem diem deketin dia dan dengan tampang gatau malu mulai
ngajak kenalan.
"Hai,
boleh kenalan ga?" tanya gue kepadanya sambil gemeteran.
"Boleh
kok" sahutnya.
Waaah
gue seneng banget pada waktu itu, serasa gue pergi kebulan di tempat hampa
udara, meledak menjadi berkeping keping. Disaat itu gue minta nomor hp nya dan
dia ngasih (suatu muzizat), gue juga ngobrol ngobrol tentang kehidupan SMP
nya, keluarganya, dll. Karena gue dapet
nomor hp nya, mulai dari situ gue mulai smsan dengan dia, tiap hari, tiap
malem, lagi mandi, lagi boker, pokoknya waktu luang deh. Dan sampai tiba pada
saatnya gue memberanikan diri mengungkapkan apa yang ada di dalam hati gue
kepada dia.
28
Agustus
Hari
yang gue tunggu tunggu, bagi gue mungkin hari ini adalah hari yang bersejarah
buat gue (pengalaman yang tak terlupakan). Pada hari ini, dengan hati yang dag dig dug seer dengan memberanikan
diri gue berniat untuk nembak cewek yang gue liatin mulu mukanya sampe ga
bosen.
"Parfume?
gosok gigi? doa restu? ", tanya Rehu.
Rehu
juga temen gue di SMA ini. Bisa dibilang dialah penghibur disaat gue dan temen
temen gue lagi ngumpul. Kalo lagi nguap, dengan polosnya dia nguap kaya anak
panda imut imut yang lagi nguap. Dia punya rekor, pasti dalam sehari dia
menjatuhkan barang yang dia pegang, hp lah inilah itulah, dan pernah gue itung
dia pernah jatohin barang yang dia pegang 10x! dalam sehari, bisa masuk rekor dunia
tuh dia. Saat gue mau nembak si cewek, dia jadi saksi hidup dalam proses gue
nembak, dia jugalah yang menjadi penasehat sebelum gue nembak si cewek. Dan ga
ketinggalan wejangan wejangan hangat khas Rehu dia berikan ke gue.
"Udah
doa blum lo?" , tanya Rehu.
"Ngapain
berdoa? kaya udah mau nikahan aja doa segala", sahut gue.
"Jangan
galau ya kalo ga ketrima?", sahut Rehu kembali.
"Siap
bos!" kata gue meyakinkan Rehu.
Hari
semakin menunjukkan keperkasaannya dengan memancarkan cahaya eloknya, awan awan
berkumpul membentuk barisan seolah sedang memusyawarahkan sesuatu. Tak luput
angin yang kencang meniupkan anak anak daun kian kemari bak suporter bola yang
riuh men-suport club idolanya. Gue rasakan tiupan angin melewati seluruh tubuh
gue menembus baju yang gue pakai. Saat gue sedang berjalan buat nyari angin
sambil nyariin dia, gue liat dia sedang duduk di tempat duduk batu sendirian
berteman hijaunya dedaunan.
Kata
gue dalem hati, "ngapain dia disana? kira kira pas ga ya kalo gue nembak
sekarang?".
Perasaan
gue mulai bergejolak memikirkan hal itu,
hati kecil gue berkata, "lo harus nembak sekarang! ga ada
kesempatan lagi, ayo buruan!" tapi logika gue juga ngomong, "nanti lo
malu kalo ga diterima, mau ditaro dimana muka lo?" apa yang bakal lo
lakuin kalo jadi gue coba?”
Gue
mulai ambil napas dalem dalem, daleeem banget sampe hampir mau keluar dari
belakang. Gue pikirin semua hal hal yang bakal terjadi dan akhiiirrrnyaaaaa
#jeeng jeeng gue memutuskan untuk nembak dia dan siap menerima hasilnya. Gue
tau karena kalo gue simpen semua rasa ini, gue bakal nyakitin diri gue sendiri.
