Oleh Ilhafa Qoima (Igo)
Sampoerna Academy Bogor Campus
Sampoerna Academy Bogor Campus
Cerpen ini mendapatkan juara pertama pada event The Month of Language.
Berat
air semakin membawa tubuh lemahku lebih dalam dan dalam lagi.Aku merasakan
sakit di sekujur tubuhku, telingaku berdenging menandakan tekanan air yang
semakin kuat.Aku perlahan membuka mata.Tiap partikel air yang bergesekan dengan
mataku, membuat pandanganku semakin kabur dan buram.Aku sejenak hilang ingatan,
namun sepersekian detik kemudian ingatan itu kembali. Serpihan ingatan bergerak
ke arah kepalaku, menembusnya kemudian melekat pada tiap-tiap ruas di kepalaku.Aku
kembali sadar akan apa yang sedang terjadi.Aku megap-megap mencari nafas. Tanganku
menggapai ke sana kemari, mencari benda sebagai tempat berpegangan namun
sia-sia. Kuatnya tekanan air membuat badanku lumpuh tak bertenaga.Tak ada yang
bisa kulakukan.
Sementara tubuhku mulai tenggelam
lebih dalam, kesadaranku terbang ke waktu lain. Waktu dimana semua ini berawal.
Pada saat itu. . .
***
Namaku Eto Chaniago berasal dari
keluarga yang sederhana. Hidup bahagia bersama kedua orang tua. Bagiku,Mereka
adalah orang terpenting dalam hidup ini. Aku adalah anak tunggal sehingga
mereka sangat menyayangiku, aku pun juga menyayangi mereka.Sejenak, hidupku tak
ada bedanya dengan anak seumuranku lainnya.Penuh dengan kebahagiaan dan lain
sebagainya. Hingga saat itu terjadi, dimana aku merasakan aku menjadi beda dari
anak lain.
Aku yang berumur 12 tahun, sedang
duduk di ruang tamu menunggu orang tuaku pulang kerja.Aku menunggu dengan tidak
sabar di ruang tamu.Hari itu adalah hari ulang tahunku, karena itu aku yakin
mereka pasti membawa kado ulang tahun untukku.Aku jadi bertambah girang
memikirkannya.Tapi mereka tak kunjung tiba.
Jam dindingku menunjukkan pukul 8.47 P.M ,yang artinya mereka sudah terlambat hampir 2 jam.Kegirangan
dan ketidaksabaranku berganti menjadi perasaan takut dan gelisah.Dengan cepat,
pikiranku membuat beratus-ratus kemungkinan penyebab terlambatnya mereka.Di
tengah kegelisahaanku waktu itu, seseorang mengetuk pintu rumahku. Aku berlari
ke depan pintu dengan cepat dan tanpa ragu membukanya. Sepersekian detik
sebelumnya, senyum mengambang di wajahku karena awalnya kukira orang yang di
depan pintu adalah orang tuaku. Namun sepersekian detik sesudahnya pula, senyum
itu bagai terkena angin badai kemudian terhapus dari wajahku.
Seseorang berdiri di depan pintu,
menatapku dengan paras sedih dan prihatin kemudian mengatakan.
“Nak, Orang tuamu mengalami kecelakaan nak, mereka meninggal—“
Tiba-tiba saja jantungku berdetak sangat keras,membuat kepalaku berdenyut
.Kemudian, aku sudah tidak ingat lagi apa yang ia bicarakan setelah itu. Saat tersadar,
aku sedang duduk di kamar sepiku sendirian, di tengah keheningan malam.Ditemani
suara merdu binatang malam, aku merenung.Aku tidak menangis karena aku terlalu
sedih.Kesedihan yang kurasakan tidak dapat digambarkan dengan tangisan.Kesedihan
yang kurasakan ini sangat besar sampai-sampai tidak dapat digambarkan dengan
perasaan.Aku kosong dan tak dapat merasakan apa-apa lagi.Aku hampa.
Begitulah semenjak kepergian mereka berdua aku merasakan ada
yang aneh pada diriku.Entah kenapa hatiku jadi sekeras batu, menolak segala
perasaan yang orang beri kepadaku, termasuk cinta.Aku—entah kenapa dan sejak
kapan—menjadi idaman para murid perempuan di sekolahku.Mereka selalu mengejarku
dan meneriakkan namaku. Namun aku sama sekali tidak merasakan apa-apa terhadap
mereka, seolah mereka hanyalah angin lalu. Aku sempat berpikir bahwa aku telah
kehilangan perasaanku, namun aku salah.
