Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Buku Itu

Written By Unknown on Rabu, 03 April 2013 | 08.52

Oleh: M. Rajib
Sampoerna Academy Bogor Campus


Aku sudah tua. Aku sudah tua dan menunggu waktu yang habis. Aku sudah renta dan tak bisa berbuat hal yang penting untuk keluargaku. Aku sudah sekarat dan sedang menyesali masa laluku. Aku tidak pernah menyangka, penyesalan itu baru datang hari ini. Mengapa?
“Halo…” katamu.
Kau datang di saat seperti ini? Aku tak pernah menyalahkanmu. Mungkin kau sudah melupakannya, tetapi itu akan menjadi kutukan abadi untukku.
“Permisi…” katamu lagi.
“A… da a… p…pa?” tanyaku kepadamu. Aku mengeluarkan banyak energiku.
“Jangan berbicara!” Katamu dengan nada sedih. “Lebih baik kau diam dulu, aku ingin berbicara sesuatu.”
Kamu lalu mendekatiku dan mengelus rambutku. Aku terkenang saat-saat itu.
*
“Hei! Boleh aku pinjam bukumu?” tanyaku kepadamu.
“Jangan ah! Nanti hilang,” katamu cepat. Kamu seolah tidak ingin kehilangan buku yang aku pegang ini.
“Tenang, tidak akan aku hilangkan kok!”
“Janji?”
“Ya, aku berjanji,” ujarku.
Kamu terdiam. Mencoba mencerna apa yang aku katakan. Sesaat kemudian kamu berkata, “Baiklah. Tapi janji ya nanti dibalikin..”
Aku mengangguk.
Kamu lalu berbalik badan dan melangkah masuk ke dalam kelas.
“Eh? Kamu minjemin buku itu?” Ia bertanya. Rasa-rasanya ia tidak suka. Wajar saja. Buku itu selalu kamu jaga dan tidak pernah kamu pinjamkn kepada siapapun. Dia, teman baikmu itu, tentu saja terkejut saat mengetahui bahwa kamu meminjamkan bukunya padaku.
Aku selalu teringat saat itu. Tetapi tiba-tiba, saat aku sampai di rumah, ayahku memberitahu bahwa malam itu juga ayah dan ibu akan mengajakku untuk pindah ke Negara Tetangga. Tanpa banyak bicara mereka mengambil tasku dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Kami bertiga pun berangkat ke negara tetangga.
Di sana aku hidup bahagia. Tetapi aku merasa dikutuk. Bukumu masih ada di tanganku dan belum kukembalikan. Setelah tiga tahun aku berada di negara tetangga, aku baru menyadari bahwa waktu itu aku meminjam buku milikmu.
“Itu buku siapa?” tanya ibu.
“Buku temanku di negara asal kita,” jawabku.
Ibuku terkejut bukan main. Ibuku segera masuk ke kamar dan tidur. Mungkin ibuku itu sudah lelah. Maklum, umurnya sudah cukup tua.
Dan sekarang aku kembali bingung harus kuapakan buku ini. Aku tidak pernah mendengar kabarmu. Nomor teleponmu saja aku tidak punya. Sial, kutukan ini akan terus menghantuiku. Kutukan janji yang tak bisa ditepati.
*
“Jangan terlalu dipikirkan. Biarkan saja, aku sudah tidak peduli dengan buku itu,” ujarmu sambil menangis.
“Maafkanlah,” katamu lirih. “Jangan jadikan bukuku sebagai kutukan bagimu. Aku sadar saat nenek menyerahkan buku itu kepadaku. Ia juga berkata jangan pernah meminjamkan buku ini. Aku sangat bingung mengapa ia tidak memperbolehkanku meminjamkannya. Ternyata begini… ternyata nenek tidak ingin masa lalunya terulang. Pantas nenek berkata bahwa buku ini ia dapatkan dari temannya yang pernah meminjamnya setelah sekian lama.”
Aku terhenyak. Ternyata buku itu memang kutukan.
“Apakah kau pernah membaca buku itu?” tanyamu kepadaku. “Buku itu bercerita tentang seorang lelaki yang tidak mampu mengembalikan bukunya hingga akhir hayatnya. Sudah kuduga, buku itu memang kutukan. Sudahlah, jangan terlalu pikirkan buku itu. Bukan salahmu juga buku itu kini hilang.”
Aku tidak tahan lagi. Aku lalu mengumpulkan seluruh energiku yang tersisa lalu berkata, “Itu janjiku! Aku tidak bisa menepati janjiku! Aku, ohok!” Aku batuk darah. Penyakitku ini sudah sangat kumat.
Kau mungkin memang sudah menjadi seorang nenek. Tetapi kau masih bugar. Sedangkan aku? Baru memiliki satu cucu dan sekarang aku sudah di ujung tanduk. Ya, kutukan ini akan selalu melekat kepadaku.
Tiba-tiba datang seorang cucumu. Ia menggenggam buku biru besar yang lucu. Aku dan kamu terdiam. Buku itu… bagaimana bisa?
“Nenek, buku ini untukku ya?” kata cucumu dengan suara imutnya.
Aku hendak membantah. Namun apa daya, aku tidak bisa bergerak. Sementara, di akhir hayatku, aku sempat melihat reaksimu. Aku melihatmu terbengong-bengong melihat cucumu.

