Oleh Hedi Muhammad Fauzi
Sampoerna Academy Bogor Campus
Setelah
beberapa bulan meninggalkan rumah, akhirnya tibalah saat yang aku tunggu yaitu
libur Idul fitri dan tentunya pulang kampung.Aku yang masih duduk di bangku SMA
dan mondok di salah satu Pesantren di daerah Bandung sudah tidak tahan rasanya
ingin segera menemui adik angkat kembarku di rumah.Selama aku tinggal di
pesantren aku hanya bisa mendengar suara mereka lewat telpon ketika aku
menelpon Ibuku. Aku yang sering di panggil Bang Ahmed oleh Dada dan Dudu yang
tak lain adalah adik angkatku yang berumur
4 tahun sangat merindukan saat-saat bersama mereka berdua.
Ayahku mengadopsi mereka saat mereka
berusia 2 tahun dari Ayah mereka yang bernama Didi, orang tua mereka yang meninggal
dunia karena kecelakaan dan ayah mereka adalah sahabat Ayahku, jadi kedua orang
tua Dada dan Dudu mempercayakan mereka kepada Ayahku yang waktu itu aku masih
berumur 14 tahun dan kedua orang tuaku hanya memiliki anak satu, yaitu aku.
Awalnya aku tidak bisa menerima mereka karena ku pikir mereka hanya akan
menyempitkan rumah. Tetapi ternyata tidak, aku malah senang sekali dengan
mereka dan aku anggap mereka adalah adik kandungku, begitu pula dengan kedua
orang tuaku yang sangat sayang pada mereka dan menganggap mereka anak kandungnya.Ayahku
berpesan pada keluargaku terutama aku dan Ibuku agar tidak memberi tahu mereka
bahwa mereka adalah anak angkat.
Ketika aku sampai di rumah ternyata
mereka sudah berada di depan rumah dan sudah menunggu beberapa jam yang lalu.
Saat aku turun dari ojek mereka langsung berlari dan memeluku dengan air mata
rindu. Akupun memeluk erat mereka dan mereka mencium pipiku secara bersamaan.
“Dada dan Dudu puasa ngga?” tanyaku
kepada mereka ketika sudah berpelukan.
“Puasa dong” jawab mereka bersamaan.
“Udah bocor belum?Kalo belum nanti
sudah lebaran Abang kasih hadiah” lanjutku untuk menghibur mereka.
“Belum kak tapi Dudu bocor satu hari
tuh” sahut Dada sambil menunjuk Dudu
“Kalo begitu Dudu ngga dapat hadiah
dong kaka?” kata Dudu dengan nada sedih
Belum
sempat aku menjawab ternyata Dada merebut pembicaraan aku “Ya tidak, kan nanti
hadiah punya Dada bisa di bagi dua sama buat Dudu, jadi Dudu jangan sedih” kata
Dada
“Sudah-sudah kalian berdua bakal dapat
hadiah kok dari Abang, asal kalian jangan belajar berbohong ya” Lanjutku
menghibur mereka
“Iya Bang, Bang Ahmed memang baik”
sahut mereka seraya memeluku.
Orang tuaku memang sudah mengajarkan
mereka untuk puasa, walaupun hanya sampai Zuhur.Tidak hanya itu, Ayahku juga
mengajar ngaji di masjid kampungku juga mengajarkan mereka mengaji
Al-quran.Terkadang ketika aku di rumah, aku yang suka mengajakan mereka tentang
agama, praktek sholat, dan doa-doa. Aku sangat bangga sekali dengan mereka
karena mereka tidak susah untuk belajar dan mereka tidak pernah merengek untuk
meminta di belikan mainan tidak seperti anak-anak seumuranya di kampungku.
Pada malam harinya aku sengaja tidak
tidur di kamar, aku tidur di ruang tamu dan ingin menonton film action yang
biasa aku tonton, karena memang itu film kesukaanku. Ketika sedang tidur-tiduran
ternyata aku mendengar bisikan kecil dari kamar kedua adik lelakiku yang tak
lain Dada dan Dudu, aku hanya pura-pura tertidur sambil mengintip mereka dengan
mata setengah buka. Ternyata mereka keluar dari kamar, waktu menunjukan pukul
10.30 dan mereka membawa bantal dan selimut masing-masing. Ternyata diam-diam
mereka ingin tidur bersama denganku , karena mungkin mereka sudah kangen
kepadaku tapi mungkin mereka malu untuk bilang begitu. Dan akupun bangun,
mereka kaget dan terdiam
“Dada dan Dudu mau ke mana?” tanyaku
sambil duduk di karpet depan TV
Dada
menjawab dengan rasa takut dan cemas “Dada dan Dudu Cuma mau tidur bareng sama
Bang Ahmed, soalnya dulu kalo Bang Ahmed di rumah Dada dan Dudu suka tidur sama
Bang Ahmed”
“Kami mau tidur sama Bang Ahmed lagi,
tapi Dada dan Dudu malu untuk mengajak Bang Ahmed, kami takut Bang Ahmed marah”
tambah Dudu
“Kenapa harus malu, Bang Ahmed itu
Abang kalian jadi kenapa harus malu, sini kalo mau tidur bareng sama Bang
Ahmed” kataku sambil mengajak mereka tidur di sampingku sambil aku peluk
meraka. Dada tidur di sebelah kananku dan Dudu di sebelah kiriku, mereka
memeluku sangat erat mungkin karena mereka kangen kepadaku.Dan ketika itu pula
aku berpikir bagaimana kalo suatu saat nanti kami harus berpisah, dan aku sedih
ketika melihat mereka memeluku, seakan-akan mereka merasa bahwa aku adalah kaka
kandungnya.Akupun tidur dan sebelumnya aku mencium kening mereka berdua yang
saat itu mereka sudah tidur sambil memeluku.
