Home » , , , » Kenyataan Yang Menipu

Kenyataan Yang Menipu

Written By Unknown on Minggu, 20 Januari 2013 | 06.23

Oleh Ilhafa Qoima (Igo)
Sampoerna Academy Bogor Campus
Cerpen ini mendapatkan juara pertama pada event The Month of Language.

        Berat air semakin membawa tubuh lemahku lebih dalam dan dalam lagi.Aku merasakan sakit di sekujur tubuhku, telingaku berdenging menandakan tekanan air yang semakin kuat.Aku perlahan membuka mata.Tiap partikel air yang bergesekan dengan mataku, membuat pandanganku semakin kabur dan buram.Aku sejenak hilang ingatan, namun sepersekian detik kemudian ingatan itu kembali. Serpihan ingatan bergerak ke arah kepalaku, menembusnya kemudian melekat pada tiap-tiap ruas di kepalaku.Aku kembali sadar akan apa yang sedang terjadi.Aku megap-megap mencari nafas. Tanganku menggapai ke sana kemari, mencari benda sebagai tempat berpegangan namun sia-sia. Kuatnya tekanan air membuat badanku lumpuh tak bertenaga.Tak ada yang bisa kulakukan.
          Sementara tubuhku mulai tenggelam lebih dalam, kesadaranku terbang ke waktu lain. Waktu dimana semua ini berawal. Pada saat itu. . .
***
          Namaku Eto Chaniago berasal dari keluarga yang sederhana. Hidup bahagia bersama kedua orang tua. Bagiku,Mereka adalah orang terpenting dalam hidup ini. Aku adalah anak tunggal sehingga mereka sangat menyayangiku, aku pun juga menyayangi mereka.Sejenak, hidupku tak ada bedanya dengan anak seumuranku lainnya.Penuh dengan kebahagiaan dan lain sebagainya. Hingga saat itu terjadi, dimana aku merasakan aku menjadi beda dari anak lain.
          Aku yang berumur 12 tahun, sedang duduk di ruang tamu menunggu orang tuaku pulang kerja.Aku menunggu dengan tidak sabar di ruang tamu.Hari itu adalah hari ulang tahunku, karena itu aku yakin mereka pasti membawa kado ulang tahun untukku.Aku jadi bertambah girang memikirkannya.Tapi mereka tak kunjung tiba.
Jam dindingku menunjukkan pukul 8.47 P.M ,yang artinya mereka sudah terlambat hampir 2 jam.Kegirangan dan ketidaksabaranku berganti menjadi perasaan takut dan gelisah.Dengan cepat, pikiranku membuat beratus-ratus kemungkinan penyebab terlambatnya mereka.Di tengah kegelisahaanku waktu itu, seseorang mengetuk pintu rumahku. Aku berlari ke depan pintu dengan cepat dan tanpa ragu membukanya. Sepersekian detik sebelumnya, senyum mengambang di wajahku karena awalnya kukira orang yang di depan pintu adalah orang tuaku. Namun sepersekian detik sesudahnya pula, senyum itu bagai terkena angin badai kemudian terhapus dari wajahku.
          Seseorang berdiri di depan pintu, menatapku dengan paras sedih dan prihatin kemudian mengatakan.
“Nak, Orang tuamu mengalami kecelakaan nak, mereka meninggal—“ Tiba-tiba saja jantungku berdetak sangat keras,membuat kepalaku berdenyut .Kemudian, aku sudah tidak ingat lagi apa yang ia bicarakan setelah itu. Saat tersadar, aku sedang duduk di kamar sepiku sendirian, di tengah keheningan malam.Ditemani suara merdu binatang malam, aku merenung.Aku tidak menangis karena aku terlalu sedih.Kesedihan yang kurasakan tidak dapat digambarkan dengan tangisan.Kesedihan yang kurasakan ini sangat besar sampai-sampai tidak dapat digambarkan dengan perasaan.Aku kosong dan tak dapat merasakan apa-apa lagi.Aku hampa.
Begitulah semenjak kepergian mereka berdua aku merasakan ada yang aneh pada diriku.Entah kenapa hatiku jadi sekeras batu, menolak segala perasaan yang orang beri kepadaku, termasuk cinta.Aku—entah kenapa dan sejak kapan—menjadi idaman para murid perempuan di sekolahku.Mereka selalu mengejarku dan meneriakkan namaku. Namun aku sama sekali tidak merasakan apa-apa terhadap mereka, seolah mereka hanyalah angin lalu. Aku sempat berpikir bahwa aku telah kehilangan perasaanku, namun aku salah.
