Oleh Rosalina (Komunitas Penggores)
Sampoerna Academy Bogor Campus
“Now... Welcome... Dolphin House,” ucap Mr. Yassa serayak dengan sambutan tepuk
tangan meriah oleh seluruh penonton. Kali ini adalah penampilan kedua, akan
dibawakan oleh Dolphin House yang
sebelumnya adalah Rhino House dengan
drama singkat Cinderlelet modernnya. Kalau cerita dongeng yang sering kita
dengar adalah Cinderella, putri yang ditinggal mati oleh ayah dan ibunya sehingga
harus hidup bersama ibu dan kakak-kakak tirinya yang jahat, Rhino punya Cinderlelet yang cantik
jelita tapi kerjanya kaya keong banget. Menyapu lantai 1x1 meter saja memakan
waktu satu jam. Gubrakk! Oleh karena itu yang selalu mengerjakan pekerjaan
rumah adalah ibu dan kakak-kakak tirinya. Wahh revolusi besar, benar-benar
berbanding terbalik 1800
dengan cerita
Cinderella zaman dulu. (Kalau
gitu kenapa dulu Cinderella gak
pura-pura jadi Cinderlelet aja yaaak? Biar gak dijadiin budak terus. Dasar
Cinderella gak
kreatif)
Eh, balik lagi ke penampilannya Dolphin. Gue udah dag dig dug aja
setelah gue depresi lihat
Rhino tampil tadi yang bisa dibilang
cukup keren. Iyalah, gimana gak
depresi, secara house gue ga ada
persiapan apa-apa, cuma rencana mentah dan sekali latihan yang ancur-ancuran.
Dan gue, bakal lebih depresi lagi kalau ternyata penampilannya Dolphin juga bakal keren atau bahkan
lebih keren. (Pingsan dan gak
mau bangun lagi)
Anyway,
mugkin kalian masih terbingung-bingung dengan apa sih maksudnya house-house yang dari tadi gue bilang.
Okeh, well kalau kalian pernah tahu cerita Harry Potter, mungkin
kalian juga pernah tahu
Griffindor, Slytherin, Huflepuff dan Ravenclaw. Itu adalah nama house-house yang ada di asrama Harry Potter. Begitu juga
halnya yang ada disekolah gue, bedanya kalo Hogwarts punya empat house, sekolah gue punya 9 house, yaitu Shark, Manta Ray, Dolphin, Rhino, Lion, Komodo, Dove, Eagle dan Hornbill. Dan gue, ternyata adalah
seorang eagle yang harus selalu bisa
mendapatkan semua yang ia targetkan dan ga ada satu pun yang bisa
menghalanginya. Hahaha...
Dan kali ini kita lagi ada acara Leadership Camp. Ini adalah malam
pertama kita ditempat kemahnya, mungkin lebih tepatnya adalah malam pertama dan
terakhir karena kemahnya juga cuma dua hari satu malam. Acara malam ini adalah
penampilan dari tiap-tiap house dan
api unggun.
Ternyata Dolphin menampilkan drama singkat juga, tapi kali ini bukan
Cinderlelet, tapi drama yang bernuansa penduduk Jepang dengan judul Legenda
Batu Tapak. Drama ini mengisahkan tentang perguruan bela diri bernama Jempol
Suci yang setelah para pendekarnya sakti, salah satu diantaranya meninggalkan
perguruan dan mendirikan perguruan baru bernama Jidat Suci.
Mungkin karena terlalu banyak
improvisasi dan respon yang besar dari para penonton, Dolphin tidak dapat melanjutkan dramanya karena kehabisan waktu
alias time’s up. Padahal dramanya
mereka lucu banget, mungkin karena bawaan sifat sebab anak-anak Dolphin didominasi anak-anak tukang
ngelawak.
Dan penampilan dilanjutkan oleh house-house selanjutnya. Akhirnya
sampailah pada giliran house gue.
Bagaimana penampilannya? Jangan ditanya. Kalian bisa menyimpulkan sendiri penampilan
anak-anak individualis yang gak
pernah menang kalau bekerja dalam satu tim. Ya itulah eagle. Mana ada eagle
yang terbang bersama-sama, mereka memang individualis. Karena mereka bisa
menbuat kenyamanan dengan dirinya
sendiri, tanpa orang lain.