Tentang Penulis: M. Rajib
Sampoerna Academy Bogor Campus

SA Scout Journey to Curug Kembar

Written By Unknown on Minggu, 17 Maret 2013 | 05.14


                                                                         Oleh Rosalina (Komunitas Penggores)
                                                                                Sampoerna Academy Bogor Campus

Teman-teman tahu gak sih ekskul pramuka SA baru aja ngadain acara latihan outdoor yang pastinya seru banget. Bertepatan dengan hari raya umat Hindu yaitu Hari Raya Nyepi, 12 Maret 2013, anak pramuka SA berlatih survival di Curug Kembar, Cisarua Bogor. Acara ini diprakarsai oleh pelatih baru Pramuka SA yaitu Kak Muhamad Tirta Yasa atau yang biasa dipanggil Kak Tirta. Selain Kak Tirta yang menemani teman-teman pramuka SA Bogor, ada juga Kak Fika yaitu istri dari Kak Tirta dan Ibu Vitha yang tak lain adalah pembina ekskul pramuka SA Bogor turut hadir disertai dengan Pak Patrick.
Perjalanan diawali pada pukul 6.30 a.m. menggunakan angkot. Sesampainya di depan pintu masuk Curug Kembar kira-kira pukul 8.00 a.m. teman-teman pramuka SA melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki hingga menuju Curug Kembar itu sendiri. Kalau bisa dibilang curugnya sih tidak terlalu istimewa hanya ada dua curug yang berdekatan n’ that’s why namanya Curug Kembar. Tetapi teman-teman yang istimewa adalah perjalanan menuju Curug Kembarnya. Kenapa? Karena jalannya itu sangat jauh dan curam sekali, tanah yang tidak rata dengan bebatuan yang banyak, jalan setapak yang extra kecil dan sungai yang banyak sekali dijumpai dan meminta untuk dilewati. Ampuuun deh... belum lagi teman-teman banyak sekali tanaman liar yang beracun dan hewan-hewan yang mengganggu seperi pacet atau lintah. Tapi justru itu teman-teman yang bikin seru dan challeging buat perjalanan latihan survival pramuka SA Bogor ini. Jadi greget latihan survivalnya...hhee
Diluar kondisi itu apa sih yang dilakukan teman-teman pramuka SA Bogor disana? Latihan survival, pastinya. Tapi survival seperti apa sih? Sepertinya ini sudah general yaitu latihan membuat api di hutan. Sekilas info ada tiga teknik untuk membuat api di hutan yaitu dengan kaca pembesar, dengan kaleng bekas yang diolesi coklat dan dengan air. Wahh dengan air? Apa gak salah tuh? Jawabannya adalah tidak, karena itu memang terbukti bisa menghasilkan api seperi yang sudah dilakukan Fachri Wijaya, anak pramuka SA Bogor. Selain membuat api dengan tracknya yang super challenging ini bisa meningkatkan kekompakan diantara sangga-sangga masing-masing. Dan kekompakan inilah yang juga menambah kesan indah dan seru di perjalanan teman-teman pramuka SA Bogor.
Selain itu ada lagi nih teman-teman satu cerita yang mengesankan. Apa itu? Itu adalah berteduh di warung milik kakek tua, hal ini disebabkan karena ditengah-tengah perjalanan pulang teman-teman pramuka SA hujan deras tiba-tiba menghampiri dan memaksa mereka untuk berteduh. Inilah lagi yang menambah kekompakan diantara mereka, menunggu hujan reda di warung kakek tua yang tidak terlalu besar.
Rasanya bakal lebih klop kalau teman-teman lihat beberapa foto perjalanan mereka. Dibawah sudah tersedia nih untuk teman-teman.... :)






























