Karya : Baktiar Nur
Makmura
26
Juli 1996, aku dilahirkan. Dilahirkan oleh seorang wanita yang penuh dengan
pengorbanan. Yaitu dia, dialah sang bidadari yang selalu melindungiku. Itu
sebabnya aku bisa menulis ungkapan hatiku ini hanya untuk bidadariku. Dan
bidadari itu adalah engkau “IBU”.
Pernah aku membaca sebuah
tulisan karya Honore De Balzac yang mengatakan bahwa ‘Seorang ibu yang benar benar ibu itu tidak pernah libur’. Kalau
dipikir-pikir lagi memang ini benar terjadi dan nyata. Hal tersebut setiap hari
selalu aku jumpai di rumah. Dimana seorang ibu selalu bangun pagi hanya untuk
menyiapkan sesuap nasi untuk keluarganya dan tidur paling akhir untuk
membereskan semua pekerjaan rumah yang belum beres. Nah, apakah kita pernah
merasa capek, kesal, malas, sakit, ataupun jengkel? Pasti jawabannya iya.
Begitu pula dengan ibu. Ibu bukan robot yang bisa bekerja tanpa istirahat, tapi
beliau sama seperti kita Manusia yang pasti merasakan hal yang disebutkan di
atas. Namun, apakah kita pernah berpikir betapa hebatnya beliau melawan rasa
itu? Mungkin tidak. Seorang ibu bisa memberikan waktu 24 jam per 366 hari untuk
anak-anaknya. Tidak ada baginya kata pagi, siang, maupun malam. Juga tidak
baginya mengenal lelah maupun amarah.
Ibu
selalu berusaha menjadi yang terbaik di depan anak-anaknya juga suaminya. Ia
ingin sekali bisa menjadi ibu yang baik sekaligus menjalankan kewajibanya
menjadi seorang istri. Hal ini juga pernah disebutkan pendapat seorang psikolog
‘Ketika seorang ibu itu ada di rumah,
segala urusan di rumah akan berjalan baik’. Pasti benar. Ibu bekerja di
rumah tidak mengharapkan imbalan, merawat dengan ikhlas, menjaga juga
membimbing kita dengan hatinya yang tulus. Namun, secara tidak langsung ibu
juga menaruh harapan-harapan lebih kepada anaknya. Yang dulunya ibu pernah
gagal, ia pasti memotivasi anaknya untuk tidak boleh gagal dan terus maju
jangan menyerah. Tak lupa ibu pun berdo’a untuk kita di sela-sela doa yang
setiap hari ia panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar anak-anaknya bisa
bahagia dan mendapatkan kemudahan dunia dan akhirat. Selalu menomor satukan
anaknya adalah prinsip seorang ibu. Di saat kita butuh makan ibu selalu
berusaha membuatkan kita makanan secepatnya, walaupun sebenarnya beliau sedang
sibuk ataupun melakukan pekerjaan rumah. Seperti orang Bojonegoro bilang ibu
selalu bisa “nyelak/ndisikno” atau “nyempetno gawe anak`e”(menyempatkan/mendahulukan
untuk anaknya). Semua itu ia lakukan karena ia tahu bahwa waktunya sangat
singkat.
Menurut
George Eliot ‘Hidup itu dimulai dari
bangun tidur dan mencintai wajah seorang ibu’. Sebagai contoh nyatanya
adalah siapa orang yang pertama kali kita jumpai di dapur saat bangun tidur?
Pasti Ibu. Awal hidup seseorang itu
dimulai sejak seorang dikeluarkan dari rahim seorang ibu. Ibu berjuang keras
untuk mengeluarkan-mu dari rahimnya dan itu adalah suatu pengorbanan dan
mempunyai resiko yang sangat besar karena taruhanya adalah nyawa. Ibu ikhlas
kehilangan nyawanya hanya untuk anaknya. Namun apakah kita seorang anak akan
ikhlas kehilangan nyawa hanya untuk seorang ibu? Seharusnya kita malu pada diri
kita sendiri yang telah menelantarkan sosok bidadari yang selalu ada untuk
kita. Masih untung kita mempunyai seorang ibu yang masih hidup. Banyak anak di
luar sana yang ditinggal oleh ibunya. Bisa kita bayangkan betapa sedihnya
mereka karena belum bisa membahagiakan ibunya, belum bisa memberikan apa yang
ibu inginkan dari dulu sampai sekarang karena terhalang kebutuhan anak-anaknya,
dan yang terpenting adalah anak-anak yang belum sempat mengucapkan kata maaf
untuk ibunya sebelum ia pergi untuk selamanya.
Alkisah
sebuah motivator yang pernah menjelaskan kepada saya. “Pernahkah kita memikirkan apa yang telah diajarkan oleh seorang ibu
kepada kita? Sayangilah Ibu-mu dengan sungguh-sungguh karena sorga berada di
telapak kaki Ibu. Mohon ampunan jika kamu pernah menyakiti hati Ibumu. Kata
maaf tak hanya terucap hanya di musim
lebaran saja, namun juga dapat di gunakan setiap hari guna untuk mempererat
tali keluarga di rumah”. Berikut merupakan kisah nyata yang memang ada di
sekitar kita.