“El, satu nih...” terdengar kata
Emil yang membawakan jagung bakar dan langsung membuyarkan lamunan gue yang
sedang memikirkan betapa hancurnya penampilan gue tadi.
“Ohh iya, makasih yah...” gue
mengambil jagung itu dengan perasaan tidak bersemangat.
“El, kita ke tempat api unggun
sekarang yuk” Ajak Tiara tiba-tiba. Tiara adalah sahabat gue yang sangat mirip
dengan gue. Mungkin dia lebih tepat dibilang kembaran, kenapa? Karena segala
sesuatu yang ada di dia pasti ada juga di gue. Pokoknya semuanya sama,
contohnya aja, dia baru aja ngajakin gue ke tempat api unggun sekarang karena
dia ga terlalu suka keramaian, sama seperti gue. Itu satu contohnya, sisanya
banyak banget.
“Emm, boleh...” tanpa ragu gue pun
pergi ke tempat api unggun sama Tiara.
Sesampainya disana jelas saja tidak
ada satu orang pun. Gue dan Tiara duduk berdekatan dan hanya memandang api
unggun yang belum menyala.
“Ra, kayanya feeling gue bener deh...” ucap gue memecahkan keheningan.
“Feeling
yang mana?” jawab Tiara datar.
“yang tadi gue ceritain di bus”
“Yang menurut loe nanti diacara api
unggun dia bakal duduk disamping loe?”
“Yoi.”
“oww, let’s see then”
Kami pun kembali menatap api yang
masih terdiam sambil berusaha menghabiskan jagung kami masing-masing. Gue lihat
jagungnya Tiara, sudah tinggal dua baris lagi, pasti dalam waktu dua menit aja
dia sudah bisa menghabiskannya, sedangkan gue, masih banyak banget, entah
berapa baris lagi. Dan, perut gue sudah bener-bener ga bisa nampung lagi
jagungnya, jadi gue hanya memegangnya dan kembali menatap tumpukan-tumpukan
kayu yang dalam waktu beberapa menit lagi akan berubah warnanya menjadi hitam
legam.
10 menit kemudian, Mr. Yassa dengan
guru-guru dan teman-teman gue mulai berdatangan ketempat api unggun. Termasuk
dia, yaa dia. Dia berjalan menuju arah tempat gue duduk dengan gitar
kesayangannya. Gitar yang selalu menemaninya dikala dia sedang galau atau
kesepian. Gitar yang menghantarkannya ke posisi juara satu lomba gitar akustik
klasik. Dan perkenalkan namanya adalah Kenzie.
Sebagai gadis bermata minus 1.5, gue
selalu menyiapkan kacamata kemana pun gue pergi. Gue ga pernah pakai kacamata
itu seharian, males banget, kacamata berbingkai warna biru, ukkh norak, udah
kaya Betty Lavea aja. Jadi, gue hanya menyimpannya di saku dan gue pakai apabila
sewaktu-waktu ada hal yang penting dan harus gue lihat dengan jelas.
Dan contohnya adalah kali ini, di
kejauhan sekitar jarak 5 meter, gue lihat Kenzie berjalan kearah gue. Gue
langsung memakai kacamata Betty Lavea gue, dan benar saja dia jalan kearah gue
dan sekarang tinggal 2 meter lagi dan yaaa saudara-saudara akhirnya dia pun
duduk disamping gue tanpa gue undang. (Gue udah kaya operator pertandingan
sepak bola aja saat meneriakkan bola gol, bedanya kali ini dalam hati. Gaje?
memang)
“Elmaaaa, dia duduk disebelah loe”
bisik Tiara di sebelah gue dengan nada
yang mengagetkan.
“Iya Ra, gue tau, biasa aja dong
jangan bikin gue skakmat.” Jawab gue khawatir.
“Hai Ken...” Tiara menyapa Kenzie
yang sedang duduk disebelah gue dan sedang membetulkan sesuatu di gitarnya.
“Ehh, hai Tiara, dari tadi disini?” Jawab
Kenzie dengan suara seksinya yang serak-serak gimana gitu.
“Emm iya, ini dari 30 menit lalu,
diajakin Elma.” Tiara membalikkan fakta, jelas-jelas kan dia yang ngajakin gue
tadi. Gue langsung membantah.