           

Prince's Spy

Written By Unknown on Sabtu, 09 Maret 2013 | 22.38

Oleh Rosalina (Komunitas Penggores)
Sampoerna Academy Bogor Campus

“Now... Welcome... Dolphin House,”  ucap Mr. Yassa serayak dengan sambutan tepuk tangan meriah oleh seluruh penonton. Kali ini adalah penampilan kedua, akan dibawakan oleh Dolphin House yang sebelumnya adalah Rhino House dengan drama singkat Cinderlelet modernnya. Kalau cerita dongeng yang sering kita dengar adalah Cinderella, putri yang ditinggal mati oleh ayah dan ibunya sehingga harus hidup bersama ibu dan kakak-kakak tirinya yang jahat, Rhino punya Cinderlelet yang cantik jelita tapi kerjanya kaya keong banget. Menyapu lantai 1x1 meter saja memakan waktu satu jam. Gubrakk! Oleh karena itu yang selalu mengerjakan pekerjaan rumah adalah ibu dan kakak-kakak tirinya. Wahh revolusi besar, benar-benar berbanding terbalik 1800 dengan cerita Cinderella zaman dulu. (Kalau gitu kenapa dulu Cinderella gak pura-pura jadi Cinderlelet aja yaaak? Biar gak dijadiin budak terus. Dasar Cinderella gak kreatif)
            Eh, balik lagi ke penampilannya Dolphin. Gue udah dag dig dug aja setelah gue depresi lihat Rhino tampil tadi yang bisa dibilang cukup keren. Iyalah, gimana gak depresi, secara house gue ga ada persiapan apa-apa, cuma rencana mentah dan sekali latihan yang ancur-ancuran. Dan gue, bakal lebih depresi lagi kalau ternyata penampilannya Dolphin juga bakal keren atau bahkan lebih keren. (Pingsan dan gak mau bangun lagi)
            Anyway, mugkin kalian masih terbingung-bingung dengan apa sih maksudnya house-house yang dari tadi gue bilang. Okeh, well kalau kalian pernah tahu cerita Harry Potter, mungkin kalian juga pernah tahu Griffindor, Slytherin, Huflepuff dan Ravenclaw. Itu adalah nama house-house yang ada di asrama Harry Potter. Begitu juga halnya yang ada disekolah gue, bedanya kalo Hogwarts punya empat house, sekolah gue punya 9 house, yaitu Shark, Manta Ray, Dolphin, Rhino, Lion, Komodo, Dove, Eagle dan Hornbill. Dan gue, ternyata adalah seorang eagle yang harus selalu bisa mendapatkan semua yang ia targetkan dan ga ada satu pun yang bisa menghalanginya. Hahaha...
            Dan kali ini kita lagi ada acara Leadership Camp. Ini adalah malam pertama kita ditempat kemahnya, mungkin lebih tepatnya adalah malam pertama dan terakhir karena kemahnya juga cuma dua hari satu malam. Acara malam ini adalah penampilan dari tiap-tiap house dan api unggun.
            Ternyata Dolphin menampilkan drama singkat juga, tapi kali ini bukan Cinderlelet, tapi drama yang bernuansa penduduk Jepang dengan judul Legenda Batu Tapak. Drama ini mengisahkan tentang perguruan bela diri bernama Jempol Suci yang setelah para pendekarnya sakti, salah satu diantaranya meninggalkan perguruan dan mendirikan perguruan baru bernama Jidat Suci.
            Mungkin karena terlalu banyak improvisasi dan respon yang besar dari para penonton, Dolphin tidak dapat melanjutkan dramanya karena kehabisan waktu alias time’s up. Padahal dramanya mereka lucu banget, mungkin karena bawaan sifat sebab anak-anak Dolphin didominasi anak-anak tukang ngelawak.
            Dan penampilan dilanjutkan oleh house-house selanjutnya. Akhirnya sampailah pada giliran house gue. Bagaimana penampilannya? Jangan ditanya. Kalian bisa menyimpulkan sendiri penampilan anak-anak individualis yang gak pernah menang kalau bekerja dalam satu tim. Ya itulah eagle. Mana ada eagle yang terbang bersama-sama, mereka memang individualis. Karena mereka bisa menbuat kenyamanan dengan dirinya sendiri, tanpa orang lain.
