Home » , » Ibu, Tiga Huruf Penuh Sandiwara

Ibu, Tiga Huruf Penuh Sandiwara

Written By Unknown on Senin, 25 Februari 2013 | 08.04


Karya : Baktiar Nur Makmura

26 Juli 1996, aku dilahirkan. Dilahirkan oleh seorang wanita yang penuh dengan pengorbanan. Yaitu dia, dialah sang bidadari yang selalu melindungiku. Itu sebabnya aku bisa menulis ungkapan hatiku ini hanya untuk bidadariku. Dan bidadari itu adalah engkau “IBU”.
Pernah aku membaca sebuah tulisan karya Honore De Balzac yang mengatakan bahwa ‘Seorang ibu yang benar benar ibu itu tidak pernah libur’. Kalau dipikir-pikir lagi memang ini benar terjadi dan nyata. Hal tersebut setiap hari selalu aku jumpai di rumah. Dimana seorang ibu selalu bangun pagi hanya untuk menyiapkan sesuap nasi untuk keluarganya dan tidur paling akhir untuk membereskan semua pekerjaan rumah yang belum beres. Nah, apakah kita pernah merasa capek, kesal, malas, sakit, ataupun jengkel? Pasti jawabannya iya. Begitu pula dengan ibu. Ibu bukan robot yang bisa bekerja tanpa istirahat, tapi beliau sama seperti kita Manusia yang pasti merasakan hal yang disebutkan di atas. Namun, apakah kita pernah berpikir betapa hebatnya beliau melawan rasa itu? Mungkin tidak. Seorang ibu bisa memberikan waktu 24 jam per 366 hari untuk anak-anaknya. Tidak ada baginya kata pagi, siang, maupun malam. Juga tidak baginya mengenal lelah maupun amarah.

Ibu selalu berusaha menjadi yang terbaik di depan anak-anaknya juga suaminya. Ia ingin sekali bisa menjadi ibu yang baik sekaligus menjalankan kewajibanya menjadi seorang istri. Hal ini juga pernah disebutkan pendapat seorang psikolog ‘Ketika seorang ibu itu ada di rumah, segala urusan di rumah akan berjalan baik’. Pasti benar. Ibu bekerja di rumah tidak mengharapkan imbalan, merawat dengan ikhlas, menjaga juga membimbing kita dengan hatinya yang tulus. Namun, secara tidak langsung ibu juga menaruh harapan-harapan lebih kepada anaknya. Yang dulunya ibu pernah gagal, ia pasti memotivasi anaknya untuk tidak boleh gagal dan terus maju jangan menyerah. Tak lupa ibu pun berdo’a untuk kita di sela-sela doa yang setiap hari ia panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar anak-anaknya bisa bahagia dan mendapatkan kemudahan dunia dan akhirat. Selalu menomor satukan anaknya adalah prinsip seorang ibu. Di saat kita butuh makan ibu selalu berusaha membuatkan kita makanan secepatnya, walaupun sebenarnya beliau sedang sibuk ataupun melakukan pekerjaan rumah. Seperti orang Bojonegoro bilang ibu selalu bisa “nyelak/ndisikno” atau “nyempetno gawe anak`e”(menyempatkan/mendahulukan untuk anaknya). Semua itu ia lakukan karena ia tahu bahwa waktunya sangat singkat.

