Home » , » DaDu Kehidupanku

DaDu Kehidupanku

Written By Unknown on Sabtu, 19 Januari 2013 | 22.09

Oleh Hedi Muhammad Fauzi
Sampoerna Academy Bogor Campus



          Setelah beberapa bulan meninggalkan rumah, akhirnya tibalah saat yang aku tunggu yaitu libur Idul fitri dan tentunya pulang kampung.Aku yang masih duduk di bangku SMA dan mondok di salah satu Pesantren di daerah Bandung sudah tidak tahan rasanya ingin segera menemui adik angkat kembarku di rumah.Selama aku tinggal di pesantren aku hanya bisa mendengar suara mereka lewat telpon ketika aku menelpon Ibuku. Aku yang sering di panggil Bang Ahmed oleh Dada dan Dudu yang tak lain adalah adik angkatku yang berumur  4 tahun sangat merindukan saat-saat bersama mereka berdua.
          Ayahku mengadopsi mereka saat mereka berusia 2 tahun dari Ayah mereka yang bernama Didi, orang tua mereka yang meninggal dunia karena kecelakaan dan ayah mereka adalah sahabat Ayahku, jadi kedua orang tua Dada dan Dudu mempercayakan mereka kepada Ayahku yang waktu itu aku masih berumur 14 tahun dan kedua orang tuaku hanya memiliki anak satu, yaitu aku. Awalnya aku tidak bisa menerima mereka karena ku pikir mereka hanya akan menyempitkan rumah. Tetapi ternyata tidak, aku malah senang sekali dengan mereka dan aku anggap mereka adalah adik kandungku, begitu pula dengan kedua orang tuaku yang sangat sayang pada mereka dan menganggap mereka anak kandungnya.Ayahku berpesan pada keluargaku terutama aku dan Ibuku agar tidak memberi tahu mereka bahwa mereka adalah anak angkat.
          Ketika aku sampai di rumah ternyata mereka sudah berada di depan rumah dan sudah menunggu beberapa jam yang lalu. Saat aku turun dari ojek mereka langsung berlari dan memeluku dengan air mata rindu. Akupun memeluk erat mereka dan mereka mencium pipiku secara bersamaan.
          “Dada dan Dudu puasa ngga?” tanyaku kepada mereka ketika sudah berpelukan.
          “Puasa dong” jawab mereka bersamaan.
          “Udah bocor belum?Kalo belum nanti sudah lebaran Abang kasih hadiah” lanjutku untuk menghibur mereka.
          “Belum kak tapi Dudu bocor satu hari tuh” sahut Dada sambil menunjuk Dudu
          “Kalo begitu Dudu ngga dapat hadiah dong kaka?” kata Dudu dengan nada sedih
Belum sempat aku menjawab ternyata Dada merebut pembicaraan aku “Ya tidak, kan nanti hadiah punya Dada bisa di bagi dua sama buat Dudu, jadi Dudu jangan sedih” kata Dada
          “Sudah-sudah kalian berdua bakal dapat hadiah kok dari Abang, asal kalian jangan belajar berbohong ya” Lanjutku menghibur mereka
          “Iya Bang, Bang Ahmed memang baik” sahut mereka seraya memeluku.
          Orang tuaku memang sudah mengajarkan mereka untuk puasa, walaupun hanya sampai Zuhur.Tidak hanya itu, Ayahku juga mengajar ngaji di masjid kampungku juga mengajarkan mereka mengaji Al-quran.Terkadang ketika aku di rumah, aku yang suka mengajakan mereka tentang agama, praktek sholat, dan doa-doa. Aku sangat bangga sekali dengan mereka karena mereka tidak susah untuk belajar dan mereka tidak pernah merengek untuk meminta di belikan mainan tidak seperti anak-anak seumuranya di kampungku.
          Pada malam harinya aku sengaja tidak tidur di kamar, aku tidur di ruang tamu dan ingin menonton film action yang biasa aku tonton, karena memang itu film kesukaanku. Ketika sedang tidur-tiduran ternyata aku mendengar bisikan kecil dari kamar kedua adik lelakiku yang tak lain Dada dan Dudu, aku hanya pura-pura tertidur sambil mengintip mereka dengan mata setengah buka. Ternyata mereka keluar dari kamar, waktu menunjukan pukul 10.30 dan mereka membawa bantal dan selimut masing-masing. Ternyata diam-diam mereka ingin tidur bersama denganku , karena mungkin mereka sudah kangen kepadaku tapi mungkin mereka malu untuk bilang begitu. Dan akupun bangun, mereka kaget dan terdiam
          “Dada dan Dudu mau ke mana?” tanyaku sambil duduk di karpet depan TV
Dada menjawab dengan rasa takut dan cemas “Dada dan Dudu Cuma mau tidur bareng sama Bang Ahmed, soalnya dulu kalo Bang Ahmed di rumah Dada dan Dudu suka tidur sama Bang Ahmed”
          “Kami mau tidur sama Bang Ahmed lagi, tapi Dada dan Dudu malu untuk mengajak Bang Ahmed, kami takut Bang Ahmed marah” tambah Dudu
          “Kenapa harus malu, Bang Ahmed itu Abang kalian jadi kenapa harus malu, sini kalo mau tidur bareng sama Bang Ahmed” kataku sambil mengajak mereka tidur di sampingku sambil aku peluk meraka. Dada tidur di sebelah kananku dan Dudu di sebelah kiriku, mereka memeluku sangat erat mungkin karena mereka kangen kepadaku.Dan ketika itu pula aku berpikir bagaimana kalo suatu saat nanti kami harus berpisah, dan aku sedih ketika melihat mereka memeluku, seakan-akan mereka merasa bahwa aku adalah kaka kandungnya.Akupun tidur dan sebelumnya aku mencium kening mereka berdua yang saat itu mereka sudah tidur sambil memeluku.