            “El, satu nih...” terdengar kata Emil yang membawakan jagung bakar dan langsung membuyarkan lamunan gue yang sedang memikirkan betapa hancurnya penampilan gue tadi.
            “Ohh iya, makasih yah...” gue mengambil jagung itu dengan perasaan tidak bersemangat.
            “El, kita ke tempat api unggun sekarang yuk” Ajak Tiara tiba-tiba. Tiara adalah sahabat gue yang sangat mirip dengan gue. Mungkin dia lebih tepat dibilang kembaran, kenapa? Karena segala sesuatu yang ada di dia pasti ada juga di gue. Pokoknya semuanya sama, contohnya aja, dia baru aja ngajakin gue ke tempat api unggun sekarang karena dia ga terlalu suka keramaian, sama seperti gue. Itu satu contohnya, sisanya banyak banget.
            “Emm, boleh...” tanpa ragu gue pun pergi ke tempat api unggun sama Tiara.
            Sesampainya disana jelas saja tidak ada satu orang pun. Gue dan Tiara duduk berdekatan dan hanya memandang api unggun yang belum menyala.
            “Ra, kayanya feeling gue bener deh...” ucap gue memecahkan keheningan.
            “Feeling yang mana?” jawab Tiara datar.
            “yang tadi gue ceritain di bus”
            “Yang menurut loe nanti diacara api unggun dia bakal duduk disamping loe?”
            “Yoi.”
            “oww, let’s see then”
            Kami pun kembali menatap api yang masih terdiam sambil berusaha menghabiskan jagung kami masing-masing. Gue lihat jagungnya Tiara, sudah tinggal dua baris lagi, pasti dalam waktu dua menit aja dia sudah bisa menghabiskannya, sedangkan gue, masih banyak banget, entah berapa baris lagi. Dan, perut gue sudah bener-bener ga bisa nampung lagi jagungnya, jadi gue hanya memegangnya dan kembali menatap tumpukan-tumpukan kayu yang dalam waktu beberapa menit lagi akan berubah warnanya menjadi hitam legam.
            10 menit kemudian, Mr. Yassa dengan guru-guru dan teman-teman gue mulai berdatangan ketempat api unggun. Termasuk dia, yaa dia. Dia berjalan menuju arah tempat gue duduk dengan gitar kesayangannya. Gitar yang selalu menemaninya dikala dia sedang galau atau kesepian. Gitar yang menghantarkannya ke posisi juara satu lomba gitar akustik klasik. Dan perkenalkan namanya adalah Kenzie.
            Sebagai gadis bermata minus 1.5, gue selalu menyiapkan kacamata kemana pun gue pergi. Gue ga pernah pakai kacamata itu seharian, males banget, kacamata berbingkai warna biru, ukkh norak, udah kaya Betty Lavea aja. Jadi, gue hanya menyimpannya di saku dan gue pakai apabila sewaktu-waktu ada hal yang penting dan harus gue lihat dengan jelas.
            Dan contohnya adalah kali ini, di kejauhan sekitar jarak 5 meter, gue lihat Kenzie berjalan kearah gue. Gue langsung memakai kacamata Betty Lavea gue, dan benar saja dia jalan kearah gue dan sekarang tinggal 2 meter lagi dan yaaa saudara-saudara akhirnya dia pun duduk disamping gue tanpa gue undang. (Gue udah kaya operator pertandingan sepak bola aja saat meneriakkan bola gol, bedanya kali ini dalam hati. Gaje? memang)
            “Elmaaaa, dia duduk disebelah loe” bisik Tiara di sebelah  gue dengan nada yang mengagetkan.
            “Iya Ra, gue tau, biasa aja dong jangan bikin gue skakmat.” Jawab gue khawatir.
            “Hai Ken...” Tiara menyapa Kenzie yang sedang duduk disebelah gue dan sedang membetulkan sesuatu di gitarnya.
            “Ehh, hai Tiara, dari tadi disini?” Jawab Kenzie dengan suara seksinya yang serak-serak gimana gitu.
            “Emm iya, ini dari 30 menit lalu, diajakin Elma.” Tiara membalikkan fakta, jelas-jelas kan dia yang ngajakin gue tadi. Gue langsung membantah.