***
Idul fitri hari yang di tunggu umat
muslim di seluruh duniapun tiba. Pagi-pagi itu keluaragaku besiap-siap memakai
pakaian baru yang di belikan oleh Ayah dan Ibuku. Kami satu keluarga memakai
pakaian seragam, Ibuku memakai Baju dan jilbab putih dan rok panjang hitam,
sedangkan kaum lelaki di keluargaku memakai pakaian putih dan sarung hitam
tidak terkecuali kedua adiku Dada dan Dudu.
Dengan rasa senang kami berangkat dari
rumah ke masjid besar di kampungku dengan jalan berjalan kaki, karena Ayahku
bilang itu salah satu sunnah Rasul ketika hendak mau Sholat I’ed. Ketika sampai di Masjid Ayahku
masuk terlebih dahulu dan duduk di barisan paling depan, sedangkan aku bersama
kedua adiku duduk di barisan tengah. Dengan senyum aku mengingatkan kedua adiku
agar tidak bercanda ketika Khattib
sedang Khutbah. Kami dengan khusyu mendengarkan Khutbah dan setelah Khutbah
seperti biasa kami pun bersalam-salaman bersama jemaah lainya.
Setelah keluar dari mesjid kami
berkumpul di rumah dan saling bermaaf-maafan kepada Ayah dan Ibu, tidak
terkecuali Dada dan Dudu yang begitu lucu dan lugu ketika meminta maaf kepada
kedua orang tuaku.
‘’Ayah, Ibu maafin Dada dan Dudu, karena
Dada dan Dudu suka merepotkan Ayah dan Ibu. Ayah Ibu Minal aidzin walfaidzin ya” begitu serempak mereka mengucapkan itu kepada
Ayah dan Ibu, dan Ayah dan Ibupun menangis terharu mendengar Dada dan Dudu
berkata seperti itu.
“Bang Ahmed maafin Dada dan Dudu ya,
soalnya Dada dan Dudu suka ngerepotin Bang Ahmed’’ lanjut mereka setelah
berpelukan dengan Ayah dan Ibu
“Bang Ahmed maafin kok, Bang Ahmed
juga minta maaf ya sama Dada dan Dudu” ucapku, kemudian aku memeluk mereka dan
di susul dengan pelukan dari Ayah dan Ibu dan kami pun berpelukan. Yang di
sayangkan adalah kami tidak mempunyai keluarga yang begitu besar, aku tidak
punya nenek dan kakek dari Ayah ataupun Ibu, mereka sudah meninggal beberapa
tahun yang lalu. Paman dan Bibiku sudah pindah rumah ke Surabaya dan sudah
hampir 3 tahun kami tidak dapat kabar dari mereka.
Ketika sedang makan kupat dan opor
ayam bersama di ruang tamu bersama rekan Ayah dan Ibuku, tiba-tiba Dada dan
Dudu mendekatiku dan mereka membisikan sesuatu kepadaku.
“Bang Ahmed hadiah yang di janjikan
bang Ahmed mana?” bisik mereka.
“Kalo begitu ayo ikut Bang Ahmed”
ajaku kepada mereka sambil mengambil kunci motor, kemudian aku ajak mereka ke pasar
modern di daerahku dan kami belanja bersama di sana. Aku habiskan uangku untuk
membahagiakan mereka, kami beli baso bersama, jalan-jalan di taman, main game
dan lain-lain sampai sore hari. Aku melakukan ini itung-itung perpisahanku
kepada mereka untuk sementara, karena tiga hari lagi aku akan kembali berangkat
ke Pesantrenku di Bandung.
Tiga hari berlalu, di pagi itu aku
bersiap-siap untuk berangkat ke Pesantrenku. Ketika aku sudah siap berangkat,
terlebih dahulu aku sungkeman kepada Ayah dab Ibuku kemudian Dada dan Dudu. Aku
sangat sedih karena akan lama berpisah dengan keluargaku terutama kedua adik
angkatku.