***
          Idul fitri hari yang di tunggu umat muslim di seluruh duniapun tiba. Pagi-pagi itu keluaragaku besiap-siap memakai pakaian baru yang di belikan oleh Ayah dan Ibuku. Kami satu keluarga memakai pakaian seragam, Ibuku memakai Baju dan jilbab putih dan rok panjang hitam, sedangkan kaum lelaki di keluargaku memakai pakaian putih dan sarung hitam tidak terkecuali kedua adiku Dada dan Dudu.
          Dengan rasa senang kami berangkat dari rumah ke masjid besar di kampungku dengan jalan berjalan kaki, karena Ayahku bilang itu salah satu sunnah Rasul ketika hendak mau Sholat I’ed. Ketika sampai di Masjid Ayahku masuk terlebih dahulu dan duduk di barisan paling depan, sedangkan aku bersama kedua adiku duduk di barisan tengah. Dengan senyum aku mengingatkan kedua adiku agar tidak bercanda  ketika Khattib sedang Khutbah. Kami dengan khusyu mendengarkan Khutbah dan setelah Khutbah seperti biasa kami pun bersalam-salaman bersama jemaah lainya.
          Setelah keluar dari mesjid kami berkumpul di rumah dan saling bermaaf-maafan kepada Ayah dan Ibu, tidak terkecuali Dada dan Dudu yang begitu lucu dan lugu ketika meminta maaf kepada kedua orang tuaku.
          ‘’Ayah, Ibu maafin Dada dan Dudu, karena Dada dan Dudu suka merepotkan Ayah dan Ibu. Ayah Ibu Minal aidzin walfaidzin ya” begitu serempak mereka mengucapkan itu kepada Ayah dan Ibu, dan Ayah dan Ibupun menangis terharu mendengar Dada dan Dudu berkata seperti itu.
          “Bang Ahmed maafin Dada dan Dudu ya, soalnya Dada dan Dudu suka ngerepotin Bang Ahmed’’ lanjut mereka setelah berpelukan dengan Ayah dan Ibu
          “Bang Ahmed maafin kok, Bang Ahmed juga minta maaf ya sama Dada dan Dudu” ucapku, kemudian aku memeluk mereka dan di susul dengan pelukan dari Ayah dan Ibu dan kami pun berpelukan. Yang di sayangkan adalah kami tidak mempunyai keluarga yang begitu besar, aku tidak punya nenek dan kakek dari Ayah ataupun Ibu, mereka sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Paman dan Bibiku sudah pindah rumah ke Surabaya dan sudah hampir 3 tahun kami tidak dapat kabar dari mereka.
          Ketika sedang makan kupat dan opor ayam bersama di ruang tamu bersama rekan Ayah dan Ibuku, tiba-tiba Dada dan Dudu mendekatiku dan mereka membisikan sesuatu kepadaku.
          “Bang Ahmed hadiah yang di janjikan bang Ahmed mana?” bisik mereka.
          “Kalo begitu ayo ikut Bang Ahmed” ajaku kepada mereka sambil mengambil kunci motor, kemudian aku ajak mereka ke pasar modern di daerahku dan kami belanja bersama di sana. Aku habiskan uangku untuk membahagiakan mereka, kami beli baso bersama, jalan-jalan di taman, main game dan lain-lain sampai sore hari. Aku melakukan ini itung-itung perpisahanku kepada mereka untuk sementara, karena tiga hari lagi aku akan kembali berangkat ke Pesantrenku di Bandung.
          Tiga hari berlalu, di pagi itu aku bersiap-siap untuk berangkat ke Pesantrenku. Ketika aku sudah siap berangkat, terlebih dahulu aku sungkeman kepada Ayah dab Ibuku kemudian Dada dan Dudu. Aku sangat sedih karena akan lama berpisah dengan keluargaku terutama kedua adik angkatku.