Lebih baik keluarin aja semua biar lega.
Sedikit
demi sedikit lama lama menjadi bukit gue mulai berjalan perlahan mendekati dia.
Dan sampai pada akhirnya gue duduk disamping dia dan bertanya,
“Lagi
ngapain disini? Boleh nemenenin ga ?”
“Boleh
kok lagian aku cuma duduk aja. Pemandangan disini bagus ya ? keren.. ga bakal
bosen kayaknya kalo sekolah disini.”
Sekolah
gue memang sekolah berasrama yang kebetulan asramanya di resort jadi ya
pemandangannya masih asri dan banyak orang yang sering berkunjung ke resort
ini. Jadi ya otomatis kami disini gabakal bosen karena kalau bosen tinggal
keluar aja, jalan – jalan liat pohon.
Disitu
gue seneng banget karena dibolehin duduk disebelahnya dan dipanggil “KAMU”
lagi, wah bagi gue ibaratkan dikasih uang segepok deh pada saat itu.
Jawab
gue kepadanya, “Iya bagus banget. Ga nyesel deh sekolah disini.”
Gue
ga kebayang bisa duduk disampingnya dan bisa liat mukanya sedeket ini. Bener –
bener manis orangnya, pengen deh gua bawa pulang dan gue makan karena sangking
manisnya.
Setengah
jam berlalu, gue ngobrol ngalor ngidul
dengannya sampai akhirnya gue memutuskan ini adalah saat yang tepat buat gue
ngungkapin isi hati gue. Gue mulai bertnaya kepada dia
“Hhhhmmm
Nan”.
“iya?”
,sahutnya.
“Boleh
nanya ga” , jawab gue dengan nada yang pelan.
“Kamu
ngomong apa? Ulang lagi dong.”
“Hhhmmm
boleh nanya ga ?” kata gue lagi.
“Apa
? gajelas nih!”.
“Wah
budek nih anak” ,kata gue dalem hati.
Dengan
dongkolnya gue ngomong lagi ke dia
“
Boleh nanya gaaaaaaaa?!”.
Dan
keselnya gue dia baru nngomong,
“Oooohhh
boleh kok!”
“Wah
bener – bener nih anak, belum jadi pacarnya aja udah diuji kesabaran dulu
gue”,kata gue dalem hati.
“Hhhhhmmmm
tapi maaf ya sebelumnya” ,kata gue.
“iyaaaa..”
“Bener
ya” ,kata gue lagi.
“Iyaaa...”
“bener
ya?” ,kata gue memastikan.
“IYAAAAAAAA”.
Wah mulai marah nih anak.
“Hhhhmmm
sebenernya aku udah lama pengen ngomong hal ini”,kata gue.
“apa
tuh?” tanya dia penasaran.
Dengan
penuh rasa deg – degan dan setelah mengambil napas dalam – dalam akhirnya gue
ngomong,
“Kita
kan udah kenal lama nih? Udah deket juga kan? Tapi jangan marah yaa? Gue suka
sama lo Nan. Mau ga lo jadi pacar gue, tapi gue harap kalo misalnya kita putus
kita jangan musuhan. Mau ga?”
Sehentak
situasi disekitar kami menjadi diam, sunyi , dan tertiup hembusan angin yang
lumayan kencang untuk menerbangkan rambutnya. Gue deg – degan nunggu jawaban
dia dan siap menerima jawaban dia entah baik ataupun buruk. Satu menit, dua
menit, tiga menit, empat menit pun telah berlalu. Kata gue dalem hati, kok ini
cewek lama banget ya jawabnya. Setelah menit yang kelima akhirnya dia pun
jawab,
“Hhhhmmm
gmana yaa, maaf aku gabisa.”