“Bang Ahmed jangan lama-lama ya di
bandungnya” kata Dada sambil menangis
“Iya Bang, kalo Bang Ahmed lama-lama
di sana siapa yang main lagi sama Dada dan Dudu” tambah Dudu
“Bang Ahmed Cuma sebentar kok di
bandung, Bang Ahmed pasti pulang cepat ya. Jaga diri kalian, Jangan nakal
ya.Patuhi apa kata Ayah dan Ibu.”Serayaku kemudian memeluk mereka dengan
cucuran air mata.Kemudian aku berangkat dan melambaikan tangan kepada mereka.
Aku melihat dari kejauhan Dada dan Dudu menangis dan langsung memeluk
Ibuku.Tahun pelajaran sekarang aku akan lebih lama di Pesantren, jadi wajar
saja kalo mereka begitu sedih ditinggalkanku.
***
Tak terasa sudah 3 bulan aku meninggalkan
rumah dan juga melakukan aktifitas belajarku di Pesantren dan SMA. Terkadang
aku sering menangis sendiri sebelum tidur karena aku teringat kedua adik angkatku
yang tak lain adalah Dada dan Dudu, aku teringat ketika mereka tidur di
sampingku dan memeluku, seperti menganggap bahwa aku adalah kaka kandung
mereka.
Keesokan harinya ketika pulang sekolah
aku mendapat kabar bahwa Ayah dan Ibuku akan mengunjungiku ke Pesantren. Begitu
senangnya aku karena aku sudah rindu pada orang tuaku, tetapi yang di sayangkan
adalah Dada dan Dudu tidak bisa ikut, karena Ayahku menggunakan motor dan itu
tidak mungkin untuk membawa lebih dari dua orang ke jalan kota. Jadi mau tidak
mau Dada dan Dudu di titipkan terlebih dahulu kepada Pak Maman tetangga
dekatku.
Ketika aku menunggu kedatangan orang
tuaku tiba-tiba perasaanku tidak enak, tidak tahu kenapa aku teringat Ibuku.Dan
akupun membuang perasaan itu dan percaya bahwa orang tuaku tidak mengalami
sesuatu yang membahayakan mereka.
Saat sudah lama aku menunggu di depan
gerbang tiba-tiba temanku memanggilku ke kantor, karena ada telpon dari
sesorang yang mengaku tetanggaku. Dan akupun berlari ke kantor dan langsung
mengambil alih pembicaraan di telpon.
“Assalamualaikum, ini saya Ahmed ini
siapa ya?” salamku kepada dia
“Waalaikumsalam, Ahmed ini saya Pak
Maman” jawabnya, yang ternyata adalah Pak Maman tetanggaku di kampung.
“Iya Pak ada apa, kok nelpon?”
“Ahmed sekarang Pak Maman sedang ada
di rumah sakit, tadi ada seseorang yang memberi tahu Bapak kalo Ayah sama Ibu
kamu kecelakaan di jalan saat hendak mau ke pesantren”
“Sekarang keadaan mereka bagaimana
pak?” tanyaku sambil kaget dan mengangis
“Sekarang mereka sedang di rawat si
UGD dan Bapak belum tahu pasti apa kabarnya dari kedua orangtuamu, sebaiknya
sekarang kamu cepat ke sini”
“Iya pak baik, saya akan segera ke
sana” kemudian aku melaporkan kejadian itu kepada salah satu Ustazku dan dia
mengantarku untuk ke rumah sakit melihat keadaan orangtuaku.
Ketika sampai di rumah sakit aku
langsung bertemu dengan Pak Maman yang sedang menangis di depan ruang UGD. Dan
tiba-tiba perasaanku tidak enak dan aku langsung lari menghampirinya.Dengan
tergesa-gesa aku bertanya kepada Pak Maman.
“Pak Maman gimana sekarang keadaan
Ayah dan Ibu.” Tanyaku dan Pak Maman hanya terdiam dan beberapa saat dan
kemudian berdiri dan berkata sambil menangis.
“Ahmed kamu sabar ya, Dokter bilang
kedua orang tuamu tidak bisa di selamatkan, karena mereka mengalami kecelakaan
yang sangat parah” katanya seraya memegang pundaku
Ketika itu aku tidak bisa berkata
apa-apa lagi selain menangis dan memukul-mukul teras rumah sakit.Aku tidak
percaya kenapa semua ini bisa terjadi, aku pun merasa bersalah karena mereka
mengalami kecelakaan itu karena mau mengunjungiku ke Pesantren.Kemudian Ustazku
mendekatiku seraya berkata.
“Sabar nak, sesungguhnya pasti ada
hikmah di balik semua ini, ini adalah cobban bagi kamu sebagai hamba Allah,
bersabarlah maka kamu akn beruntung.Di balik semua ini pasti ada sesuatu yang
baik untuk kamu beserta keluarga kamu.Kamu berdo’a saja mudah-mudahan amal
ibadah orang tuamu di terima di sisi Allah SWT” kemudian beliau membawaku untuk
melihat jasad kedua orang tuaku.