Menurut George Eliot ‘Hidup itu dimulai dari bangun tidur dan mencintai wajah seorang ibu’. Sebagai contoh nyatanya adalah siapa orang yang pertama kali kita jumpai di dapur saat bangun tidur? Pasti  Ibu. Awal hidup seseorang itu dimulai sejak seorang dikeluarkan dari rahim seorang ibu. Ibu berjuang keras untuk mengeluarkan-mu dari rahimnya dan itu adalah suatu pengorbanan dan mempunyai resiko yang sangat besar karena taruhanya adalah nyawa. Ibu ikhlas kehilangan nyawanya hanya untuk anaknya. Namun apakah kita seorang anak akan ikhlas kehilangan nyawa hanya untuk seorang ibu? Seharusnya kita malu pada diri kita sendiri yang telah menelantarkan sosok bidadari yang selalu ada untuk kita. Masih untung kita mempunyai seorang ibu yang masih hidup. Banyak anak di luar sana yang ditinggal oleh ibunya. Bisa kita bayangkan betapa sedihnya mereka karena belum bisa membahagiakan ibunya, belum bisa memberikan apa yang ibu inginkan dari dulu sampai sekarang karena terhalang kebutuhan anak-anaknya, dan yang terpenting adalah anak-anak yang belum sempat mengucapkan kata maaf untuk ibunya sebelum ia pergi untuk selamanya.
Alkisah sebuah motivator yang pernah menjelaskan kepada saya. “Pernahkah kita memikirkan apa yang telah diajarkan oleh seorang ibu kepada kita? Sayangilah Ibu-mu dengan sungguh-sungguh karena sorga berada di telapak kaki Ibu. Mohon ampunan jika kamu pernah menyakiti hati Ibumu. Kata maaf tak hanya  terucap hanya di musim lebaran saja, namun juga dapat di gunakan setiap hari guna untuk mempererat tali keluarga di rumah”. Berikut merupakan kisah nyata yang memang ada di sekitar kita.
Seorang anak yang sudah berkeluarga datang menjenguk ibu nya saat hari Lebaran guna meminta maaf dan mempererat tali silaturahmi. Sang ibu meminta anaknya untuk menemani mengelilingi desa menggunakan kursi rodanya dan secara langsung anaknya bersedia dan menemani sang ibu untuk pergi jalan-jalan. Ketika sampai di pinggir jalan sang ibu bertanya ke anaknya “nak,itu buah apa?” sambil menunjuk ke arah seberang. Sang anak menjawab “itu buah mangga bu..”. “Kalau yang itu apa ?” kata sang ibu lagi sambil menunjuk pohon yang lainya. “itu buah manga juga bu..” jawab anaknya. Setelah itu sang ibu menunjuk beberapa buah yang berjatuhan di bawah sambil bertanya ke anaknya “kalau yang di bawah itu apa nak ?” . Dengan nada agak kesal sang anak berkata “Sudah jelas jelas ini kebun mangga , mana ada buah lain selain mangga. Ibu ini sengaja atau mau nya apa !!”. Sang ibu pun menunduk dan menangis tanpa sepengetahuan anaknya dan berkata sambil mengambil buah manga yang ada di bawahnya “Kurang lebih 35 tahun yang lalu, ibu selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan kamu nak, 10 kali kamu bertanya ibu pasti menjawabnya  tanpa ada rasa kesal sedikit pun. Namun sekarang ibu yang baru bertanya 3 kali ke kamu, kamu sudah merasa kesal sama ibu mu ini nak”. Lalu sang anak pun berlutut dan meminta maaf kepada ibunya dan menangis sambil memeluknya.

Bersyukurlah kita, mempunyai sesosok ibu yang ikhlas menyanyangi kita karena hati seorang ibu pasti menemani hati setiap anak-anaknya. Kita sebagai anak selalu mendapat perlindungan darinya, tapi apakah kita pernah berpikir untuk selalu melindunginya? Dan yang sering saya tahu anak-anak zaman sekarang ini justru berani melawan dan membantah perkataan ibunya. Bisa dibayangkan apabila waktu kecil ibu menelantarkan kita begitu saja? Apa sampai sekarang ini kita bisa menikmati indahnya hidup? Berkumpul dengan teman? Menemukan sesosok kekasih? Tidak. Kita bisa menjadi seorang seperti ini tak luput dari segala sesuatu darinya. Sebesar-besarnya usahamu untuk mencapai kesuksesan itu juga tak luput dari doa seorang ibu. Suatu perbuatan yang kita lakukan tanpa restu seorang ibu tak ada artinya di mata Tuhan. Sesungguhnya izin dari seorang ibu adalah doa yang selalu menyertai kita dan memberi kekuatan lebih untuk kita. Bayangkan bila seandainya di dunia ini tanpa ada sosok seorang ibu? Apakah yang akan terjadi? Sepi. Pasti. Di sana-sini semua serba laki-laki. Watak-watak yang keras dan mungkin tidak akan ada orang yang selalu mengingatkan, “nak sholat, ini sudah jam berapa.?”