“Heh, gue? Enak aja, bukan, Tiara yang ngajakin.” Bantah
gue tetapi ternyata suara gue yang keluar sama sekali ga kaya nada membantah.
Hah gagal, malu deh.
Sekejap, ga ada suara lagi, dari
gue, Tiara ataupun Kenzie. Dan acara pun dimulai. Beberapa guru seperti Mr.Ben,
Mr. Arief, dan Mr. Farrel sudah menyalakan api unggun yang sedari tadi terdiam
sunyi.
“Well,
guys, you can enjoy this beautiful night with the bon fire. Kalian bisa
nyanyi-nyanyi atau apa pun yang ingin kalian lakukan, yang penting jangan pergi
jauh-jauh dari tempat ini, okay?” terdengar suara Ms. Marissa mengintruksikan
kegiatan untuk malam ini. Serentak kami semua menjawab “Okay Mis.”
Setelah itu gue liat ada beberapa temen yang pergi dari bon
fire dan mencari teman-teman yang lain hanya untuk sekedar mengobrol. Ada juga
yang bermain gitar dan bernyanyi-nyanyi bareng. Tapi gue masih dalam PW gue
alias posisi wenak, dengan Tiara dan Kenzie disamping gue, kita bertiga.
“tadi ngapain duluan kesini Elm?”
tanya Kenzie sambil mulai memainkan instrument yang dipegangnnya.
“ohh, ya pengen aja, kebetulan tadi
si Tiara ngajak. Disini tempatnya cocok buat ngegalau Ken, wkwkwk...” jawab gue
asal. Perasaan gue udah dag dig dug der dor pas Kenzie melontarkan pertanyaan
pertamanya. Huaahh, serasa mau pingsan.
“Eh Ken, El, gue pergi dulu ya,” kata
Tiara nyerobot.
“Mau kemana?” tanya Kenzie.
“Sasha n’ Rio dkk nyuruh gue
ketempatnya.”
“ohh oke” kata Kenzie lagi.
“daadah Elma, have a nice night.
Temenin Elma ya Ken.”
“pasti!” jawab Kenzie tegas.
Gue cuma bisa senyum aja mendengar
perkataan Tiara tadi. Dan Tiara pun berlalu. Sisanya tinggal ada gue sama
Kenzie, hah nggk gue mimpi. Gue pukul-pukul pipi gue sampe merah kali tapi
tetep aja yang disebelah gue Cuma Kenzie, gue tetep berdua sama dia, tidaaakkk
ini ga mimpi.
“Elm, ngapain pukul-pukul pipi
begitu?” tanyanya.
“hah? Nggk, gue ga nyangka aja
sekarang lagi duduk berdua sama loe Kenzie. Gue kira gue lagi mimpi, makanya
gue mukul-mukul pipi.” Jawab gue polos.
“hahaha Elm, ada-ada aja kamu.”
Yaaa, gue selalu seneng kalo dia
lagi ngobrol sama gue, karena dia pasti panggil gue Elm, ga ada satu orang pun
yang pernah panggil gue Elm, palingan El, tapi dia? Mungkin itu panggilan
sayangnya ke gue. Hahah. Satu lagi dia pasti kalo ngomong sama gue ga pernah
pake “gue, loe” pasti “aku, kamu” itulah yang membuat gue suka sama dia, co
cweet banget. Padahal sama temen lain dia ngomongnnya “gue, loe” hahah (tawa
kemenangan kedua)
Ditengah pergulatan gue dengan
pikiran gue sendiri, gue dengar Kenzie mulai memainkan lagu dengan gitarnya
itu.
“Saat bahagiaku duduk berdua
denganmu hanyalah bersamamu. Mungkin aku terlanjur tak sanggup jauh dari
dirimu, kuingin engkau selalu tuk jadi milikku...” Kenzie masih tetap
menyanyikan lagu yang berjudul Saat Bahagia lagunya Ungu. Selagi dari awal dia
nyanyi gue liatin dia dan loe tau? Wajah dia juga menghadap ke gue. Dengan
matanya yang mencerminkan kedamaian sejati, gue merasa dia nyanyiin lagu itu
buat gue, bener-bener buat gue.
Ohh
god, thanks. What a wonderful night!