Sesaat pulang kerumah di antar oleh
Ustazku, begitu pula kedua jasad orangtuaku yang di bawa ambulan, di depan
rumahku sudah banyak sekali bendera kuning dan bunga dari rekan-rekan Ayah dan
Ibuku. Ketika aku turun aku langsung menghampiri Dada dan Dudu yang waktu itu
sedang menangis di pangkuan Bibi Sri istri Pak Maman. Mereka melihat kedatanganku
dan langsung memelukku, mereka tidak menangis karena mereka tidak tahu bahwa
Ayah dan Ibu meninggal, mereka hanya tahu Ayah dan Ibu tertidur ketika hendak
pergi membeli hadiah dan mereka juga hanya tahu bahwa Ayah dan Ibu pergi ke
surga.
“Bang Ahmed Ayah dan Ibu kemana, kata
Bibi Sri Ayah dan Ibu pergi ke Surga duluan” kata Dada
“Bang kenapa Ayah dan Ibu tidak
mengajak Dada dan Dudu dan juga Bang Ahmed ke surga, padahalkan kata Ayah di
surga itu enak, ada Baso banyak, pakaian bagus dan game juga banyak.” Tambah
Dudu yang terbata-bata dan polos itu.Aku hanya terdiam dan menangis ketika
mendengar mereka berkata seperti itu.
“Bang Ahmed kenapa nangis, kan kata
abang juga lelaki yang nangis itu cengeng” lanjut Dada
“Iya Bang, kok Bang Ahmed nangis.
Padahalkan Ayah dan Ibu cuma mau ngambil hadiah ke surga kenapa Bang Ahmed
nangis ” Tambah Dudu. Aku hanya mengiyakan saja apa perkataan mereka. Mereka
tidak tahu bahwa Ayah dan Ibu tidak akan kembali lagi untuk selamanya.
Ketika jasad Ayah dan Ibu di bacakan
Yasiin, aku duduk persis di samping jasad Ayah dan Ibuku yang sudah di kafani,
kedua adikupun duduk di sampingku. Aku tidak bisa percaya semua ini, aku merasa
akulah penyebab kecelakaan ini, karena ketika itu mereka sedang di jalan untuk
berkunjung ke Pesantrenku. Tiba-tiba anak kecil berbisik ke telingaku.
“Bang Ahmed kenapa Ayah dan Ibu di
tutup kaya pocong di TV, kasian tuh Ibu nanti susah bernafas kalo di tutup idungnya”
ternyata Dudu yang berbisik kepadaku
“Iya Bang kasian itu Ayah dan Ibu”
tambah Dada. Kedua adiku yang masih kecil belum tahu apa itu meninggal, apa itu
kain kafan, kenapa Ayah dan Ibuku seperti itu. Karena setiap mereka melihat
orang yang meninggal Ibuku bilang kepada mereka bahwa yang meninggal itu hendak
pergi ke surga.
Ketika jasad kedua orang tuaku hendak
mau di bawa ke pemukiman, aku sengaja menitipkan Dada dan Dudu kepada Bibi Sri
di rumah, aku tidak mau mereka mengetahui proses pemakaman kedua orang tuaku,
karena aku tahu apabila mereka tahu mereka pasti bertanya-tanya tentang itu dan
aku tidak mau membuat mereka mengetahuinya karena mereka masih kecil dan susah
untuk mendiamkanya.
Aku membacakan doa ketika jasad Ayah
dan Ibuku di masukan ke dalam liang lahat, dan aku tak kuasa menahan tangisan
dan kesedihan dari diriku, karena aku kehilangan kedua orang yang mana mereka
telah membesarkanku, mendidiku, mengajarkanku kebaikan dan yang penting adalah
mereka memberikan kasih sayang yang tak akan bisa terbalas oleh uang berapapun
itu. Orang-orang memberikan rasa duka cita mereka, tak sedikit orang yang
memeluku dan menyabarkanku.
Selesai proses pemakaman akupun pulang
dengan perasaan yang tidak ingin meninggalkan makan Ayah dan Ibuku. Rasanya
sebagian hidupku telah musnah habis di telan bumi, aku tidak punya siapa-siapa
lagi.Tetapi aku ingat, masih ada Dada dan Dudu, kedua adik angkatku yang selalu
menghiburku. Aku janji kepada Ayah dan Ibuku untuk menjaga dan merawat kedua
adik angkatku dengan penuh rasa kasih sayang laksana kaka kandung mereka. Dan
sekarang aku menjadi tulang punggung keluargaku, karena kau tidak punya sodara
lagi, dan sekarang tanggung jawab Dada dan Dudu ada di dalam diriku.