            “Heh, gue? Enak aja, bukan, Tiara yang ngajakin.” Bantah gue tetapi ternyata suara gue yang keluar sama sekali ga kaya nada membantah. Hah gagal, malu deh.
            Sekejap, ga ada suara lagi, dari gue, Tiara ataupun Kenzie. Dan acara pun dimulai. Beberapa guru seperti Mr.Ben, Mr. Arief, dan Mr. Farrel sudah menyalakan api unggun yang sedari tadi terdiam sunyi.
            “Well, guys, you can enjoy this beautiful night with the bon fire. Kalian bisa nyanyi-nyanyi atau apa pun yang ingin kalian lakukan, yang penting jangan pergi jauh-jauh dari tempat ini, okay?” terdengar suara Ms. Marissa mengintruksikan kegiatan untuk malam ini. Serentak kami semua menjawab “Okay Mis.”
            Setelah itu gue liat ada beberapa temen yang pergi dari bon fire dan mencari teman-teman yang lain hanya untuk sekedar mengobrol. Ada juga yang bermain gitar dan bernyanyi-nyanyi bareng. Tapi gue masih dalam PW gue alias posisi wenak, dengan Tiara dan Kenzie disamping gue, kita bertiga.
            “tadi ngapain duluan kesini Elm?” tanya Kenzie sambil mulai memainkan instrument yang dipegangnnya.
            “ohh, ya pengen aja, kebetulan tadi si Tiara ngajak. Disini tempatnya cocok buat ngegalau Ken, wkwkwk...” jawab gue asal. Perasaan gue udah dag dig dug der dor pas Kenzie melontarkan pertanyaan pertamanya. Huaahh, serasa mau pingsan.
            “Eh Ken, El, gue pergi dulu ya,” kata Tiara nyerobot.
            “Mau kemana?” tanya Kenzie.
            “Sasha n’ Rio dkk nyuruh gue ketempatnya.”
            “ohh oke” kata Kenzie lagi.
            “daadah Elma, have a nice night. Temenin Elma ya Ken.”
            “pasti!” jawab Kenzie tegas.
            Gue cuma bisa senyum aja mendengar perkataan Tiara tadi. Dan Tiara pun berlalu. Sisanya tinggal ada gue sama Kenzie, hah nggk gue mimpi. Gue pukul-pukul pipi gue sampe merah kali tapi tetep aja yang disebelah gue Cuma Kenzie, gue tetep berdua sama dia, tidaaakkk ini ga mimpi.
            “Elm, ngapain pukul-pukul pipi begitu?” tanyanya.
            “hah? Nggk, gue ga nyangka aja sekarang lagi duduk berdua sama loe Kenzie. Gue kira gue lagi mimpi, makanya gue mukul-mukul pipi.” Jawab gue polos.
            “hahaha Elm, ada-ada aja kamu.”
            Yaaa, gue selalu seneng kalo dia lagi ngobrol sama gue, karena dia pasti panggil gue Elm, ga ada satu orang pun yang pernah panggil gue Elm, palingan El, tapi dia? Mungkin itu panggilan sayangnya ke gue. Hahah. Satu lagi dia pasti kalo ngomong sama gue ga pernah pake “gue, loe” pasti “aku, kamu” itulah yang membuat gue suka sama dia, co cweet banget. Padahal sama temen lain dia ngomongnnya “gue, loe” hahah (tawa kemenangan kedua)
            Ditengah pergulatan gue dengan pikiran gue sendiri, gue dengar Kenzie mulai memainkan lagu dengan gitarnya itu.
            “Saat bahagiaku duduk berdua denganmu hanyalah bersamamu. Mungkin aku terlanjur tak sanggup jauh dari dirimu, kuingin engkau selalu tuk jadi milikku...” Kenzie masih tetap menyanyikan lagu yang berjudul Saat Bahagia lagunya Ungu. Selagi dari awal dia nyanyi gue liatin dia dan loe tau? Wajah dia juga menghadap ke gue. Dengan matanya yang mencerminkan kedamaian sejati, gue merasa dia nyanyiin lagu itu buat gue, bener-bener buat gue.
            Ohh god, thanks. What a wonderful night!
            “Ken, suara kamu bagus” ucap gue berusaha melafalkan kata “kamu” dengan baik, supaya terkesan lebih romantis suasannya.
            “iya dong, aku kan mantan boyband sm*sh, hhaaha” katanya
            “jadi sm*sh aja bangga,” ledek gue.
            “biarin dong.”