          “Bang Ahmed jangan lama-lama ya di bandungnya” kata Dada sambil menangis
          “Iya Bang, kalo Bang Ahmed lama-lama di sana siapa yang main lagi sama Dada dan Dudu” tambah Dudu
          “Bang Ahmed Cuma sebentar kok di bandung, Bang Ahmed pasti pulang cepat ya. Jaga diri kalian, Jangan nakal ya.Patuhi apa kata Ayah dan Ibu.”Serayaku kemudian memeluk mereka dengan cucuran air mata.Kemudian aku berangkat dan melambaikan tangan kepada mereka. Aku melihat dari kejauhan Dada dan Dudu menangis dan langsung memeluk Ibuku.Tahun pelajaran sekarang aku akan lebih lama di Pesantren, jadi wajar saja kalo mereka begitu sedih ditinggalkanku.
***
          Tak terasa sudah 3 bulan aku meninggalkan rumah dan juga melakukan aktifitas belajarku di Pesantren dan SMA. Terkadang aku sering menangis sendiri sebelum tidur karena aku teringat kedua adik angkatku yang tak lain adalah Dada dan Dudu, aku teringat ketika mereka tidur di sampingku dan memeluku, seperti menganggap bahwa aku adalah kaka kandung mereka.
          Keesokan harinya ketika pulang sekolah aku mendapat kabar bahwa Ayah dan Ibuku akan mengunjungiku ke Pesantren. Begitu senangnya aku karena aku sudah rindu pada orang tuaku, tetapi yang di sayangkan adalah Dada dan Dudu tidak bisa ikut, karena Ayahku menggunakan motor dan itu tidak mungkin untuk membawa lebih dari dua orang ke jalan kota. Jadi mau tidak mau Dada dan Dudu di titipkan terlebih dahulu kepada Pak Maman tetangga dekatku.
          Ketika aku menunggu kedatangan orang tuaku tiba-tiba perasaanku tidak enak, tidak tahu kenapa aku teringat Ibuku.Dan akupun membuang perasaan itu dan percaya bahwa orang tuaku tidak mengalami sesuatu yang membahayakan mereka.
          Saat sudah lama aku menunggu di depan gerbang tiba-tiba temanku memanggilku ke kantor, karena ada telpon dari sesorang yang mengaku tetanggaku. Dan akupun berlari ke kantor dan langsung mengambil alih pembicaraan di telpon.
          “Assalamualaikum, ini saya Ahmed ini siapa ya?” salamku kepada dia
          “Waalaikumsalam, Ahmed ini saya Pak Maman” jawabnya, yang ternyata adalah Pak Maman tetanggaku di kampung.
          “Iya Pak ada apa, kok nelpon?”
          “Ahmed sekarang Pak Maman sedang ada di rumah sakit, tadi ada seseorang yang memberi tahu Bapak kalo Ayah sama Ibu kamu kecelakaan di jalan saat hendak mau ke pesantren”
          “Sekarang keadaan mereka bagaimana pak?” tanyaku sambil kaget dan mengangis
          “Sekarang mereka sedang di rawat si UGD dan Bapak belum tahu pasti apa kabarnya dari kedua orangtuamu, sebaiknya sekarang kamu cepat ke sini”
          “Iya pak baik, saya akan segera ke sana” kemudian aku melaporkan kejadian itu kepada salah satu Ustazku dan dia mengantarku untuk ke rumah sakit melihat keadaan orangtuaku.
          Ketika sampai di rumah sakit aku langsung bertemu dengan Pak Maman yang sedang menangis di depan ruang UGD. Dan tiba-tiba perasaanku tidak enak dan aku langsung lari menghampirinya.Dengan tergesa-gesa aku bertanya kepada Pak Maman.
          “Pak Maman gimana sekarang keadaan Ayah dan Ibu.” Tanyaku dan Pak Maman hanya terdiam dan beberapa saat dan kemudian berdiri dan berkata sambil menangis.
          “Ahmed kamu sabar ya, Dokter bilang kedua orang tuamu tidak bisa di selamatkan, karena mereka mengalami kecelakaan yang sangat parah” katanya seraya memegang pundaku
          Ketika itu aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menangis dan memukul-mukul teras rumah sakit.Aku tidak percaya kenapa semua ini bisa terjadi, aku pun merasa bersalah karena mereka mengalami kecelakaan itu karena mau mengunjungiku ke Pesantren.Kemudian Ustazku mendekatiku seraya berkata.
          “Sabar nak, sesungguhnya pasti ada hikmah di balik semua ini, ini adalah cobban bagi kamu sebagai hamba Allah, bersabarlah maka kamu akn beruntung.Di balik semua ini pasti ada sesuatu yang baik untuk kamu beserta keluarga kamu.Kamu berdo’a saja mudah-mudahan amal ibadah orang tuamu di terima di sisi Allah SWT” kemudian beliau membawaku untuk melihat jasad kedua orang tuaku.