***
Tiga minggu sudah kepergian orang
tuaku aku masih suka menyendiri di kamar, terkadang keluar kamar apabila hendak
mandi dan solat saja, aku masih teringat kedua orang tuaku.Sedangkan Dada dan
Dudu masih aku titpkan sementara kepada keluarga Bibi Sri, mereka begitu baik
kepada kami walaupun Bibi Sri memiliki 5 anak yang masih di bawah umur semua.
Maka sejak itu pula aku sudah resmi
keluar dari pesantrenku, karena aku lebih memilih untuk hidup dengan kedua adik
angkatku. Perpisahan yang sangat menyedihkan ketika aku pergi meninggalkan
teman-temanku di pesantren, tetapi apa boleh buat inilah yang harus aku lakukan
demi kedua adiku. Sempat ada salah satu warga di kampungku meminta kedua adik
angkatku untuk mereka angkat sebagai anak mereka, tetapi aku tidak mau karena
aku sudah memenganggap Dada dan Dudu sebagai adik kandungku.Dan sekarang hanya
merekalah jantung hidupku.
Ketika aku sedang melamun seperti biasa di
jendela kamar, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku, dan dengan
rasa malas aku membuka pintu.Ternyata itu adalah Bibi Sri beserta Dada dan
Dudu. Ketika melihatku Dada dan Dudu langsung memeluku dengan tawa kecil,karena
mereka senang bertemu lagi denganku setelah beberapa hari aku titipkan di rumah
Bibi Sri.
“Ahmed boleh Bibi berbicara denganmu,
sebentar saja” pinta Bibi Sri
“Iya boleh, Bi” aku mengiyakan sambil
duduk di kursi kamarku.Sedangkan Dada dan Dudu terlihat asyik loncat-loncat di
kasurku.
“Ahmed sebelumnya Bibi mau minta maaf
sama kamu kalo Bibi menyakiti hatimu. Seperti yang kamu ketahui suami Bibi
hanya bekerja sebagai Guru SD yang gajinya bisa di bilang minim, kemudian
anak-anak Bibipun banyak dan mereka semua masih kecil-kecil”
“Terus kenapa Bi?”
“Kan Dada dan Dudu sudah lama tuh di
titipkan di rumah Bibi dan kamu juga sampai sekarang masih suka makan dari
Bibi. Dengan permohonan maaf yang paling besar mungkin mulai besok Bibi tidak
bisa melakukan itu lagi, karena jangankan membiayai makan anak orang lain anak
sendiri aja tidak tau sudah kenyang apa belum, belum dengan biaya keluarga,
sekolah dan yang lainya. Jadi Bibi mohon maaf” Kata Bibi Sri sambil memegang
pundaku. Dan aku hanya terdiam sambil mengiyakan.
Setelah itu Bibi Sripun langsung pamit
dan menyuruh Dada dan Dudu untuk tinggal bersamaku lagi. Dada dan Dudu begitu
senang mendengar bahwa mereka akan tinggal lagi bersamaku. Merekapun berlari
dan langsung memeluku.Tetapi ketika itu pula aku bingung bagaimana harus
menghidupi kedua adik angkatku. Tetapi dengan senyuman dan kebahagiaan Dada dan
Dudu akupun semangat dan akan menebus janjiku kepada kedua orang tuaku untuk
menjaga dan merawat Dada dan Dudu.
“Bang Ahmed kenapa dari kemarin sedih
terus?” tanya Dudu
“Kangen sama Ayah dan Ibu ya, Bang?”
tambah Dada. Dan aku hanya terdiam sambil menatap mereka.
“Bang Ahmed Ayah sama Ibu kenapa belum
pulang, kenapa mereka lama di surganya?” tanya kembali Dudu kepadaku
“Iya Bang, Dada dan Dudu mau ketemu
sama Ayah dan Ibu.” Tambah Dada sambil murung
“Dada sama Dudu jangan khawatir, suatu
saat kalian sama Bang Ahmed akan bertemu kembali bersama Ayah dan Ibu, mungkin
sekarang Ayah dan Ibu sedang melihat kita bersama di sini. Mereka sekarang
sedang bahagia berdua di istana surganya. Jadi Dada dan Dudu tidak usah
menghawatirkan Ayah dan Ibu lagi” jawabku sambil menangis meneteskan air mata.
“Bang Ahmed kenapa nangis?” kata kedua
adiku sambil mengusap air mataku.
“Bang Ahmed sebenarnya kangen sama
Ayah dan Ibu, kita berdoa saja ya semoga Ayah dan Ibu bahagia di surga dan kita
bisa bertemu bersama mereka di surga nanti” ucapku sambil menangis dan memeluk
kedua adiku.
Tiba-tiba setelah memeluk kedua adiku
perasaanku jadi berubah, yang tadinya aku mengeluh tiba-tiba menjadi timbul
rasa semangat untuk berkerja menafkahi mereka.Dan dengan rasa itu akupun
mengajak Dada dan Dudu untuk bermain, membuang rasa kesedihan dan akhirnya
akupun bisa membuang kesedihan itu dan bersemangat kembali untuk mengajarkan
ngaji, membaca, menghitung dan yang lainya kepada kedua adiku.