Seperti biasanya, setiap malam aku pergi ke tepi danau yang indah yang tidak terlalu jauh dari rumahku. Danau itu indah, pantulan cahaya bulan,membuat seakan-akan danau itu bercahaya. Danau itu juga dikelilingi oleh hutan dengan pohon yang tersusun rapi, semakin memperindah tempat tersebut.Tiap malam aku kesana untuk mengenang kedua orang tuaku.
Namun tiba-tiba ketika aku tengah asik duduk merenung sendirian, keluar seorang gadis dari dalam hutan dan berlari ke arahku.Ia mengenakan gaun sutera abu-abu dengan banyak pernik menghiasi. Rambutnya panjang terurai hingga menyentuh lututnya. Matanya besar seakan selalu terpana akan semua yang ia lihat.Ia gadis tercantik yang pernah kutemui.
Ada sesuatu yang aneh ketika pertama kali tatapan kami berdua bertemu.Ada perasaan menyesak di dadaku. Jantungku berdentam hebat,seperti meronta-ronta ingin keluar dari tubuhku. Keringat dingin mengucur dari dahiku.Aku merasakan sesuatu yang aneh pada diriku sendiri. Sesuatu yang kurasa tidak akan pernah kurasakan sebelumnya.
“Kenapa kau melihatku seperti itu,eh?” Si gadis bertanya.Suaranya merdu dan lembut.
          “Tidak,tidak apa-apa.” Jawabku.Aku merasakan mukaku memerah saat itu.
“Kau keberatan bila aku duduk di dekatmu?”Ia tiba-tiba bertanya.
“Terserah.”Aku berusaha seketus mungkin menjawab.
Kemudian ia duduk di sampingku. Ia tak henti-hentinya bertanya kepadaku. Mulutnya seakan tidak pernah berhenti bergerak.Aku juga menanyakan tentang si gadis itu karena penasaran.
Namanya Lesie, ia seumuran denganku.Ia tinggal tidak jauh dari hutan tersebut bersama kedua orang tuanya dan lima kakak. Keluarganya termasuk kaya, namun karena kekayaan itu juga orang tuanya sedikit memberi perhatian kepadanya. Karena itu tiap malam ia ke danau itu untuk mengisi waktu. Ia mengatakan danau itu sangat indah membuat pikiran dan perasaan kita tenang dan aku menyetujuinya.
Ada sesuatu yang berbeda yang kurasakan ketika kami berdua ngobrol.Perasaan tenang dan nyaman yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.Dan aku menyukainya.Hari-hari berlalu, kami tetap sering betemu di tepi danau dan ngobrol berdua.Kami menjadi semakin akrab.Aku menyadari bahwa terjadi perubahan pada diriku, Tiap hari, tiap waktu, tiap detik, aku selalu memikirkannya.Aku selalu tidak sabar untuk bertemu dengannya.Aku merasa pusat dunia ini berada pada dirinya seorang.Ia bagaikan matahari yang melumerkan batu-batu karang yang mengelilingi hatiku. Ia bagai malam yang mendinginkan segala perasaaanku. Ia bagai magnet yang selalu menarik perhatianku. Dan aku sadar, bahwa inilah perasaan yang selama ini orang-orang bicarakan. Perasaan yang membuat bumi terlonjak kaget, membuat bulan mengkerut penuh sesak, membuat ombak salin bertubrukan ria, membuat aku terbuai dalam lamunannya ; cinta.
Namun seiring berjalannya waktu, aku merasakan ada yang janggal pada diri Lesie.Ada sesuatu yang membuat seolah-olah dia itu ada sekaligus tiada.Terkadang aku tidak merasakan hawa keberadaan seseorang ketika di sampingnya.Kepalaku terkadang berdenyut ketika aku menatap ia secara langsung. Dan yang paling tidak kumengerti adalah penampilannya.Ia selalu memakai baju yang sama dan tidak pernah sekalipun memakai sepatu ataupun alas kaki lainnya. Aku juga ingat pernah melihat pemandangan yang pada saat itu kupikir hanya imajinasi. Aku melihat ketika ia menapakkan kakinya ke tanah, seperti waktu berjalan, berlari dan sebagainya, kakinya tidak sempat menyentuh tanah. Belum sempat satu kakinya menyentuh tanah, ia sudah melangkahkan kakinya yang sebelah lagi. Seakan akan ia berjalan di udara.
Perasaan janggal dan penasaranku lama-lama menumpuk dan menggunung.Akhirnya pada suatu malam aku mengatakan kepadanya. Awalnya ia diam saja. Namun kemudian secara tiba-tiba ia menoleh kepadaku. Ia menyibakkan rambutnya kemudian menatapku dengan ngerinya. Aku beringsut menjauh namun badanku terasa kaku dan beku.Aku tidak bisa bergerak.Badanku dipenuhi keringat dingin, bulu romaku berdiri, menandakan bagaimana perasaanku.