          Sesaat pulang kerumah di antar oleh Ustazku, begitu pula kedua jasad orangtuaku yang di bawa ambulan, di depan rumahku sudah banyak sekali bendera kuning dan bunga dari rekan-rekan Ayah dan Ibuku. Ketika aku turun aku langsung menghampiri Dada dan Dudu yang waktu itu sedang menangis di pangkuan Bibi Sri istri Pak Maman. Mereka melihat kedatanganku dan langsung memelukku, mereka tidak menangis karena mereka tidak tahu bahwa Ayah dan Ibu meninggal, mereka hanya tahu Ayah dan Ibu tertidur ketika hendak pergi membeli hadiah dan mereka juga hanya tahu bahwa Ayah dan Ibu pergi ke surga.
          “Bang Ahmed Ayah dan Ibu kemana, kata Bibi Sri Ayah dan Ibu pergi ke Surga duluan” kata Dada
          “Bang kenapa Ayah dan Ibu tidak mengajak Dada dan Dudu dan juga Bang Ahmed ke surga, padahalkan kata Ayah di surga itu enak, ada Baso banyak, pakaian bagus dan game juga banyak.” Tambah Dudu yang terbata-bata dan polos itu.Aku hanya terdiam dan menangis ketika mendengar mereka berkata seperti itu.
          “Bang Ahmed kenapa nangis, kan kata abang juga lelaki yang nangis itu cengeng” lanjut Dada
          “Iya Bang, kok Bang Ahmed nangis. Padahalkan Ayah dan Ibu cuma mau ngambil hadiah ke surga kenapa Bang Ahmed nangis ” Tambah Dudu. Aku hanya mengiyakan saja apa perkataan mereka. Mereka tidak tahu bahwa Ayah dan Ibu tidak akan kembali lagi untuk selamanya.
          Ketika jasad Ayah dan Ibu di bacakan Yasiin, aku duduk persis di samping jasad Ayah dan Ibuku yang sudah di kafani, kedua adikupun duduk di sampingku. Aku tidak bisa percaya semua ini, aku merasa akulah penyebab kecelakaan ini, karena ketika itu mereka sedang di jalan untuk berkunjung ke Pesantrenku. Tiba-tiba anak kecil berbisik ke telingaku.
          “Bang Ahmed kenapa Ayah dan Ibu di tutup kaya pocong di TV, kasian tuh Ibu nanti susah bernafas kalo di tutup idungnya” ternyata Dudu yang berbisik kepadaku
          “Iya Bang kasian itu Ayah dan Ibu” tambah Dada. Kedua adiku yang masih kecil belum tahu apa itu meninggal, apa itu kain kafan, kenapa Ayah dan Ibuku seperti itu. Karena setiap mereka melihat orang yang meninggal Ibuku bilang kepada mereka bahwa yang meninggal itu hendak pergi ke surga.
          Ketika jasad kedua orang tuaku hendak mau di bawa ke pemukiman, aku sengaja menitipkan Dada dan Dudu kepada Bibi Sri di rumah, aku tidak mau mereka mengetahui proses pemakaman kedua orang tuaku, karena aku tahu apabila mereka tahu mereka pasti bertanya-tanya tentang itu dan aku tidak mau membuat mereka mengetahuinya karena mereka masih kecil dan susah untuk mendiamkanya.
          Aku membacakan doa ketika jasad Ayah dan Ibuku di masukan ke dalam liang lahat, dan aku tak kuasa menahan tangisan dan kesedihan dari diriku, karena aku kehilangan kedua orang yang mana mereka telah membesarkanku, mendidiku, mengajarkanku kebaikan dan yang penting adalah mereka memberikan kasih sayang yang tak akan bisa terbalas oleh uang berapapun itu. Orang-orang memberikan rasa duka cita mereka, tak sedikit orang yang memeluku dan menyabarkanku.
          Selesai proses pemakaman akupun pulang dengan perasaan yang tidak ingin meninggalkan makan Ayah dan Ibuku. Rasanya sebagian hidupku telah musnah habis di telan bumi, aku tidak punya siapa-siapa lagi.Tetapi aku ingat, masih ada Dada dan Dudu, kedua adik angkatku yang selalu menghiburku. Aku janji kepada Ayah dan Ibuku untuk menjaga dan merawat kedua adik angkatku dengan penuh rasa kasih sayang laksana kaka kandung mereka. Dan sekarang aku menjadi tulang punggung keluargaku, karena kau tidak punya sodara lagi, dan sekarang tanggung jawab Dada dan Dudu ada di dalam diriku.
***
          Tiga minggu sudah kepergian orang tuaku aku masih suka menyendiri di kamar, terkadang keluar kamar apabila hendak mandi dan solat saja, aku masih teringat kedua orang tuaku.Sedangkan Dada dan Dudu masih aku titpkan sementara kepada keluarga Bibi Sri, mereka begitu baik kepada kami walaupun Bibi Sri memiliki 5 anak yang masih di bawah umur semua.