Keesokan harinya dengan modal rumah dan
harta waris kedua orang tuaku aku berusaha untuk bisa menjadi tulang punggung
kedua adiku. Terutama dengan motor peninggalan Ayahku yang masih bagus, karena
ketika beliau masih ada beliau memiliki dua motor. Dengan motor itu aku menjadi
tukang ojek dadakan dan Alhamdulillah dengan pertolongan Allah SWT aku menjadi
tukang ojek yang di sukai banyak penumpangnya, karena selain hati-hati dalam
membawa penumpang akupun suka membersihkan motor beserta diriku. Jadi wajar
saja apabila banyak penumpang yang senang denganku. Terkadang penumpangku juga
memberikan ongkos lebih kepadaku.
Aku berani putus sekolah demi kedua adiku,
karena yang ada di pikiranku adalah bagaimana bisa mendidik kedua adiku,
terutama tidak membuat mereka kelaparan, apalagi harus di berikan kepada orang
lain. Walaupun menjadi tukang ojek muda, tetapi aku menikmati pekerjaan ini
karena aku rasa menjadi tukang ojekpun asalkan halal dan orang lain suka kenapa
tidak, selagi aku tidak melupakan Allah SWT dan ibadah yang harus ku jalani.
***
Setelah beberapa bulan menjadi tukang ojek
yang terkenal dan paling laku di kampung, akhirnya aku bisa memasukan kedua
adik angkatku ke salah satu TK terpadu di daerahku.Setiap pagi aku mengantarkan
mereka ke sekolahnya dan kembali menjemputnya di siang hari.Sepulangnya aku
mengajak mereka ke warung nasi langgananku, yang pemiliknya itu sangat baik
kepadaku.Terkadang aku suka gratis di warung nasi itu, karena aku senang
membantu mereka belanja ke pasar.
Selain mendapatkan penghasilan dari ngojek
aku juga sering menjadi pendakwah muda di daerahku. Biasanya rutin pada hari
jumat dari masjid ke masjid. Dan juga apabila di undang oleh orang yang
mempunyai acara nikahan atau sunatan, selain itu akupun aktif di organisasi
kepemudaan di daerahku, dari sanalah aku mendapatkan penghasilan untuk
menafkahi kedua adiku.
Di pagi hari ketika sedang bersiap-siap mengantar
kedua adiku, tiba-tiba datang dua orang suami istri yang terlihat masih muda
turun dari mobil mewahnya di depan rumahku. Dan tiba-tiba mereka menghampiriku.
“Assalamualaikum, benar ini rumahnya Pak Amay”
sapa mereka daan menanyakan rumah Ayahku
“Waalaikumsalam, iya betul ini rumahnya dan
saya adalah putranya, Anda siapa?”
“Terlebih dahulu saya ikut berduka cita
atas wafatnya Pak Amay, boleh saya masuk” doa dan pintanya kepadaku
“Oh iya boleh Pak silahkan masuk” kataku
seraya membukakan pintu untuk mereka dan menyuruh duduk di ruang tamu, kemudian
aku ambilkan air minum untuk mereka.
“Kalau boleh tahu Bapak siapa?” tanyaku
“Perkenalkan saya Hadi adik kandung dari
Pak Didi” kemudian tiba-tiba aku merasakan hal yang tidak enak ketika dia
mengaku sebagai adik kandung dari Pak Didi yang tak lain adalah orang tua
kandung Dada dan Dudu yang sudah meninggal.
“Kemudian apa maksud Bapak dan Ibu datang
ke sini?” tanyaku lagi dengan penasaran
“Begini nak, seperti yang kita ketahui
bahwa kedua anak dari Kaka kandung saya sudah di adopsi oleh Pak Amay, kemudian
sekarang Pak Amay beserta Istrinya sudah meninggal. Jadi demi kebaikan semua
saya dan istri saya bermaksud untuk mengambil kedua anak kembar dari kakak saya
yang bernama Dada dan Dudu. Karena kami tahu Pak Amay tidak mempunyai lagi
keluarga” katanya panjang lebar seraya membuat jantungku bergetar kencang.
“Mohon maaf Pak, rasanya saya tidak bisa
memberikan kedua anak kembar itu,karena saya masih bisa mengurus mereka dan
merawat mereka dengan baik, lagi pula saya sudah menganggap mereka seperti adik
kandung saya sendiri” sahutku
“Tetapi kamu masih kecil nak, lebih baik
kamu sekolah dari pada mengurus anak kecil, lagian hak asuh kami lebih besar
dari pada kamu”
“Tidak Pak, sampai kapanpun saya tidak akan
memberikan kedua adik saya, karena saya lah yang mengasuh mereka sejak
kepergian orang tua saya” sanggahku sambil mencucurkan air mata
“Baiklah kalo begitu, saya akan membawa
kasus ini ke pengadilan. Karena saya yakin hak asuh saya lebih besar, tunggu
saja besok di pengadilan nak”
“Silahkan Pak saya tidak akan pernah takut”
kataku kemudian mereka pergi meninggalkan rumahku dan mereka melihat Dada dan
Dudu di atas motor yang sudah siap akan berangkat sekolah.