Deeegg..
spontan gue tertunduk diam ga ngomong apa – apa, bener apa kata Rehu, ternyata
gini rasanya kalo ditolak. Hati gue sakiiiiiiiiiitt banget, serasa hati ini
dibuang dari atas gunung Everest kebawah, dibakar dengan api neraka dan dicabik
– cabik oleh para setan. Situasi di sekitar kami spontan diam kembali, sama
seperti saat gue nyatain cinta tadi. Gue mulai banyak mengambil nafas dalam –
dalam, berusaha agar diri gue ga shock dan bisa tenang, gue gamau gue mati sia
– sia mati bunuh diri karena ditolak cintanya, masih banyak yang belum gue
lakuin didunia ini. Tapi 5 menit kemudian setelah kami hanya diam dan duduk
disitu, dia mulai ngomong lagi dan hal ini yang membuat gue kaget.
“Maaf
ya aku gabisa kalo nolak kamu.”
spontan
yang tadinya gue merasa hidup gue ga ada artinya lagi menjadi terang kembali
seperti matahari yang baru terbit dari arah timur. Wah ga kebayang deh betapa
senangnya gue saat itu, kalo bisa teriak udah teriak kali gue, tapi harus
nanggung malunya.
“Makasih
ya”, kata gue kepadanya sambil melontarkan senyuman kecil kepadanya.
“Aku
bakal berusaha untuk buat hidup kamu menjadi lebih berwarna”
haha
ngegombal gue. Hubungan gue ini adalah hubungan yang terlarang, Karena kami
berdua memiliki kepercayaan yang berbeda satu sama lain.
Gue
mulai ngejalanin hubungan gue dengan dia, setiap hari ya ketemuan mulu karena
gue dengan dia memang satu asrama jadi ya gampang kalo mau ketemuan. Bisa
ketemuan pas lagi makan, pas lagi belajar, dan enaknya gaperlu lagi deh yang
namanya ngedate. Paling kalo ngedate ya jalan – jalan sambil liat pemandangan
disekitar atau belajar bareng. Kalo ada pr yang susah biasanya tanya dia, kalo
ada ulangan pasti belajar bareng, dan lain – lain.
Di sms gue sama sama dia selalu memakai nama khusus kaya
“Hai
kebo lagi apa?”.
Gua
dipanggil kebo gara – gara gue jarang mandi. Kalo gue sms dia pake nama khusus
seperti
“Hai
Sara.. lagi apa?”
dan
begitu seterusnya. Di sms juga gue sering ngegombalin dia kaya
”Eh..
kok diluar bintangnya ga ada.. kemana ya ? tau ga ?“
Dia
jawab, “Gatauu.. emang dimana ?”
Gue
jawab lagi “Ini lagi smsan sama akuu”
Dia
bales, “Ahh kamu maah ngegombal aja kerjaanya”.
Yaaah
seperti itulah kira – kira masa – masa indah gue bersamanya setelah kira – kira
3 bulan semua itu berubah menjadi kelabu.
Kira
– kira 3 bulan lamanya gue udah ngejalanin kisah asmara gue dengan dia. Senang,
sedih, gembira, ketawa bareng, makan bareng, ngerjain pr bareng, seolah semua
itu baru gue jalanin kemarin dan tiba pada saatnya dinding tinggi yang tebal
pun mulai terbangun dan kokoh berdiri menunjukkan keberadaanya. Saat itu hari
masih siang sehabis gue pulang sekolah, tiba – tiba saat gue lagi jalan ke
kamar buat istirahat, orang tua arama gue memanggil gue dan berkata,
“sini
kamu.”
Spontan
gue kaget dan segera menuju ke arahnya. Setelah gue berdiri didepannya beliau
berkata
“Nak,
kamu jangan pacaran lagi ya, kamu mau dipulangin kerumahmu? Kamu mau orang
tuamu sedih karena kamu dipulangin? Disini kamu belajar dan bukan pacaran, jadi
tolong kamu pertimbangin apa kata saya ya.”