          Maka sejak itu pula aku sudah resmi keluar dari pesantrenku, karena aku lebih memilih untuk hidup dengan kedua adik angkatku. Perpisahan yang sangat menyedihkan ketika aku pergi meninggalkan teman-temanku di pesantren, tetapi apa boleh buat inilah yang harus aku lakukan demi kedua adiku. Sempat ada salah satu warga di kampungku meminta kedua adik angkatku untuk mereka angkat sebagai anak mereka, tetapi aku tidak mau karena aku sudah memenganggap Dada dan Dudu sebagai adik kandungku.Dan sekarang hanya merekalah jantung hidupku.
Ketika aku sedang melamun seperti biasa di jendela kamar, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku, dan dengan rasa malas aku membuka pintu.Ternyata itu adalah Bibi Sri beserta Dada dan Dudu. Ketika melihatku Dada dan Dudu langsung memeluku dengan tawa kecil,karena mereka senang bertemu lagi denganku setelah beberapa hari aku titipkan di rumah Bibi Sri.
          “Ahmed boleh Bibi berbicara denganmu, sebentar saja” pinta Bibi Sri
          “Iya boleh, Bi” aku mengiyakan sambil duduk di kursi kamarku.Sedangkan Dada dan Dudu terlihat asyik loncat-loncat di kasurku.
          “Ahmed sebelumnya Bibi mau minta maaf sama kamu kalo Bibi menyakiti hatimu. Seperti yang kamu ketahui suami Bibi hanya bekerja sebagai Guru SD yang gajinya bisa di bilang minim, kemudian anak-anak Bibipun banyak dan mereka semua masih kecil-kecil”
          “Terus kenapa Bi?”
          “Kan Dada dan Dudu sudah lama tuh di titipkan di rumah Bibi dan kamu juga sampai sekarang masih suka makan dari Bibi. Dengan permohonan maaf yang paling besar mungkin mulai besok Bibi tidak bisa melakukan itu lagi, karena jangankan membiayai makan anak orang lain anak sendiri aja tidak tau sudah kenyang apa belum, belum dengan biaya keluarga, sekolah dan yang lainya. Jadi Bibi mohon maaf” Kata Bibi Sri sambil memegang pundaku. Dan aku hanya terdiam sambil mengiyakan.
          Setelah itu Bibi Sripun langsung pamit dan menyuruh Dada dan Dudu untuk tinggal bersamaku lagi. Dada dan Dudu begitu senang mendengar bahwa mereka akan tinggal lagi bersamaku. Merekapun berlari dan langsung memeluku.Tetapi ketika itu pula aku bingung bagaimana harus menghidupi kedua adik angkatku. Tetapi dengan senyuman dan kebahagiaan Dada dan Dudu akupun semangat dan akan menebus janjiku kepada kedua orang tuaku untuk menjaga dan merawat Dada dan Dudu.
          “Bang Ahmed kenapa dari kemarin sedih terus?” tanya Dudu
          “Kangen sama Ayah dan Ibu ya, Bang?” tambah Dada. Dan aku hanya terdiam sambil menatap mereka.
          “Bang Ahmed Ayah sama Ibu kenapa belum pulang, kenapa mereka lama di surganya?” tanya kembali Dudu kepadaku
          “Iya Bang, Dada dan Dudu mau ketemu sama Ayah dan Ibu.” Tambah Dada sambil murung
          “Dada sama Dudu jangan khawatir, suatu saat kalian sama Bang Ahmed akan bertemu kembali bersama Ayah dan Ibu, mungkin sekarang Ayah dan Ibu sedang melihat kita bersama di sini. Mereka sekarang sedang bahagia berdua di istana surganya. Jadi Dada dan Dudu tidak usah menghawatirkan Ayah dan Ibu lagi” jawabku sambil menangis meneteskan air mata.
          “Bang Ahmed kenapa nangis?” kata kedua adiku sambil mengusap air mataku.
          “Bang Ahmed sebenarnya kangen sama Ayah dan Ibu, kita berdoa saja ya semoga Ayah dan Ibu bahagia di surga dan kita bisa bertemu bersama mereka di surga nanti” ucapku sambil menangis dan memeluk kedua adiku.
          Tiba-tiba setelah memeluk kedua adiku perasaanku jadi berubah, yang tadinya aku mengeluh tiba-tiba menjadi timbul rasa semangat untuk berkerja menafkahi mereka.Dan dengan rasa itu akupun mengajak Dada dan Dudu untuk bermain, membuang rasa kesedihan dan akhirnya akupun bisa membuang kesedihan itu dan bersemangat kembali untuk mengajarkan ngaji, membaca, menghitung dan yang lainya kepada kedua adiku.