Malam harinya aku memikirkan bagaimana
apabila benar mereka membawa kasus ini ke pengadilan. Pastilah aku kalah hak
asuh terhadap Dada dan Dudu oleh mereka. Tetapi malam itu aku terus berdoa
kepada Allah, sholat tahajud, dan terus memohon agar aku diberikan yang terbaik
dan semoga aku masih bisa hidup dengan Dada dan Dudu sampai aku menghembuskan
nafas terakhirku.
Keesokan harinya ternyata benar, dua orang
yang mengaku dari pihak pengadilan datang dan menjemputku untuk persidangan
masalah hak asuh Dada dan Dudu. Akupun berangkat di temani oleh Pak Maman
tetanggaku, sementara aku titipkan Dada dan Dudu kepada Bibi Sri. Pak Maman
akan berusaha membelaku untuk hak asuh Dada dan Dudu, dan aku berngkat dengan
berdoa dan harapan yang baik.
Ketika di tempat persidangan, sidang
berjalan dengan penuhnya pembelaan dari Pak Hadi dan juga Aku, Pak Maman yang
membelaku sedangkan Pak Hadi di temani pengacara mahal yang bisa saja
mengungkapkan pembelaanya dengan tegas. Ketika itu aku hanya bisa mengungkapkan
apa yang harus aku ungkapkan dan berdoa, sepenuhnya aku pasrahkan kepada Allah.
Ternyata apa yang aku takutkan terjadi, hak
asuh Dada dan Dudu ada di tangan pak Hadi. Aku di berikan waktu 2 hari lagi
untuk bisa bersama dengan Dada dan Dudu setelah itu kami akan berpisah dan tidak
tahu apakah akan bertemu lagi atau tidak.
Malam harinya di rumah ketika sebelum tidur
aku menangis, memikirkan bagaimana kalau aku berpisah dengan Dada dan Dudu. Aku
kehilangan dua orang yang begitu aku sayangi dan sekarangpun aku harus kembali
kehilangan dua orang yang aku sayangi pula. Tiba-tiba Dada dan Dudu
menghampiriku yang sedang menangis.
“Bang Ahmed kenapa nangis?” tanya mereka
“Ngga kenapa-kenapa kok, cuma tadi matanya
kena debu dari karpet” jawabku yang berbohong. Kemudian aku melanjutkan pembicaraan
“Dada dan Dudu gimana kalo misalnya suatu
saat kalian berpisah sama Bang Ahmed?” tanyaku pada mereka.
“Ngga!!!. Dada dan Dudu tidak mau berpisah
sama Bang Ahmed.” Teriak Dada
“Iya, Dada sama Dudu mau terus sama Bang
Ahmed selamanya” tambah Dudu.
“tapi bagaimana kalo emang kita harus
bepisah?” tanyaku lagi
“Pokoknya ngga mau Dada dan Dudu mau sama
Bang Ahmed terus” jawab mereka seraya memeluku. Dan akupun menangis karena
sedih, dan aku rasa inilah saat-saat terakhirku bersama mereka.
Hari yang aku takutkanpun datang, tibalah
saat dimana aku harus berpisah dengan orang yang aku sayangi. Aku membereskan
semua pakainya dan juga barang-barang mereka. Aku hanya bilang kepada mereka
bahwa aku melakukan itu agar terlihat rapih, padahal sebenarnya tidak.
Beberapa lama kemudian Pak Hadi dan
istrinya datang ditemani dengan pengacara mereka dan mereka langsung datang
menuju pintu rumahku. Dan dengan perkataaan yang lemah lembut Pak Hadi meminta
kedua sepupunya itu.
“Ahmed, saya mohon maaf. Mungkin
sekaranglah saatnya kamu berpisah dengan kedua adik angkatmu. Sebelumnya aku
ucapkan terima kasih karena kamu sudah merawat mereka sampai sekarang”
“Pak Hadi saya mohon Pak, saya tidak bisa
hidup tanpa mereka, mereka adalah kehidupanku. Saya mohon dengan sangat pak, tolong
saya”
“Maaf Ahmed, tapi inilah yang harus saya
laukakn demi kebaikan kedua adik angkatmu dan juga kamu” kata dia sambil aku
berlutut di depanya agar mereka membiarkan aku hidup dengan Dada dan Dudu.
Tapi memang itu sudah kemauan mereka, aku
tidak bisa menawar lagi. Aku hanya bisa menangis dan berdoa kepada Allah semoga
apa yang terjadi menjadi berkah bagi aku, Dada dan dudu.
