Oleh: M. Rajib
Sampoerna Academy Bogor Campus
Aku sudah tua. Aku sudah tua dan menunggu waktu
yang habis. Aku sudah renta dan tak bisa berbuat hal yang penting untuk
keluargaku. Aku sudah sekarat dan sedang menyesali masa laluku. Aku tidak
pernah menyangka, penyesalan itu baru datang hari ini. Mengapa?
“Halo…” katamu.
Kau datang di saat seperti ini? Aku tak pernah
menyalahkanmu. Mungkin kau sudah melupakannya, tetapi itu akan menjadi kutukan
abadi untukku.
“Permisi…” katamu lagi.
“A… da a… p…pa?” tanyaku kepadamu. Aku
mengeluarkan banyak energiku.
“Jangan berbicara!” Katamu dengan nada sedih.
“Lebih baik kau diam dulu, aku ingin berbicara sesuatu.”
Kamu lalu mendekatiku dan mengelus rambutku.
Aku terkenang saat-saat itu.
*
“Hei! Boleh aku pinjam bukumu?” tanyaku
kepadamu.
“Jangan ah! Nanti hilang,” katamu cepat. Kamu
seolah tidak ingin kehilangan buku yang aku pegang ini.
“Tenang, tidak akan aku hilangkan kok!”
“Janji?”
“Ya, aku berjanji,” ujarku.
Kamu terdiam. Mencoba mencerna apa yang aku
katakan. Sesaat kemudian kamu berkata, “Baiklah. Tapi janji ya nanti
dibalikin..”
Aku mengangguk.
Kamu lalu berbalik badan dan melangkah masuk ke
dalam kelas.
“Eh? Kamu minjemin buku itu?” Ia bertanya.
Rasa-rasanya ia tidak suka. Wajar saja. Buku itu selalu kamu jaga dan tidak
pernah kamu pinjamkn kepada siapapun. Dia, teman baikmu itu, tentu saja
terkejut saat mengetahui bahwa kamu meminjamkan bukunya padaku.
Aku selalu teringat saat itu. Tetapi tiba-tiba,
saat aku sampai di rumah, ayahku memberitahu bahwa malam itu juga ayah dan ibu
akan mengajakku untuk pindah ke Negara Tetangga. Tanpa banyak bicara mereka
mengambil tasku dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Kami bertiga pun
berangkat ke negara tetangga.
Di sana aku hidup bahagia. Tetapi aku merasa
dikutuk. Bukumu masih ada di tanganku dan belum kukembalikan. Setelah tiga
tahun aku berada di negara tetangga, aku baru menyadari bahwa waktu itu aku
meminjam buku milikmu.
“Itu buku siapa?” tanya ibu.
“Buku temanku di negara asal kita,” jawabku.
Ibuku terkejut bukan main. Ibuku segera masuk
ke kamar dan tidur. Mungkin ibuku itu sudah lelah. Maklum, umurnya sudah cukup
tua.
Dan sekarang aku kembali bingung harus kuapakan
buku ini. Aku tidak pernah mendengar kabarmu. Nomor teleponmu saja aku tidak
punya. Sial, kutukan ini akan terus menghantuiku. Kutukan janji yang tak bisa
ditepati.
*
“Jangan terlalu dipikirkan. Biarkan saja, aku
sudah tidak peduli dengan buku itu,” ujarmu sambil menangis.
“Maafkanlah,” katamu lirih. “Jangan jadikan
bukuku sebagai kutukan bagimu. Aku sadar saat nenek menyerahkan buku itu
kepadaku. Ia juga berkata jangan pernah meminjamkan buku ini. Aku sangat
bingung mengapa ia tidak memperbolehkanku meminjamkannya. Ternyata begini…
ternyata nenek tidak ingin masa lalunya terulang. Pantas nenek berkata bahwa
buku ini ia dapatkan dari temannya yang pernah meminjamnya setelah sekian
lama.”
Aku terhenyak. Ternyata buku itu memang
kutukan.
“Apakah kau pernah membaca buku itu?” tanyamu
kepadaku. “Buku itu bercerita tentang seorang lelaki yang tidak mampu
mengembalikan bukunya hingga akhir hayatnya. Sudah kuduga, buku itu memang
kutukan. Sudahlah, jangan terlalu pikirkan buku itu. Bukan salahmu juga buku
itu kini hilang.”
Aku tidak tahan lagi. Aku lalu mengumpulkan
seluruh energiku yang tersisa lalu berkata, “Itu janjiku! Aku tidak bisa
menepati janjiku! Aku, ohok!” Aku batuk darah. Penyakitku ini sudah sangat
kumat.
Kau mungkin memang sudah menjadi seorang nenek.
Tetapi kau masih bugar. Sedangkan aku? Baru memiliki satu cucu dan sekarang aku
sudah di ujung tanduk. Ya, kutukan ini akan selalu melekat kepadaku.
Tiba-tiba datang seorang cucumu. Ia menggenggam
buku biru besar yang lucu. Aku dan kamu terdiam. Buku itu… bagaimana bisa?
“Nenek, buku ini untukku ya?” kata cucumu
dengan suara imutnya.
Aku hendak membantah. Namun apa daya, aku tidak
bisa bergerak. Sementara, di akhir hayatku, aku sempat melihat reaksimu. Aku
melihatmu terbengong-bengong melihat cucumu.
Tentang Penulis: M. Rajib
Sampoerna Academy Bogor Campus










Posting Komentar