Keesokan harinya dengan modal rumah dan harta waris kedua orang tuaku aku berusaha untuk bisa menjadi tulang punggung kedua adiku. Terutama dengan motor peninggalan Ayahku yang masih bagus, karena ketika beliau masih ada beliau memiliki dua motor. Dengan motor itu aku menjadi tukang ojek dadakan dan Alhamdulillah dengan pertolongan Allah SWT aku menjadi tukang ojek yang di sukai banyak penumpangnya, karena selain hati-hati dalam membawa penumpang akupun suka membersihkan motor beserta diriku. Jadi wajar saja apabila banyak penumpang yang senang denganku. Terkadang penumpangku juga memberikan ongkos lebih kepadaku.
Aku berani putus sekolah demi kedua adiku, karena yang ada di pikiranku adalah bagaimana bisa mendidik kedua adiku, terutama tidak membuat mereka kelaparan, apalagi harus di berikan kepada orang lain. Walaupun menjadi tukang ojek muda, tetapi aku menikmati pekerjaan ini karena aku rasa menjadi tukang ojekpun asalkan halal dan orang lain suka kenapa tidak, selagi aku tidak melupakan Allah SWT dan ibadah yang harus ku jalani.
***
Setelah beberapa bulan menjadi tukang ojek yang terkenal dan paling laku di kampung, akhirnya aku bisa memasukan kedua adik angkatku ke salah satu TK terpadu di daerahku.Setiap pagi aku mengantarkan mereka ke sekolahnya dan kembali menjemputnya di siang hari.Sepulangnya aku mengajak mereka ke warung nasi langgananku, yang pemiliknya itu sangat baik kepadaku.Terkadang aku suka gratis di warung nasi itu, karena aku senang membantu mereka belanja ke pasar.
Selain mendapatkan penghasilan dari ngojek aku juga sering menjadi pendakwah muda di daerahku. Biasanya rutin pada hari jumat dari masjid ke masjid. Dan juga apabila di undang oleh orang yang mempunyai acara nikahan atau sunatan, selain itu akupun aktif di organisasi kepemudaan di daerahku, dari sanalah aku mendapatkan penghasilan untuk menafkahi kedua adiku.
Di pagi hari ketika sedang bersiap-siap mengantar kedua adiku, tiba-tiba datang dua orang suami istri yang terlihat masih muda turun dari mobil mewahnya di depan rumahku. Dan tiba-tiba mereka menghampiriku.
“Assalamualaikum, benar ini rumahnya Pak Amay” sapa mereka daan menanyakan rumah Ayahku
“Waalaikumsalam, iya betul ini rumahnya dan saya adalah putranya, Anda siapa?”
“Terlebih dahulu saya ikut berduka cita atas wafatnya Pak Amay, boleh saya masuk” doa dan pintanya kepadaku
“Oh iya boleh Pak silahkan masuk” kataku seraya membukakan pintu untuk mereka dan menyuruh duduk di ruang tamu, kemudian aku ambilkan air minum untuk mereka.
“Kalau boleh tahu Bapak siapa?” tanyaku
“Perkenalkan saya Hadi adik kandung dari Pak Didi” kemudian tiba-tiba aku merasakan hal yang tidak enak ketika dia mengaku sebagai adik kandung dari Pak Didi yang tak lain adalah orang tua kandung Dada dan Dudu yang sudah meninggal.
“Kemudian apa maksud Bapak dan Ibu datang ke sini?” tanyaku lagi dengan penasaran
“Begini nak, seperti yang kita ketahui bahwa kedua anak dari Kaka kandung saya sudah di adopsi oleh Pak Amay, kemudian sekarang Pak Amay beserta Istrinya sudah meninggal. Jadi demi kebaikan semua saya dan istri saya bermaksud untuk mengambil kedua anak kembar dari kakak saya yang bernama Dada dan Dudu. Karena kami tahu Pak Amay tidak mempunyai lagi keluarga” katanya panjang lebar seraya membuat jantungku bergetar kencang.
“Mohon maaf Pak, rasanya saya tidak bisa memberikan kedua anak kembar itu,karena saya masih bisa mengurus mereka dan merawat mereka dengan baik, lagi pula saya sudah menganggap mereka seperti adik kandung saya sendiri” sahutku
“Tetapi kamu masih kecil nak, lebih baik kamu sekolah dari pada mengurus anak kecil, lagian hak asuh kami lebih besar dari pada kamu”
“Tidak Pak, sampai kapanpun saya tidak akan memberikan kedua adik saya, karena saya lah yang mengasuh mereka sejak kepergian orang tua saya” sanggahku sambil mencucurkan air mata
“Baiklah kalo begitu, saya akan membawa kasus ini ke pengadilan. Karena saya yakin hak asuh saya lebih besar, tunggu saja besok di pengadilan nak”
“Silahkan Pak saya tidak akan pernah takut” kataku kemudian mereka pergi meninggalkan rumahku dan mereka melihat Dada dan Dudu di atas motor yang sudah siap akan berangkat sekolah.