Lesie kemudian mendesis dan sesaat terjadi keheningan.Lalu matanya perlahan lahan membesar dan semakin membesar.Mulutnya juga semakin lebar dan besar menunjukkan senyum licik penuh arti.Taring-taringnya yang kuning dan besar mencuat dari dalam mulutnya.Kemudian Lesie tertawa nyaring, yang menggetarkan danau dan membuat pohon-pohon beringsut menjauh karena kengerian tawanya. Lalu ia kembali dan menatapku, dengan cepat membuka mulutnya dan menerkamku dengan kecepatan cahaya.
Aku terbangun dengan badan penuh keringat dingin di kasur kamarku.Napasku memburu, jantungku berdetak dengan sangat cepat. Aku menenangkan diri sejenak sambil duduk mengingat apa yang telah terjadi. Percuma saja, aku kehilangan semua ingatanku. Kemudian aku turun dari kasur dan berjalan ke depan cermin. Aku terlonjak kebelakangan melihat seseorang di dalam cermin.Orang itu mirip denganku, hanya saja sekujur tubuhnya dipenuhi dengan bekas sayatan pisau.Badannya juga kurus kering dan tampangnya berantakan. Lama aku di depan cermin, sampai aku sadar bahwa yang di depanku adalah memang aku sendiri. Aku kalut dan memecahkan cermin dihadapanku dengan sekali pukulan. Aku tidak tau akan berbuat apa lagi selain menghancurkan semua barang-barang di hadapanku. Ketidak tahuan, kebingungan dan kenyataan membuat rasa marah, takut, gelisah, kesal bercampur dan digodok jadi satu hingga otakku tidak bekerja secara sempurna.
Setelah selesai menghancurkan barang-barang di depanku, aku segera berderap pergi meninggalkan rumah.Aku sendiri tidak tahu kemana tujuanku pergi namun kakiku bergerak seolah mempunyai keinginan sendiri. Aku berhenti di depan sebuah danau yang disekelilingnya terdapat kuburan yang sudah rusak dan dimakan usia. Aku menoleh kesana-kemari, tidak tahu harus berbuat apa. Lalu tiba-tiba potongan-potongan ingatan merasuki kepalaku.Aku memegang kepalaku, mencengkram kuat untuk menghilangkan rasa sakit yang kuderita.Setiap pecahan memori yang masuk ke dalam otakku, menghasilkan rasa sakit yang tak terkira.Perlahan, ingatanku kembali dan aku mengingat semuanya dalam bentuk potongan-potongan memori.
Aku terdiam ketika mendengar kabar orang tuaku meninggal, kemudian ingatan itu buram dan berubah menjadi aku yang sedang menangis sekeras-kerasnya setelah mendengar kabar itu. Aku sedang berdiri di depan cermin menyayat tubuhku dengan sebilah pisau,  kemudian berteriak kegirangan.Aku di dekati dan jadi idaman para perempuan ,kenangan memburam, kemudian berganti jadi aku yang dijauhi oleh orang-orang karena tubuhku yang mengerikan dan kondisi kejiwaanku.Aku duduk di tepi danau ditemani seorang gadis, berubah mejadi aku yang sedang duduk sendirian sambil merenung di tepi danau yang dikelilingi kuburan.
Aku yang itu bukan aku yang sebenarnya.Aku ditipu oleh diri sendiri.Aku sudah gila semenjak mendengar kabar kedua orang tuaku. Aku tenggelam dalam depresi dan kesedihan yang larut.Kesedihan yang mendalam ternyata membuat kewarasanku terganggu hingga aku justru membuat memori sendiri, alih-alih apa yang sebenarnya terjadi. Inderaku menolak untuk megetahui kenyataan.Aku dibohongi oleh aku?
Saat aku sadar, aku sudah berada dalam tekanan air yang menyeret tubuhku semakin ke dasar yang tak berakhir.Kesadaranku makin menipis, rohku mulai memberontak keluar dari tubuhku yang lemah ini.Tak kuat ku menahan lebih lama lagi.Dan di saat rohku telah seutuhnya lepas, aku masih tidak tau.Apakah aku mati sebagai aku yang sebenarnya?Ataukah aku yang hanya memalingkan kehidupan dari kenyataan yang ada?
-End-

Tentang penulis: Ilhafa Qoima

Share this article :

Posting Komentar

Advertisment

alt anda alt anda alt anda alt anda The Billion Rupiah Homepage alt anda
 
Support : Baktiar Nur Makmura | Hedi M Fauzi | Nahdi Permadi | Aan Anipah | Azka Azizah
Copyright © 2013. Goresan Anak Bangsa - All Rights Reserved
Template Edited by @BMakmura Published by @KangHedi
Proudly powered by Blogger