“Dada dan Dudu sekarang ikut sama Pak Hadi
ya, Pak hadi mau mengajak kalian bermain ke taman dan membeli baso yang enak”
suruhku kepada Dada dan Dudu. Tapi sepertinya mereka sudah tau apa yang akan
terjadi.
“Tidak mau, Dada dan Dudu mau sama Bang
Ahmed” kata Dudu
“Iya pokonya Dada dan Dudu tidak akan pergi
kalo tidak sama Bang Ahmed”tambah Dada
Kemudian Istri Pak Hadi membujuk mereka,
dan karena tidak bisa di bujuk akhirnya Istri Pak Hadi membawa mereka dengan
paksa ke mobil di bantu dengan pengacara Pak Hadi. Sementara aku hanya bisa
terdiam dan mengis di depan pintu rumahku, padahal sebenarnya aku tidak mau
melepaskan mereka. Pak hadi hanya menatapku seraya masuk ke dalam mobilnya dan
pergi begitu saja. Aku melihat Dada dan Dudu menengok dari kaca mobil sambil
menangis dan memukul-mukul kaca mobil.
Setelah berpisahnya aku bersama Dada dan
Dudu, aku tidak bersemangat lagi melakukan aktivitasku. Bahkan aku sampai sakit
karena memikirkan kedua adik angkatku. Aku hanya bisa menatapi foto-fotoku
bersama Dada dan Dudu sambil menangis. Rasanya aku tidak bisa apa-apa lagi,
rumah Pak Hadipun aku tidak tahu di mana.
Setelah dua hari berlalu, ketika aku
terbaring di atas kasurku karena sakit tiba-tiba terdengar suara mobil yang
suaranya halus berhenti di depan rumahku. Aku tidak peduli dengan itu, karena
kau kira itu hanyalah mobil yang kebetulan berhenti di depan rumah. Tiba-tiba
ada yang mengetuk pintu rumahku dan aku dengar suara teriak anak kecil yang aku
rasa jumlah mereka adalah dua orang dan memanggil namaku
“Bang Ahmed, Bang Ahmed, Buka pintu Bang”
teriak mereka. Dan aku mengenali suara itu, dan aku yakin itu adalah suara Dada
dan Dudu. Akupun bangkit dari kamarku, rasanya rasa sakit itu hilang ketika
mendengar teriakan anak kecil itu.
Ternyata benar itu adalah Dada dan Dudu,
dan akupun langsung memeluk mereka begitu juga mereka yang memeluku dan akupun
menangis karena inilah yang aku mau. Ternyata maksud kedatangan Pak Hadi
kerumahku adalah hendak ingin menjemputku dan dia juga akan mengangkatku
sebagai sepupu angkatnya, dia juga berjanji akan menyekolahkanku dan aku akan
tinggal bersama mereka dan juga Dada dan Dudu.
Aku hanya menangis dan berterimakasih
kepada Pak Hadi dan Istrinya, dan aku juga tak lupa bersukur kepada Allah,
karena aku yakin semua ini tidak akan terjadi tanpa Takdirnya. Dan akupun
berangkat meninggalkan rumahku dan hidup bersama Pak Hadi yang ternyata dia
adalah seorang Ustaz pemimpin pesantren besar di daerahnya.
***
Sekarang aku berada di Madinah, aku
mendapatkan beasiswa penuh S1 dan S2 di University of Madinah dari kementrian
Agama Indonesia. Dan aku baru menyelesaikan Wisudaku dengan Mahasiswa Lulusan
Fakultas Bisnis terbaik di Madinah dan aku berhasil memecahkan rekor Mahasiswa
pertama yang meraih nilai tertinggi di University of Madinah. Aku bangga sekali
dengan apa yang aku dapatkan.
Selain itu akupun menjadi pembisnis muda di
Madinah, aku menjadi penjual Baso sukses di Madinah, banyak sekali orang yang
menyukainya bukan hanya dari Madinah tetapi orang yang datang dari luar Madinah
yang sengaja datang ke Madinah untuk membelu Basoku.
Inilah hasil perjuanganku selama ini, aku
bangga dengan apa yang aku dapatkan sekarang. Aku bisa menjadi seperti ini tak
lain adalah pertolongan dari Allah SWT, dan juga motivasi yang diberikan Pak
Hadi dan juga tidak tertinggal adalah berkat keceriaan dan kasih sayang dari
Dada dan Dudu yang sekarang sudah berumur 12 tahun.
Seminggu lagi aku akan pulang ke kampung
halamanku di Indonesia dimana itulah tempat yang membuatku sekarang sampai
seperti ini. Aku sudah kangen sekali dengan kedua adik angkatku, karena sudah 6
tahun aku tidak pulang ke Indonesia, dan seminggu lagi aku akan bertemu dengan
mereka. Dan merekalah Dada dan Dudu sebagai DaDu kehidupanku. (Rabu 30 Mei 2011, Semboja Kinasih Resort)
-End-
Tentang Penulis










Posting Komentar