Malam harinya aku memikirkan bagaimana apabila benar mereka membawa kasus ini ke pengadilan. Pastilah aku kalah hak asuh terhadap Dada dan Dudu oleh mereka. Tetapi malam itu aku terus berdoa kepada Allah, sholat tahajud, dan terus memohon agar aku diberikan yang terbaik dan semoga aku masih bisa hidup dengan Dada dan Dudu sampai aku menghembuskan nafas terakhirku.
Keesokan harinya ternyata benar, dua orang yang mengaku dari pihak pengadilan datang dan menjemputku untuk persidangan masalah hak asuh Dada dan Dudu. Akupun berangkat di temani oleh Pak Maman tetanggaku, sementara aku titipkan Dada dan Dudu kepada Bibi Sri. Pak Maman akan berusaha membelaku untuk hak asuh Dada dan Dudu, dan aku berngkat dengan berdoa dan harapan yang baik.
Ketika di tempat persidangan, sidang berjalan dengan penuhnya pembelaan dari Pak Hadi dan juga Aku, Pak Maman yang membelaku sedangkan Pak Hadi di temani pengacara mahal yang bisa saja mengungkapkan pembelaanya dengan tegas. Ketika itu aku hanya bisa mengungkapkan apa yang harus aku ungkapkan dan berdoa, sepenuhnya aku pasrahkan kepada Allah.
Ternyata apa yang aku takutkan terjadi, hak asuh Dada dan Dudu ada di tangan pak Hadi. Aku di berikan waktu 2 hari lagi untuk bisa bersama dengan Dada dan Dudu setelah itu kami akan berpisah dan tidak tahu apakah akan bertemu lagi atau tidak.
Malam harinya di rumah ketika sebelum tidur aku menangis, memikirkan bagaimana kalau aku berpisah dengan Dada dan Dudu. Aku kehilangan dua orang yang begitu aku sayangi dan sekarangpun aku harus kembali kehilangan dua orang yang aku sayangi pula. Tiba-tiba Dada dan Dudu menghampiriku yang sedang menangis.
“Bang Ahmed kenapa nangis?” tanya mereka
“Ngga kenapa-kenapa kok, cuma tadi matanya kena debu dari karpet” jawabku yang berbohong. Kemudian aku melanjutkan pembicaraan
“Dada dan Dudu gimana kalo misalnya suatu saat kalian berpisah sama Bang Ahmed?” tanyaku pada mereka.
“Ngga!!!. Dada dan Dudu tidak mau berpisah sama Bang Ahmed.” Teriak Dada
“Iya, Dada sama Dudu mau terus sama Bang Ahmed selamanya” tambah Dudu.
“tapi bagaimana kalo emang kita harus bepisah?” tanyaku lagi
“Pokoknya ngga mau Dada dan Dudu mau sama Bang Ahmed terus” jawab mereka seraya memeluku. Dan akupun menangis karena sedih, dan aku rasa inilah saat-saat terakhirku bersama mereka.
Hari yang aku takutkanpun datang, tibalah saat dimana aku harus berpisah dengan orang yang aku sayangi. Aku membereskan semua pakainya dan juga barang-barang mereka. Aku hanya bilang kepada mereka bahwa aku melakukan itu agar terlihat rapih, padahal sebenarnya tidak.
Beberapa lama kemudian Pak Hadi dan istrinya datang ditemani dengan pengacara mereka dan mereka langsung datang menuju pintu rumahku. Dan dengan perkataaan yang lemah lembut Pak Hadi meminta kedua sepupunya itu.
“Ahmed, saya mohon maaf. Mungkin sekaranglah saatnya kamu berpisah dengan kedua adik angkatmu. Sebelumnya aku ucapkan terima kasih karena kamu sudah merawat mereka sampai sekarang”
“Pak Hadi saya mohon Pak, saya tidak bisa hidup tanpa mereka, mereka adalah kehidupanku. Saya mohon dengan sangat pak, tolong saya”
“Maaf Ahmed, tapi inilah yang harus saya laukakn demi kebaikan kedua adik angkatmu dan juga kamu” kata dia sambil aku berlutut di depanya agar mereka membiarkan aku hidup dengan Dada dan Dudu.
Tapi memang itu sudah kemauan mereka, aku tidak bisa menawar lagi. Aku hanya bisa menangis dan berdoa kepada Allah semoga apa yang terjadi menjadi berkah bagi aku, Dada dan dudu.
“Dada dan Dudu sekarang ikut sama Pak Hadi ya, Pak hadi mau mengajak kalian bermain ke taman dan membeli baso yang enak” suruhku kepada Dada dan Dudu. Tapi sepertinya mereka sudah tau apa yang akan terjadi.