“Ken, suara kamu bagus” ucap gue
berusaha melafalkan kata “kamu” dengan baik, supaya terkesan lebih romantis
suasannya.
“iya dong, aku kan mantan boyband
sm*sh, hhaaha” katanya
“jadi sm*sh aja bangga,” ledek gue.
“biarin dong.”
“Ken, maksudnya apa tuh lagu tadi?”
“itu lagu buat kamu Elm”
“ha? Maksudnya?”
“itu adalah apa yang aku rasakan
sekarang. U know that song right? i guess
u know the meaning n’ what i mean”
~~~
“Raaaaaaaaaaaaaaaa, bener Ra, malah
dia tadi nyanyiin Saat Bahagia buat gue” gue teriak kenceng banget saat udah
ada ditenda.
“hahahaa, congratz yahh. Satu langkah lagi menuju pelaminan El. Hahaha”
“pelaminan dari Hongkong?”
~~~
Pagi-pagi banget sekitar jam 5 sudah
banyak aja anak-anak yang pergi mandi. Ada dua alasan, mungkin mereka
menghindari ngantre atau mungkin kemaren sore mereka ga mandi. Huahh. Gue sama
Tiara juga udah bangun, bukan buat mandi tapi karena tenda yang pas-pasan
sehingga kita harus tidur desek-desekkan. Badan gue pegel-pegel jadinya gue
sama Tiara bangun.
“El, dengar ga? Ada suara prince gue.” Kata Tiara. Prince adalah sebutan buat cowok-cowok
yang kita suka.
“oh ya? Coba. Iya Ra, dimana dia?”
“kayanya didepan deh.” Tiara langsung
membuka sedikit resleting tenda buat ngintipin princenya dia.
“dia didepan tenda kita El,”
“Mana mana” gue ikut-ikutan ngintip
kaya Tiara, walaupun lubang buat ngintipnya hanya cukup untuk 2 mata gue dan
Tiara.
“cieee, Tiara” gue teriak, sengaja
supaya princenya Tiara nengok ke
tenda kita. Dan benar saja, seketika itu princenya
Tiara nengok ke tenda gue sama Tiara. Dari dalam gue ketawa ngakak dan membuat princenya malah celingak-celinguk nyari
sumber keributan yang tak lain adalah tenda kami. Wkwk
“hahah, kita kaya spy aja ya Ra, mata-matain prince dari
celah tenda yang super duper kecil.”
“hahah iya spy El, asik ya jadi spy,
hhahah”
Gue sama Tiara terus aja
memata-matain Princenya Tiara, gak
lama dia pun pergi dari depan tenda dan tontonan pun usai. Tiara sedih dia
pergi, tapi ga terlalu sih. Karena udah ngintipin dari tadi.
Tepat pukul 8, gue sama
Tiara lagi ada di tenda buat nyiapin barang-barang buat pergi ke air terjun.
Saat kami lagi packing, gue denger
ada suara Kenzie. Dan gak lama, “saat bahagiaku duduk berdua denganmu hanyalah
bersamamu.” Kenzie nyanyi lagu itu lagi. Dengan cepat gue langsung ngintip dan
ternyata dia lagi duduk di atas batu yang gak jauh dari tenda gue dan duduk
menghadap tenda gue.
“denger tuh El, nyanyi lagi, itu
bener-bener pesan yang ingin dia sampaikan kali El ke loe”
“iya ya
Ra, akkh senangnya,” gue terus ngintipin dia dari dalam tenda. Cukup lama. Gue
memandang wajah dia yang bersih karena baru beres mandi. Gue mata-matain dia
dengan kacamata Betty Lavea gue. Sesekali gue liat dia melirik kearah tenda gue
tapi karena celah yang dibuka cuma kecil bahkan gak keliatan, dia pun hopeless dan terus bernyanyi.
“terus aja ngintip” komen Tiara.
“hahaa”
“loe berbakat jadi spy El.”
“iya dong, loe juga Ra.”
“Iyaa kita” ucap gue berbarengan
sama Tiara (sehati)
“yaa, Prince’s Spy hahahah” dan lagi, kita berbarengan tertawa. Hemm
memang Tiara adalah kembaran sejati gue.
Selesai
Tentang penulis:











Posting Komentar