            “Ken, maksudnya apa tuh lagu tadi?”
            “itu lagu buat kamu Elm”
            “ha? Maksudnya?”
            “itu adalah apa yang aku rasakan sekarang. U know that song right? i guess u know the meaning n’ what i mean”
~~~
            “Raaaaaaaaaaaaaaaa, bener Ra, malah dia tadi nyanyiin Saat Bahagia buat gue” gue teriak kenceng banget saat udah ada ditenda.
            “hahahaa, congratz yahh. Satu langkah lagi menuju pelaminan El. Hahaha”
            “pelaminan dari Hongkong?”
~~~
            Pagi-pagi banget sekitar jam 5 sudah banyak aja anak-anak yang pergi mandi. Ada dua alasan, mungkin mereka menghindari ngantre atau mungkin kemaren sore mereka ga mandi. Huahh. Gue sama Tiara juga udah bangun, bukan buat mandi tapi karena tenda yang pas-pasan sehingga kita harus tidur desek-desekkan. Badan gue pegel-pegel jadinya gue sama Tiara bangun.
            “El, dengar ga? Ada suara prince gue.” Kata Tiara. Prince adalah sebutan buat cowok-cowok yang kita suka.
            “oh ya? Coba. Iya Ra, dimana dia?”
            “kayanya didepan deh.” Tiara langsung membuka sedikit resleting tenda buat ngintipin princenya dia.
            “dia didepan tenda kita El,”
            “Mana mana” gue ikut-ikutan ngintip kaya Tiara, walaupun lubang buat ngintipnya hanya cukup untuk 2 mata gue dan Tiara.
            “cieee, Tiara” gue teriak, sengaja supaya princenya Tiara nengok ke tenda kita. Dan benar saja, seketika itu princenya Tiara nengok ke tenda gue sama Tiara. Dari dalam gue ketawa ngakak dan membuat princenya malah celingak-celinguk nyari sumber keributan yang tak lain adalah tenda kami. Wkwk
            “hahah, kita kaya spy aja ya Ra, mata-matain prince dari celah tenda yang super duper kecil.”
            “hahah iya spy El, asik ya jadi spy, hhahah”
            Gue sama Tiara terus aja memata-matain Princenya Tiara, gak lama dia pun pergi dari depan tenda dan tontonan pun usai. Tiara sedih dia pergi, tapi ga terlalu sih. Karena udah ngintipin dari tadi.
                        Tepat pukul 8, gue sama Tiara lagi ada di tenda buat nyiapin barang-barang buat pergi ke air terjun. Saat kami lagi packing, gue denger ada suara Kenzie. Dan gak lama, “saat bahagiaku duduk berdua denganmu hanyalah bersamamu.” Kenzie nyanyi lagu itu lagi. Dengan cepat gue langsung ngintip dan ternyata dia lagi duduk di atas batu yang gak jauh dari tenda gue dan duduk menghadap tenda gue.
            “denger tuh El, nyanyi lagi, itu bener-bener pesan yang ingin dia sampaikan kali El ke loe”
“iya ya Ra, akkh senangnya,” gue terus ngintipin dia dari dalam tenda. Cukup lama. Gue memandang wajah dia yang bersih karena baru beres mandi. Gue mata-matain dia dengan kacamata Betty Lavea gue. Sesekali gue liat dia melirik kearah tenda gue tapi karena celah yang dibuka cuma kecil bahkan gak keliatan, dia pun hopeless dan terus bernyanyi.
            “terus aja ngintip” komen Tiara.
            “hahaa”
            “loe berbakat jadi spy El.”
            “iya dong, loe juga Ra.”
            “Iyaa kita” ucap gue berbarengan sama Tiara (sehati)
            “yaa, Prince’s Spy hahahah” dan lagi, kita berbarengan tertawa. Hemm memang Tiara adalah kembaran sejati gue.

Selesai

Tentang penulis:

Advertisment

alt anda alt anda alt anda alt anda The Billion Rupiah Homepage alt anda

Info Lomba Corner

More on this category »
 
Support : Baktiar Nur Makmura | Hedi M Fauzi | Nahdi Permadi | Aan Anipah | Azka Azizah
Copyright © 2013. Goresan Anak Bangsa - All Rights Reserved
Template Edited by @BMakmura Published by @KangHedi
Proudly powered by Blogger