Seperti biasanya, setiap malam aku pergi ke tepi danau yang
indah yang tidak terlalu jauh dari rumahku. Danau itu indah, pantulan cahaya
bulan,membuat seakan-akan danau itu bercahaya. Danau itu juga dikelilingi oleh
hutan dengan pohon yang tersusun rapi, semakin memperindah tempat tersebut.Tiap
malam aku kesana untuk mengenang kedua orang tuaku.
Namun tiba-tiba ketika aku tengah asik duduk merenung
sendirian, keluar seorang gadis dari dalam hutan dan berlari ke arahku.Ia
mengenakan gaun sutera abu-abu dengan banyak pernik menghiasi. Rambutnya
panjang terurai hingga menyentuh lututnya. Matanya besar seakan selalu terpana
akan semua yang ia lihat.Ia gadis tercantik yang pernah kutemui.
Ada sesuatu yang aneh ketika pertama kali tatapan kami berdua
bertemu.Ada perasaan menyesak di dadaku. Jantungku berdentam hebat,seperti
meronta-ronta ingin keluar dari tubuhku. Keringat dingin mengucur dari
dahiku.Aku merasakan sesuatu yang aneh pada diriku sendiri. Sesuatu yang kurasa
tidak akan pernah kurasakan sebelumnya.
“Kenapa kau melihatku seperti itu,eh?” Si gadis bertanya.Suaranya
merdu dan lembut.
“Tidak,tidak apa-apa.” Jawabku.Aku
merasakan mukaku memerah saat itu.
“Kau keberatan bila aku duduk di dekatmu?”Ia tiba-tiba
bertanya.
“Terserah.”Aku berusaha seketus mungkin menjawab.
Kemudian ia duduk di sampingku. Ia tak henti-hentinya bertanya
kepadaku. Mulutnya seakan tidak pernah berhenti bergerak.Aku juga menanyakan
tentang si gadis itu karena penasaran.
Namanya Lesie, ia seumuran denganku.Ia tinggal tidak jauh dari
hutan tersebut bersama kedua orang tuanya dan lima kakak. Keluarganya termasuk
kaya, namun karena kekayaan itu juga orang tuanya sedikit memberi perhatian
kepadanya. Karena itu tiap malam ia ke danau itu untuk mengisi waktu. Ia
mengatakan danau itu sangat indah membuat pikiran dan perasaan kita tenang dan
aku menyetujuinya.
Ada sesuatu yang berbeda yang kurasakan ketika kami berdua
ngobrol.Perasaan tenang dan nyaman yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.Dan
aku menyukainya.Hari-hari berlalu, kami tetap sering betemu di tepi danau dan
ngobrol berdua.Kami menjadi semakin akrab.Aku menyadari bahwa terjadi perubahan
pada diriku, Tiap hari, tiap waktu, tiap detik, aku selalu memikirkannya.Aku selalu
tidak sabar untuk bertemu dengannya.Aku merasa pusat dunia ini berada pada
dirinya seorang.Ia bagaikan matahari yang melumerkan batu-batu karang yang
mengelilingi hatiku. Ia bagai malam yang mendinginkan segala perasaaanku. Ia
bagai magnet yang selalu menarik perhatianku. Dan aku sadar, bahwa inilah
perasaan yang selama ini orang-orang bicarakan. Perasaan yang membuat bumi
terlonjak kaget, membuat bulan mengkerut penuh sesak, membuat ombak salin
bertubrukan ria, membuat aku terbuai dalam lamunannya ; cinta.
Namun seiring berjalannya waktu, aku merasakan ada yang
janggal pada diri Lesie.Ada sesuatu yang membuat seolah-olah dia itu ada
sekaligus tiada.Terkadang aku tidak merasakan hawa keberadaan seseorang ketika
di sampingnya.Kepalaku terkadang berdenyut ketika aku menatap ia secara
langsung. Dan yang paling tidak kumengerti adalah penampilannya.Ia selalu
memakai baju yang sama dan tidak pernah sekalipun memakai sepatu ataupun alas
kaki lainnya. Aku juga ingat pernah melihat pemandangan yang pada saat itu
kupikir hanya imajinasi. Aku melihat ketika ia menapakkan kakinya ke tanah,
seperti waktu berjalan, berlari dan sebagainya, kakinya tidak sempat menyentuh
tanah. Belum sempat satu kakinya menyentuh tanah, ia sudah melangkahkan kakinya
yang sebelah lagi. Seakan akan ia berjalan di udara.
Perasaan janggal dan penasaranku lama-lama menumpuk dan
menggunung.Akhirnya pada suatu malam aku mengatakan kepadanya. Awalnya ia diam
saja. Namun kemudian secara tiba-tiba ia menoleh kepadaku. Ia menyibakkan
rambutnya kemudian menatapku dengan ngerinya. Aku beringsut menjauh namun
badanku terasa kaku dan beku.Aku tidak bisa bergerak.Badanku dipenuhi keringat
dingin, bulu romaku berdiri, menandakan bagaimana perasaanku.