Seorang
anak yang sudah berkeluarga datang menjenguk ibu nya saat hari Lebaran guna
meminta maaf dan mempererat tali silaturahmi. Sang ibu meminta anaknya untuk
menemani mengelilingi desa menggunakan kursi rodanya dan secara langsung
anaknya bersedia dan menemani sang ibu untuk pergi jalan-jalan. Ketika sampai
di pinggir jalan sang ibu bertanya ke anaknya “nak,itu buah apa?” sambil menunjuk ke arah seberang. Sang anak
menjawab “itu buah mangga bu..”. “Kalau yang itu apa ?” kata sang ibu lagi
sambil menunjuk pohon yang lainya. “itu
buah manga juga bu..” jawab anaknya. Setelah itu sang ibu menunjuk beberapa
buah yang berjatuhan di bawah sambil bertanya ke anaknya “kalau yang di bawah itu apa nak ?” . Dengan nada agak kesal sang
anak berkata “Sudah jelas jelas ini kebun
mangga , mana ada buah lain selain mangga. Ibu ini sengaja atau mau nya apa !!”.
Sang ibu pun menunduk dan menangis tanpa sepengetahuan anaknya dan berkata
sambil mengambil buah manga yang ada di bawahnya “Kurang lebih 35 tahun yang lalu, ibu selalu menjawab
pertanyaan-pertanyaan kamu nak, 10 kali kamu bertanya ibu pasti
menjawabnya tanpa ada rasa kesal sedikit
pun. Namun sekarang ibu yang baru bertanya 3 kali ke kamu, kamu sudah merasa kesal
sama ibu mu ini nak”. Lalu sang anak pun berlutut dan meminta maaf kepada
ibunya dan menangis sambil memeluknya.
Bersyukurlah
kita, mempunyai sesosok ibu yang ikhlas menyanyangi kita karena hati seorang
ibu pasti menemani hati setiap anak-anaknya. Kita sebagai anak selalu mendapat
perlindungan darinya, tapi apakah kita pernah berpikir untuk selalu
melindunginya? Dan yang sering saya tahu anak-anak zaman sekarang ini justru
berani melawan dan membantah perkataan ibunya. Bisa dibayangkan apabila waktu kecil
ibu menelantarkan kita begitu saja? Apa sampai sekarang ini kita bisa menikmati
indahnya hidup? Berkumpul dengan teman? Menemukan sesosok kekasih? Tidak. Kita
bisa menjadi seorang seperti ini tak luput dari segala sesuatu darinya.
Sebesar-besarnya usahamu untuk mencapai kesuksesan itu juga tak luput dari doa
seorang ibu. Suatu perbuatan yang kita lakukan tanpa restu seorang ibu tak ada
artinya di mata Tuhan. Sesungguhnya izin dari seorang ibu adalah doa yang
selalu menyertai kita dan memberi kekuatan lebih untuk kita. Bayangkan bila
seandainya di dunia ini tanpa ada sosok seorang ibu? Apakah yang akan terjadi?
Sepi. Pasti. Di sana-sini semua serba laki-laki. Watak-watak yang keras dan
mungkin tidak akan ada orang yang selalu mengingatkan, “nak sholat, ini sudah jam berapa.?”
Berikut
ini memang kalimat yang sering kita dengarkan di acara-acara sekolah untuk
memotivasi kita *Pernah kita ngomelin Dia ? 'Pernah!' *pernah kita cuekin Dia ?
'Pernah!' *pernah kita mikir apa yg Dia pikirkan? 'nggak!' *sebenernya apa yg
dia fikirkan ? 'Takut' *Takut apa? - takut ga bisa liat kita senyum , nangis
atau ketawa lagi dan takut ga bisa ngajar kita lagi.
Renungkanlah, Seorang ibu
mendoakan dan mengingat anaknya setiap hari bahkan setiap menit dan ini berlaku
sepanjang masa. Bukan hanya setahun sekali saja atau pun pada hari-hari
tertentu. Lalu kenapa kita baru bisa dan mau memberikan selamat, bunga ataupun
hadiah kepada ibu hanya pada saat hari ibu saja? Sedangkan di hari-hari lainnya
kita hanya menganggapnya biasa seakan waktu untuk bersama ibu itu tidak
berharga. Baginya memberikan sedikit waktu kita untuknya jauh lebih besar
nilainya daripada bunga ataupun hadiah.
Dan lagi. Kapan kita terakhir
kali meminta maaf kepada ibu? Kapan kita terakhir mengundang ibu? Kapan terakhir
kali kita mengajak ibu jalan-jalan? Kapan terakhir kali kita memberikan kecupan
manis dengan ucapan terima kasih kepada ibu? Dan kapankah kita terakhir kali
berdoa untuk ibu kita? Berikanlah kasih sayang selama ibu kita masih hidup. Percuma
kita memberikan bunga maupun tangisan apabila ibu telah berangkat kepada-Nya
karena ibu tidak akan bisa merasaakannya lagi. Tidak akan ada lagi yang cerewet
pagi, siang, dan malam. Saat kita menangis meneriakan nama ibu, ibu tidak akan membalasnya.
Ia hanya terdiam. Namun, ketahuilah bahwa bayangnya tetap ada di samping kita
dan berkata : "anak-anakku janganlah kalian menangis, ibu masih disini.
Ibu masih sayang kalian."
Sayangilah orang tuamu sobat.
Merekalah yang pertama ada untuk kita. Sungguh karena mereka kita mampu
bernafas hingga detik ini dan membaca tulisan ini...
(22 Des 2012)
Tentang Penulis : Baktiar Nur Makmura










+ comments + 1 comments
halo dek. aku lulusan pertama SA, dr malang. Salam kenal ya. Follback blogku di maturinggg.blogspot.com. Trims :)
Posting Komentar