Sehentak
badan gue kaku gabisa gerak seolah olah badan gue berdiri di padang gurun yang
sepi dan ga ada siapa – siapa. Bunyi guntur pun terdengar di hati gue,, badai
besar melanda hati gue, membasahi hati gue yang tadinya musim semi berubah
menjadi badai dahsyat. Disitu gue cuma bisa diem ngeliat orang tua asrama gue,
dan dengan sekuat tenaga gue ngomong ke beliau,
“Iya
Bu, akan saya pertimbangkan. Terimakasih ya bu”. Ibu itupun pergi.
Dikamar
gue mulai galau gajelas, tidur kesana kesini, jalan kesana kesini kaya orang
kebelet pipis. Gue mulai mikirin apa yang ibu tadi omongin, yang mana yang
harus gue pilih? Ikutin apa kata hati gue atau ikutin apa kata ibu itu? Tembok
itu memang bener – bener ada dan gue berpikir apakah gue harus menghancurkan
tembok itu atau membiarkannya dan menjauh darinya. Tembok itu memang besar dan
susah untuk menghancurkannya, butuh pengorbanan yang besar untuk
mengahancurkannya. Gue mulai berkata dalam hati,
“Tuhan berikan hambamu ini jawaban atas semua
yang engkau berikan ini.”
Sejak
saat itu gue mulai ngejauh dari dia, menyendiri sejenak, menjauh dari keramaian
dari bisingnya suara – suara kerumunan. Gue mulai nanya ke temen – temen gue
tentang apa yang harus gue perbuat karena gue bener – bener gatau gue harus apa,
ibaratkan anak kecil yang kesesat mencari ibunya itulah kondisi gue sekarang.
Entah kenapa sejak saat itu juga banyak guru – guru yang menasehati gue dan
berkata agar gue menjauh dari pacar gue karena nilai gue mulai nurun.
2
hari, 3 hari, 4 hari, entah udah berapa hari gue lewatin tanpa dia. Gue mulai
ga smsan dengan dia, ga nyapa dia dan tiap malem dia sering sms gue dan
bertanya kepada gue
“Kamu
kenapa? Kok aneh?”
Semua
sms dia gapernah gue bales, gue ga tega buat ngomong ke dia, pasti dia bakal
nangis kalo denger semua ini. Gue butuh waktu untuk berpikir, untuk menentukan
keputusan apa yang bakal gue buat, belajar atau dia, itu yang selalu ada
dipikiran gue terus menerus dimanapun dan kapanpun gue berada (setia banget
memang pikiran ini).
Keputusan
sudah bulat, gue udah memutuskan tentang apa yang bakal gue perbuat selanjutnya.
Daripada gue gantungin dia ? kasian juga dia. Lebih baik untuk memutuskan
keputusan dari sekarang daripada terlambat. Hp sudah ditangan, tapi tangan pun
tak sekawan, rasanya berat banget buat sms dia untuk ngajak ketemuan. Selama
ini gue gapernah ketemuan lagi dengan dia, mungkin dia bakal seneng bisa
ketemuan lagi dengan gue tapi mungkin ini pertemuan terakhir gue dengan dia
sebagai seorang “PACAR”. Gue mulai ngetik sms ke di
“kamu
dimana?”
Sambil
nunggu balesan dari dia gue mikir – mikir lagi jadi atau tidaknya keputusan gue
ini. Dia bales,
“Lagi
di perpus, knpa ? kamu dimana?”
Muka
gue mulai cemberut ga ada bentuknya lagi. Gue jawab
“Lagi
di tempat duduk meja batu, bisa kesini ga?”
Gue
mulai berjalan menuju meja batu tempat gue nembak dia dulu. Gue teringat saat
gue nembak dia dulu di tempat itu, indaaaaah banget rasanya, yah mungkin ini
semua memang takdir yang diberikan Tuhan. Tanpa sadar gue mulai menitikkan air mata,
gue usap semua nya itu dengan tangan gue, gue udah memulai semua ini dan dengan
gentle gue juga yang harus mengakhirinya karena gue cowok.