Lesie kemudian mendesis dan sesaat terjadi keheningan.Lalu
matanya perlahan lahan membesar dan semakin membesar.Mulutnya juga semakin
lebar dan besar menunjukkan senyum licik penuh arti.Taring-taringnya yang
kuning dan besar mencuat dari dalam mulutnya.Kemudian Lesie tertawa nyaring,
yang menggetarkan danau dan membuat pohon-pohon beringsut menjauh karena
kengerian tawanya. Lalu ia kembali dan menatapku, dengan cepat membuka mulutnya
dan menerkamku dengan kecepatan cahaya.
Aku terbangun dengan badan penuh keringat dingin di kasur
kamarku.Napasku memburu, jantungku berdetak dengan sangat cepat. Aku
menenangkan diri sejenak sambil duduk mengingat apa yang telah terjadi. Percuma
saja, aku kehilangan semua ingatanku. Kemudian aku turun dari kasur dan
berjalan ke depan cermin. Aku terlonjak kebelakangan melihat seseorang di dalam
cermin.Orang itu mirip denganku, hanya saja sekujur tubuhnya dipenuhi dengan
bekas sayatan pisau.Badannya juga kurus kering dan tampangnya berantakan. Lama
aku di depan cermin, sampai aku sadar bahwa yang di depanku adalah memang aku
sendiri. Aku kalut dan memecahkan cermin dihadapanku dengan sekali pukulan. Aku
tidak tau akan berbuat apa lagi selain menghancurkan semua barang-barang di
hadapanku. Ketidak tahuan, kebingungan dan kenyataan membuat rasa marah, takut,
gelisah, kesal bercampur dan digodok jadi satu hingga otakku tidak bekerja
secara sempurna.
Setelah selesai menghancurkan barang-barang di depanku, aku
segera berderap pergi meninggalkan rumah.Aku sendiri tidak tahu kemana tujuanku
pergi namun kakiku bergerak seolah mempunyai keinginan sendiri. Aku berhenti di
depan sebuah danau yang disekelilingnya terdapat kuburan yang sudah rusak dan
dimakan usia. Aku menoleh kesana-kemari, tidak tahu harus berbuat apa. Lalu
tiba-tiba potongan-potongan ingatan merasuki kepalaku.Aku memegang kepalaku,
mencengkram kuat untuk menghilangkan rasa sakit yang kuderita.Setiap pecahan
memori yang masuk ke dalam otakku, menghasilkan rasa sakit yang tak
terkira.Perlahan, ingatanku kembali dan aku mengingat semuanya dalam bentuk
potongan-potongan memori.
Aku terdiam ketika mendengar kabar orang tuaku meninggal,
kemudian ingatan itu buram dan berubah menjadi aku yang sedang menangis
sekeras-kerasnya setelah mendengar kabar itu. Aku sedang berdiri di depan
cermin menyayat tubuhku dengan sebilah pisau,
kemudian berteriak kegirangan.Aku di dekati dan jadi idaman para
perempuan ,kenangan memburam, kemudian berganti jadi aku yang dijauhi oleh
orang-orang karena tubuhku yang mengerikan dan kondisi kejiwaanku.Aku duduk di
tepi danau ditemani seorang gadis, berubah mejadi aku yang sedang duduk
sendirian sambil merenung di tepi danau yang dikelilingi kuburan.
Aku yang itu bukan aku yang sebenarnya.Aku ditipu oleh diri
sendiri.Aku sudah gila semenjak mendengar kabar kedua orang tuaku. Aku
tenggelam dalam depresi dan kesedihan yang larut.Kesedihan yang mendalam
ternyata membuat kewarasanku terganggu hingga aku justru membuat memori
sendiri, alih-alih apa yang sebenarnya terjadi. Inderaku menolak untuk
megetahui kenyataan.Aku dibohongi oleh aku?
Saat aku sadar, aku sudah berada dalam tekanan air yang
menyeret tubuhku semakin ke dasar yang tak berakhir.Kesadaranku makin menipis,
rohku mulai memberontak keluar dari tubuhku yang lemah ini.Tak kuat ku menahan
lebih lama lagi.Dan di saat rohku telah seutuhnya lepas, aku masih tidak
tau.Apakah aku mati sebagai aku yang sebenarnya?Ataukah aku yang hanya
memalingkan kehidupan dari kenyataan yang ada?
-End-
Tentang penulis: Ilhafa Qoima










Posting Komentar