“Tidak mau, Dada dan Dudu mau sama Bang Ahmed” kata Dudu
“Iya pokonya Dada dan Dudu tidak akan pergi kalo tidak sama Bang Ahmed”tambah Dada
Kemudian Istri Pak Hadi membujuk mereka, dan karena tidak bisa di bujuk akhirnya Istri Pak Hadi membawa mereka dengan paksa ke mobil di bantu dengan pengacara Pak Hadi. Sementara aku hanya bisa terdiam dan mengis di depan pintu rumahku, padahal sebenarnya aku tidak mau melepaskan mereka. Pak hadi hanya menatapku seraya masuk ke dalam mobilnya dan pergi begitu saja. Aku melihat Dada dan Dudu menengok dari kaca mobil sambil menangis dan memukul-mukul kaca mobil.
Setelah berpisahnya aku bersama Dada dan Dudu, aku tidak bersemangat lagi melakukan aktivitasku. Bahkan aku sampai sakit karena memikirkan kedua adik angkatku. Aku hanya bisa menatapi foto-fotoku bersama Dada dan Dudu sambil menangis. Rasanya aku tidak bisa apa-apa lagi, rumah Pak Hadipun aku tidak tahu di mana.
Setelah dua hari berlalu, ketika aku terbaring di atas kasurku karena sakit tiba-tiba terdengar suara mobil yang suaranya halus berhenti di depan rumahku. Aku tidak peduli dengan itu, karena kau kira itu hanyalah mobil yang kebetulan berhenti di depan rumah. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahku dan aku dengar suara teriak anak kecil yang aku rasa jumlah mereka adalah dua orang dan memanggil namaku
“Bang Ahmed, Bang Ahmed, Buka pintu Bang” teriak mereka. Dan aku mengenali suara itu, dan aku yakin itu adalah suara Dada dan Dudu. Akupun bangkit dari kamarku, rasanya rasa sakit itu hilang ketika mendengar teriakan anak kecil itu.
Ternyata benar itu adalah Dada dan Dudu, dan akupun langsung memeluk mereka begitu juga mereka yang memeluku dan akupun menangis karena inilah yang aku mau. Ternyata maksud kedatangan Pak Hadi kerumahku adalah hendak ingin menjemputku dan dia juga akan mengangkatku sebagai sepupu angkatnya, dia juga berjanji akan menyekolahkanku dan aku akan tinggal bersama mereka dan juga Dada dan Dudu.
Aku hanya menangis dan berterimakasih kepada Pak Hadi dan Istrinya, dan aku juga tak lupa bersukur kepada Allah, karena aku yakin semua ini tidak akan terjadi tanpa Takdirnya. Dan akupun berangkat meninggalkan rumahku dan hidup bersama Pak Hadi yang ternyata dia adalah seorang Ustaz pemimpin pesantren besar di daerahnya.
***
Sekarang aku berada di Madinah, aku mendapatkan beasiswa penuh S1 dan S2 di University of Madinah dari kementrian Agama Indonesia. Dan aku baru menyelesaikan Wisudaku dengan Mahasiswa Lulusan Fakultas Bisnis terbaik di Madinah dan aku berhasil memecahkan rekor Mahasiswa pertama yang meraih nilai tertinggi di University of Madinah. Aku bangga sekali dengan apa yang aku dapatkan.
Selain itu akupun menjadi pembisnis muda di Madinah, aku menjadi penjual Baso sukses di Madinah, banyak sekali orang yang menyukainya bukan hanya dari Madinah tetapi orang yang datang dari luar Madinah yang sengaja datang ke Madinah untuk membelu Basoku.
Inilah hasil perjuanganku selama ini, aku bangga dengan apa yang aku dapatkan sekarang. Aku bisa menjadi seperti ini tak lain adalah pertolongan dari Allah SWT, dan juga motivasi yang diberikan Pak Hadi dan juga tidak tertinggal adalah berkat keceriaan dan kasih sayang dari Dada dan Dudu yang sekarang sudah berumur 12 tahun.
Seminggu lagi aku akan pulang ke kampung halamanku di Indonesia dimana itulah tempat yang membuatku sekarang sampai seperti ini. Aku sudah kangen sekali dengan kedua adik angkatku, karena sudah 6 tahun aku tidak pulang ke Indonesia, dan seminggu lagi aku akan bertemu dengan mereka. Dan merekalah Dada dan Dudu sebagai DaDu kehidupanku.  (Rabu 30 Mei 2011, Semboja Kinasih Resort)
-End- 

Tentang Penulis

                               
Share this article :

Posting Komentar

Advertisment

alt anda alt anda alt anda alt anda The Billion Rupiah Homepage alt anda
 
Support : Baktiar Nur Makmura | Hedi M Fauzi | Nahdi Permadi | Aan Anipah | Azka Azizah
Copyright © 2013. Goresan Anak Bangsa - All Rights Reserved
Template Edited by @BMakmura Published by @KangHedi
Proudly powered by Blogger