Setelah
kira – kira 5 menit gue nunggu, gue melihat dia lagi jalan kearah gue, betapa
manisnya dia saat sedang berjalan. Gue nyesel udah nyia – nyiain dia, masih
banyak cowok didunia ini yang seiman dengan dia dan lebih daripada gue. Bengong
gue menghilang saat dia tiba – tiba dia ngagetin gue,
“Hhayooo
ngapain bengong!”
“Eh
gapapa kok.. hehe” jawab gue seadanya.
“
Ada perlu apa manggil aku kesini?”
“Gapapa
cuma mau liat kamu aja, kangen”
(padahal
mah dalem hati udah nangis ga karuan).
“Kamu
tau ga kalo aku selama ini udah sering diceramahin sama banyak guru?” kata gue.
“Enggak..
emang siapa aja yang udah nasehatin kamu? Banyak ya?” dengan polosnya dia jawab
begitu.
Gue
sendiri bingung mau jawab apa, dengan seadanya gue jawab,
“Hehe
iyaa..”
Keadaan
mendadak menjadi sunyi. Kami berdua tiba – tiba diam sejenak. Dengan basa –
basi gue bertanya lagi ke dia
“Gimana
belajar kamu? Ga ada masalah kan? Nilai kamu ga turun kan?”
“Enggak
kok ga ada yang turun sama sekali” , jawab dia.
Gue
mulai berusaha berkata terus terang tentang apa yang ingin gue omongin
sebelumnya, semoga ini memang keputusan yang terbaik.
“Hmmm
aku mau ngomong serius sama kamu, tapi aku minta maaf sebelumnya, boleh?” ,
tanya gue kepadanya
“Boleh
kok, tanya apa?” , jawab dia.
“Seperti
apa yang udah aku sampein ke kamu barusan, akhir – akhir ini aku sering di
nasehatin sama guru bahwa nilaiku mulai turun, dan guru – guru juga bilang
bahwa mereka ga seneng kalo ngeliat kita terlalu deket. Kita anak asrama, anak
beasiswa. Ga sepantasnya kita malah pacaran begini, seharusnya kita belajar
serius. Jadi aku minata maaf sebelumnya, kayaknya kita udahan aja sampe sini,
aku gatau ini adalah keputusan yang terbaik atau enggak, aku minta maaf banget
sama kamu kalo udah nyakitin kamu selama ini, belum bisa mejadi cowok yang
terbaik dimata kamu, aku minta maaf banget yaa. Tapi aku mau kita ga musuhan
sama seperti yang lainnya. Sekali lagi aku minta maaf.”
Keadaan
tiba – tiba menjadi sunyi kembali. Gue bingung mau ngomong apa lagi. Gue hanya
bisa tertunduk, diam, dan termenung. Keputusan sudah ditetapkan, semuanya sudah
bulat, nasi sudah menjadi bubur, mau apa lagi? Hati gue rasanya hancur
berkeping – keping saat itu. Cinta yang selama ini gue jalanin ternyata akan
berakhir seperti ini, tidak seperti yang gue harapkan seperti di film – film sinetron.
Tiba
– tiba dia berkata dengan nada yang pelan
“Jadi
kamu selama ini diem dan menjauh dari aku karena ini? Kalau memang itu
keputusan yang terbaik dan kamu inginnya seperti itu aku bisa ngerti. Maaf
kalau selama ini aku udah nyakitin kamu, aku bakal tetep inget semua kenangan
kita, ga akan aku lupain begitu aja kok.”
Dia
tersenyum ke gue, dibalik senyumnya gue lihat dia mulai meneteskan air mata,
air mata yang seharusnya gue jaga agar tidak menetes sedikitpun dan merupakan
tanggung jawab gue seharusnya.