Berikut ini memang kalimat yang sering kita dengarkan di acara-acara sekolah untuk memotivasi kita *Pernah kita ngomelin Dia ? 'Pernah!' *pernah kita cuekin Dia ? 'Pernah!' *pernah kita mikir apa yg Dia pikirkan? 'nggak!' *sebenernya apa yg dia fikirkan ? 'Takut' *Takut apa? - takut ga bisa liat kita senyum , nangis atau ketawa lagi dan takut ga bisa ngajar kita lagi.

Renungkanlah, Seorang ibu mendoakan dan mengingat anaknya setiap hari bahkan setiap menit dan ini berlaku sepanjang masa. Bukan hanya setahun sekali saja atau pun pada hari-hari tertentu. Lalu kenapa kita baru bisa dan mau memberikan selamat, bunga ataupun hadiah kepada ibu hanya pada saat hari ibu saja? Sedangkan di hari-hari lainnya kita hanya menganggapnya biasa seakan waktu untuk bersama ibu itu tidak berharga. Baginya memberikan sedikit waktu kita untuknya jauh lebih besar nilainya daripada bunga ataupun hadiah.

Dan lagi. Kapan kita terakhir kali meminta maaf kepada ibu? Kapan kita terakhir mengundang ibu? Kapan terakhir kali kita mengajak ibu jalan-jalan? Kapan terakhir kali kita memberikan kecupan manis dengan ucapan terima kasih kepada ibu? Dan kapankah kita terakhir kali berdoa untuk ibu kita? Berikanlah kasih sayang selama ibu kita masih hidup. Percuma kita memberikan bunga maupun tangisan apabila ibu telah berangkat kepada-Nya karena ibu tidak akan bisa merasaakannya lagi. Tidak akan ada lagi yang cerewet pagi, siang, dan malam. Saat kita menangis meneriakan nama ibu, ibu tidak akan membalasnya. Ia hanya terdiam. Namun, ketahuilah bahwa bayangnya tetap ada di samping kita dan berkata : "anak-anakku janganlah kalian menangis, ibu masih disini. Ibu masih sayang kalian."
Sayangilah orang tuamu sobat. Merekalah yang pertama ada untuk kita. Sungguh karena mereka kita mampu bernafas hingga detik ini dan membaca tulisan ini...

Artikel ini saya persembahkan untuk ibu saya , seorang ibu yang selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk saya dan saudara-saudara  saya. Ibu .. selamat hari ibu semoga engkau sehat selalu dan selalu dimudahkan dalam setiap urusanmu di dunia ini.
(22 Des 2012)

Tentang Penulis : Baktiar Nur Makmura
Share this article :

+ comments + 1 comments

26 Februari 2013 pukul 16.40

halo dek. aku lulusan pertama SA, dr malang. Salam kenal ya. Follback blogku di maturinggg.blogspot.com. Trims :)

Posting Komentar

Advertisment

alt anda alt anda alt anda alt anda The Billion Rupiah Homepage alt anda
 
Support : Baktiar Nur Makmura | Hedi M Fauzi | Nahdi Permadi | Aan Anipah | Azka Azizah
Copyright © 2013. Goresan Anak Bangsa - All Rights Reserved
Template Edited by @BMakmura Published by @KangHedi
Proudly powered by Blogger