Dia
pergi begitu saja meninggalkan gue setelah berkata seperti itu. Gue hanya bisa
duduk diem ga bisa apa – apa. Gue liat dia mulai mempercepat jalannya masuk
kedalam kamarnya. Gue gatau apa yang dia lakukan didalam kamarnya. Angin
bertiup kencang menerbangkan layang – layang hingga menjulang tinggi, awan –
awan berkumpul kembali membuat barisan yang rapi. Situasi ini sama seperti gue
dulu nembak dia, sunyi, diam, dihembuskan angin sepoi – sepoi, gue mulai
beranjak dari tempat duduk. Tembok besar, inilah yang engkau harapkan slama
ini, memang suatu perbedaan tidak akan pernah bisa menyatukan kami. Walaupun
hanya sesaat, namun hal itu hanyalah seperti bom waktu yang akan meledak entah
kapan waktunya meluluhkan semuanya. Gue pergi dan mencari Rehu, mungkin dia
bisa mnghibur gue disaat gue seperti ini.
Sehari
setelahnya gue tanya ke temen sekamarnya,
“Ninan
gapapa kan?”
“Gapapa
kok, Cuma bikin pulau gede di bantalnya. Nangis seharian tuh dia” , kata
temennya.
Dari
situ gue mulai merasa bersalah banget karena udah bikin dia nangis. Memnag
semuanya itu harus ada pengorbanan.
Sebulan
telah berlalu semenjak gue putus dengan Ninan. Entah hanya perasaan gue atau
bukan tapi kami mulai menjauh satu sama lain, keadaan yang sulit buat gue. Gue
berusaha melupakan semua itu tapi sulit, sulit sekali buat ngelupain dia. Teman
gue, Novel, Eli, dan Rehu mendatangi gue yang duduk sendirian di tempat duduk
meja batu.
“Ngapain
lo disini?” , tanya Novel
“Haha
gapapa kok cuma duduk – duduk aja” . jawab gue
“Alaaaaah
bohong lo, coba lah cerita dulu sama kita, siapa tau semunya bisa biikin lo
lega.”
Gue
ceritain semuanya, kata demi kata gue keluarin. Semua unek – unek gue selama
ini gue keluarin sampe semuanya lega.
Kaata
Rehu ke gue, “Nah kan bener kan lo jadi galau gini”
“Tapi
kan beda Hu galaunya”, jawab gue
Kata
Eli ke gue “Ternyata begini ya kalo lo galau”
“hahahahahahahaha......”
seketika kami semua tertawa lepas sambil melihat satu sama lain.
Sahabat
sangat berarti di kehidupan kita. Disitu gue melihat bahwa sahabat bisa
diandalkan disaat sedih maupun senang, sahabat adalah keluarga. Kadang – kadang
gue berpikir bahwa gimana keadaan kami dimasa depan. Seperti saat reunian,
semuanya sudah membawa mobil mewah beserta istri dan anak – anaknya, pasti
semuanya itu akan menjadi kenangan yang tak terlupakan. Ya, cewek bukan
segalanya, walaupun sakit untuk pergi darinya tapi percayalah bahwa Tuhan akan
memberikan yang terbaik pada nantinya. Nilai gue mulai naik, guru – guru turut
senang atas semuanya itu, gue bisa banggain orang tua gue seperti yang gue harapkan
saat masuk sekolah dulu. Tembok besar pun tersenyum kepada gue, tembok itu
berubah menjadi tembok indah yang tiada duanya. Tembok itu mengingatkan tujuan
gue sebenarnya. Memang benar perbedaan tak kan bisa menyatukan dua pasangan,
harus ada salah satu yang mengalah. Gue tetap mengingat cewek itu didalam hati
gue, sampai kapanpun gue gabakal bisa lupain dia, karena hanya dialah yang
dapat membuat gue menjadi seperti ini.
THE END
Tentang Penulis:
Sampoerna Academy Bogor Campus
Labels:
Cerpen,
Cerpen Cinta











